Mensyukuri Keluarga

Gema, 12 Maret 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, di samping harta dan tahta, setidaknya masih ada satu lagi yang sangat krusial menyita perhatian banyak manusia yaitu pesona wanita atau pesona pria dan pesona anggota keluarga lainnya.

Pesona wanita bagi pria, pesona pria bagi wanita, pesona anak bagi orangtua, dan pesona keluarga di mata anggota batihnya begitu mensejarah, sehingga banyak di antara manusia yang mendapatkan kemaslahatan dan kedamaian hidup bersamanya, yaitu ketika disinari oleh keridhaan Rabbnya. Tetapi juga sebaliknya, ternyata juga tidak sedikit yang karenanya, hidupnya menjadi hancur, tersungkur dan terjerembab ke lembah yang hina dina, apalagi ketika nafsu dan setan yang menjadi panutannya.

Oleh karenanya, layak bagi kita untuk mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri keluarga.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa orangtua atau ayah dan ibu kita, pasangan hidup atau jodoh kita baik istri ataupun suami, anak-anak kita adalah orang-orang terbaik dan pribadi-pribadi pilihan yang sengaja dikirim oleh Allah atas masing-masing kita. Mereka semua pahalawan dan ladang amal yang satu untuk lainnya. Semua anggota keluarga ini idealnya saling asih asah asuh untuk meraih bahagia di dunia bersama-sama, kehidupan di surga bersama-sama.

Seandainya ada di antara mereka yang belum mendapat hidayah dan belum seperti yang didambakan oleh keluarga, maka doa-doa dalam shalat dhuha dan tahajud anggota keluarga lainnya yang disertai upaya insani sebaiknya dilakukan tanpa henti.

Kedua, memperbanyak lisan dengan bersyukur. Alhamdulillah masih diberi kesempatan melayani dan takdhim ke ayah dan ibu atau salah satu dari keduanya. Alhamdulillah dianugrahi jodoh (jodoh biasanya serasi seiya sekata dalam menggapai ridha Allah) bukan sekedar bojo atau istri/suami. Alhamdulilah dikaruniai anak-anak yang dengan kehadirannya menjadikan suasana keluarga ceria dalam mendukung ketaatan kepada Rabbnya. Alhamdulillah dikaruniai abang, kakak, adik, dan keluarga besar yang sama-sama dalam cinta dan cinta kepada Allah ta’ala.

Ketiga, saling asih asah dan asuh dalam mendukung ketataan dan ketakwaan pada Rabbnya. Masing-masing anggota keluarga memiliki hak, kewajiban, peran dan tanggungjawab yang bisa jadi berbeda-beda, namun semuanya harus bersinergi untuk meraih bahagia bersama di bawah keridhaan Allah ta’ala.

Oleh karenanya, tidak etis bila ada pelakuan diskriminatif terhadap salah satu atau beberapa orang dari anggota keluarga yang ada. Semuanya harus saling bahu membahu, membantu mewujudkan cita cinta bersama. Berkumpul bersama keluarga bahagia di dunia, dan bisa bersama berkumpul dengan keluarga meraih surga di akhirat nantinya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!