Mensyukuri Keberhasilan

Gema 17 Maret 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, bila setiap orang Islam memiliki keinginan dan cita-cita, tentu kemudian meniscayakan dilakukannya segala ikhtiar yang dibarengi dengan segenap doa agar keinginan dan cita-citanya dapat tercapai. Ketercapaian keinginan ini merupakan keberhasilan, sehingga kita sering mendengar bahwa jerih payah dan usahanya telah membuahkan hasil.

Ya, saudaraku keberhasilan selalu didambakan dan dinanti-nantikan oleh semua orang. Meskipun tetap masih ada sebagian kecil yang mengalami penundaan keberhasilannya sehingga dituntun untuk lebih serius dan bersabar dalam mengupayakan keberhasilannya di masa datang.

Naik kelas, memperoleh peringkat 10 besar, lulus sekolah, menjadi sarjana, magister, doktor, diangkat sebagai karyawan, PNS atau pejabat, memperoleh keuntungan dalam bisnis, merasa puas dengan karya tulisnya karena dimuat di jurnal terindeks atau terakreditasi dan diapresiasi, berkeluarga sakinah mawaddah warahmah, dianugrahi anak, sawah ladang atau usahannya produktif, tangkapan ikannya melimpah, amal ibadahnya bertambah-tambah, kesalihannya meluas, kepribadiaannya semakin bagus dan seterusnya adalah contoh-contoh keberhasilan yang lazim dialami oleh banyak orang di antara kita.

Oleh karenanya, layak bagi kita mengingat kembali tentang bagaimana mensyukuri keberhasilan, mensyukuri kesuksesan.

Pertama, kita harus meyakini sepenuh hati bahwa keberhasilan yang diraih adalah karunia Allah menurut jalannya. Jalannya sering berliku, menanjak juga terkadang tersendat.

Kedua, melafalkan rasa syukur dengan mengucapkan alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih Tuhan, dan juga membiasakan sujud syukur bersimpuh ke haribaan Allah Swt.

Ketiga, mengusahakan keberhasilan berikutnya. Allah berfirman faidza faraghta fanshab, wa ila rabbika farghab, maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (Qs. Al-Insyirah: 7)

Setelah berhasil menyelesaikan satu pekerjaan, maka etikanya kita dituntun untuk melakukan pekerjaan atau urusan kemaslahatan lainnya. Setelah berhasil menyelesaikan studi di satu sekolah atau dayah, maka etikanya kita dituntun untuk melanjutkan ke sekokah atau dayah setingkat di atasnya. Setelah lulus SD/MI lalu mendaftar masuk SPM/MTs. Lalu ke SMA/MA, S1, S2, S3. Setelah sarjana, lalu berpikir dan berusaha bagaimana bisa mendapatkan kerja atau malah bisa menciptakan lapangan kerja, atau bagi yang sudah bekerja bagaimana dapat bekerja lebih berkualitas dan seterusnya.

Bila keberhasilan disusul dengan berusaha melakukan kegiatan atau urusan lainnya, maka keberhasilan demi keberhasilan akan susul menyusul dan seterusnya; kesuksesan akan disusul dengan kesuksesan berikutnya; kebahagiaan akan disusul dengen kebahagiaan berikutnya. Inilah karunia yang dijanjikan oleh Allah ketika keberhadilan itu disyukuri.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!