Mensyukuri Keberkahan Ilmu

Gema, 03 Juli 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 19 Syawal 1439

Saudaraku, iman dapat terpatri semakin kukuh ketika bersinergi atau disenergikan dengan penguasaan ilmu dan amal shalih. Jadi iman, ilmu, dan amal merupakan tiga komponen yang terjalin berkelindan saling menguatkan. Oleh karenanya dalam kesempatan ini kita berkepentingan untuk nengulangkaji tentang sikap mensyukuri keberkahan ilmu.

Ilmu dalam Islam bersumber dan berasal dari Allah Yang Maha Mengetahui. Oleh karenanya penguasaan ilmu dapat menjadi wasilah yang bersangkutan pada kedekatannya hanya pada Allah. Inilah kira-kira di antara yang dimaksudkan oleh Allah dalam firmanNya, sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Fathir 28)

Hasil pembacaan kritis para pakar, ilmu atau ‘ilm dengan beragam variasi jadiannya dalam Al-Qur`an, disebut sebanyak 744 dengan perincian sebagai berikut; ‘alima: 35 kali, ya`lamu 215 kali, i`lam 31 kali, yuklamu 1 kali, `ilm 105 kali, `alim 18 kali, ma`lum 13 kali, `alamin 73 kali, `alam 3 kali, a`lam 449 kali, `alim atau `ulama: 163 kali, ‘allam: 4 kali, allama: 12 kali, yu`allimu 16 kali, `ullima 93 kali, mu`allam 1 kali, dan ta`allama: 2 kali. Jadi secara spesifik term ‘ilm disebut sebanyak 105 kali, lebih banyak dari penyebutan kata (din: agama, keyakinan) yang sebanyak 103 kali.

Dari beragam kata jadian tersebut, melahirkan berbagai pengertian seperti mengetahui, pengetahuan, orang yang berpengetahuan, yang tahu, terpelajar, paling mengetahui, memahami, mengetahui segala sesuatu, lebih tahu, sangat mengetahui, cerdik, mengajar, belajar (studi), orang yang menerima pelajaran atau diajari, mempelajari. Dari kata tersebut juga muncul pengertian-pengertian lain seperti tanda, alamat, tanda batas, tanda peringatan, segala kejadian alam (dunia), segala yang ada, dan segala yang dapat diketahui.

Semua maksud yang terkandung dalam term ‘ilm idealnya dapat mengantarkan kepada pemiliknya sejatinya, yaitu Allah ta’ala.

Dalam diskursus epistemologis, karena Allah menciptakan alam baik alam besar (makro kosmos, jagad raya) maupun alam kecil (mikro kosmos, manusia) serta menurunkan wahyu (Qur’an Hadis), maka ada ilmu yang dapat diperoleh ketika mentadaburi alam (yang sering disebut ilmu akliah) dan ada ilmu yang diperoleh melalui pembacaan kreatif atas wahyu (yang kemudian cenderung melahirkan ilmu naqliah). Baik ilmu akliah maupun naqliah, merupakan sarana yang dapat menyampaikan kita pada sumber hakikinya, yaitu Allah swt.

Oleh karenanya, dalam perspektif Islam, Allah adalah Causa Prima, sumber dari segala sumber. Maka dapat dipastikan bahwa ilmu itu bersumber dari Allah. Nah setelah alam (baik mikro kosmos maupun makro kosmos) dibentangkan dan wahyu diturunkan, maka manusia pun dapat memperoleh ilmu dari keduanya. Baik yang dibentangkan maupun yang diturunkan merupakan tanda-tanda atau ayat.-ayat Allah dengan segala keagungannya. Dari sinilah agaknya kemudian muncul istilah ayat kauniyah yang melahirkan ilmu akliah dan ayat qauliyah yang melahirkan ilmu naqliah.

Alam atau kosmos sebagai ayat kauniyah layaknya diamati dan diteliti sampai ditemukan kebenaran rasionalitasnya, makanya kemudian dari sini muncul istilah klasifikasi ilmu-ilmu akliah. Ilmu yang lahir dari pengamatan, ujicoba dan riset.

Wahyu sebagai ayat qauliyah layaknya diyakini dan dipedomani dengan mengedepankan religiusitas keimanan, makanya kemudian muncul klasifikasi ilmu-ilmu naqliyah. Ilmu yang lahir dari intuitif sikap religiusitas imannya, meskipun tetap tidak menafikan peran akal.

Dari klasifikasi ilmu tersebut, kini kita lebih mensyukuri mengapa Allah membekali manusia dengan piranti pancaindera, akal dan hati sehingga memungkinkan bagi dirinya untuk memperoleh percikan ilmu dan hikmahNya. Dengan ilmu dapat semakin mendekatkan dirinya (takut) pada Allah, sehingga iman terus dapat diperkukuh. Perwujudannya pada amal shalih.

Oleh karenanya sudah selayaknya kita mengembangkan akhlak mensyukuri keberkahan ilmu.

Pertama, meyakini srpenuh hati bahwa ilmu berasal dari Allah, maka penguasaan terhadap ilmu dapat melahurkan kedekatan (takwa) pada Allah. Dari sini kita memahami bahwa semakin berilmu akan semakin baik, taat, takwa, dan bahagia. Sebaliknya ketidaktaatan, kejahatan, kesengsaraan, kekafiran hanya melekat pada orang-orang yang jahil (bofoh) saja.

Kedua, mensyukuri keberkahan ilmu dengan memperbanyak melafalkan alhamdulillahirabbil ‘alamin. Betapa tidak, dengan keberkahan ilmu dapat meningkatkan iman dan takwa, yang dengannya kita memperoleh kebahagiaan.

Ketiga, mensyukuri keberkahan ilmu dengan tindakan nyata. Di antaranya dengan terus belajar sembari mengamalkan nilai etikanya dalam kehidupan sehari-hari. Penguasaan terhadap ilmu justru membuktikan bahwa diri kita maha kecil di hamparan lautan ilmuNya Allah, baik yang dibentangkan dalam alam maupun yang dinukilkan dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi. Oleh karenanya orang cerdas tidak sombong dan takabur, justru rendah hati ibarat padi yang semskin berisi semakin tunduk pada Ilahi.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!