Mensyukuri Kemerdekaan

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah Dhuha 17 Agustus 2018

Saudaraku, kemerdekaan adalah rahmat Allah Ta’ala yang sangat besar atas bangsa ini yang layak disyukuri. 73 tahun sudah bangsa ini merdeka dalam makna terbebas dari belenggu (penjajahan Belanda dan Jepang sebagai bangsa) asing yang destruktif dan despostif. Semoga bukan saja sebatas pada kemerdekaan teritorial dan politik formal semata, tetapi juga merdeka dalam segala makna substansialnya.

Ya tidak ada tawar menawar dalam kenerdekaan substantif tersebut, kita mesti merdeka setidaknya dalam mengelola dan memanfaatkan Sumber Daya Alam-Sumber Daya Manusia kita, juga merdeka dalam menentukan arah pembangunan dan peradaban keadiluhungan bangsa, merdeka dalam membangun sisi politik-hukum-ekonomi-pendidikan dan sosialbudaya bangsa. Meski semua kemerdekaan substansial ini masih dapat kita diskusikan derajat dan kesahihannya, namun yang pasti masih terus diperlukan turutsertanya semua kita berkontribusi untuk merealisasikannya.

Penomena SDA kita yang masih dikelola oleh bangsa asing, SDM kita – seperti TKI TKW – yang dibayar murah saat bekerja, sektor perekonomian pendidikan dan hukum di negeri kita yang masih disusupi atau bahkan diintervensi, merebaknya budaya asing yang mulai menggeser budaya bangsa sendiri, semoga menjadi dinamika sejarah saja – kenangan pahit masa silam – yang kini menjadi ibrah dan mendatang pasti berubah ke arah yang lebih mandiri dan berkeadaban.

Sekali lagi maya ulangi bahwa makna merdeka adalah mandiri dan terbebas dari dominasi-intervensi asing yang destruktif (merusak) dan despostif (mengekang).

Dalam konteks personal, bila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita sudah merdeka 73 tahun lamanya, lalu bagaimana dalam kehidupan spiritual keberagamaan kita? Sudahkah merdeka? Karena musuh-musuh kita terutama setan dan hawa nafsu bisa jadi sudah menjajah atau sedang berusaha menguasai diri kita.

Betapa banyak di antara kita yang sudah berhasil memerdekakan jiwanya dari intervensi setan dan nafsu yang ingin merusak dan mengekangnya, sehingga perilakunyapun selalu mengikuti kata hati nuraninya; rezeki, ilmu dan hidupnya berkah memberkahi. Inilah pribadi yang kehadirannya dinanti-nanti, figur yang perilakunya dapat diteladani, sosok yang kepergiannya dikenang, sampai matinya pun ditangisi.

Menjadi pribadi yang merdeka tentu diperlukan jihad atau bahkan pengorbanan yang bisa jadi panjang sebagaimana halnya perjuangan menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat.

Banyaknya cerita tentang pribadi-pribadi kalah dan yang terjajah, biarlah menjadi agenda utama bangsa ini untuk segera berbenah mengatasi lemahnya benteng pertahanan diri, utamanya sisi pendidikan kita.

Oleh karenanya siludah selayaknya kita mengembangkan akhlak dalam mensyukuri kemerdekaan, baik sebagsi warga bangsa maupun sebagai pribadi atas religiusitas kita.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa Allah menghendaki umatNya memperoleh dan merasakan kemerdekaan sebagaimana ia dilahirkan ke dunia ini.

Kedua, mensyukuri kemerdekaan dengan memperbanyak sikap syukur seraya melafalkan alhamdulillahirabbil ‘alamin Allah telah menganugrahi kemerdekaan kepada bangsa kita sehingga bermartabat di antara bangsa-bangsa yang ada di dunia.

Ketiga, mensyukuri kemerdekaan dengan perbuatan nyata seperti turut serta dalam pembangunan bangsa dalam arti yang seluas-luasnya. Di samping itu dalam sikap religiusitas, kita harus benar-benar mandiri terbebas dari godaan setan dan hawa nafsu yang destruktif dan despostif.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!