Mensyukuri Kepemimpinan

Gema, 18 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 2 Syakban 1439

Saudaraku, sudah menjadi kesadaran komunal bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri, tetapi memerlukan orang lain yang harus saling membantu. Oleh karenanya, mengapa, kemudian disebut sebagai makhluk sosial juga makhluk komunal. Dalam kehidupan sosial inilah, dihajadkannya seorang pimpinan. Malah Nabi Muhammad saw mengingatkan melalui sabdanya, Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang diantara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Dari nornativitas di atas, dimengerti bahwa pemimpin dan kepemimpinan menjadi sangat penting dalam Islam. Bahkan tentang pemimpin dan kepemimpinan juga berwujud dalam praktik beribadah mahdhah seperti dalam pelaksanaan shalat berjamaah, dimana perlunya imam atas makmumnya. Demikian juga pada ranah sosial kemasyarakatan dan keumatan. Adalah penting memperhatikan adanya pemimpin dan kepemimpinan umat Islam baik dalam keluarga, masyarakat, maupun negara.

Dalam sejarah sosial kemasyarakatan yang lebih luas, Islam menampilkan pola kepemimpinan nubuwah, kekhalifahan, keimaman dan kerajaan.

Periode nubuwah terjadi pada masa risalah dimulai dari bi’tsah Nabi Muhammad saw tahun 610 – 632 M wafatnya nabi. Kemudian betsambung periode kekhalifahan pada masa khulafa al-Rasyidun 632 – 661 M. Bersambung dengan periode mulk atau kerajaan pada masa kepemimpinan Bani Umayah 661 – 750 M, Bani Abbas 750 – 1258M. Dan seterusnya. Disamping itu, firqoh syiah menerapkan pola imamah untuk kepemimpinannya.

Dalam perkembangannya kemudian, masing-masing umat Islam menyesuaikan dan mengikuti kepemimpinan di wilayah dan negara mana mereka tinggal.

Oleh karena itu akan dibahas akhlak terhadap pemimpin atau atasan dan akhlak pemimpin terhadap yang dipimpinnya.

Diantara akhlak kepada pemimpin atau atasan adalah.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa pemimpin dan yang dipimpin merupakan keniscayaan hidup, baik dalam beragama maupun berorganisasi bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Kedua, bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah mendapati dan dipimpin oleh orang yang profesional, capable, credible dan acceptable.

Ketiga, mentaati pemimpin sebagaimana menunjukkan ketaatannya pada Allah dan rasulNya. Allah mewanti-wanti kita dalam firmanNya, Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulilamri (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59).

Keempat, kontributif dengan terus mendukung program-program kemaslahatan yang ditetapkannya.

Kelima, mendoakan kebaikan atas pemimpin atau atasan kita.

Adapun akhlak pemimpin kepada orang yang dipimpinnya diataranya.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa menjadi pemimpin merupakan amanah yang harus ditunaikan sesuai peruntukannya.

Kedua, bersyukur dengan memperbanyak ucapan syukur alhamdulillah dianugrahi amanah untuk menjadi seorang pimpinan atau atasan.

Ketiga, menjadi suri teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Keteladanan harus dikukuhkan dalam bertutur kata, berpakaian dan berperilaki praksis dalam seluruh aspek kehidupannya.

Keempat, setia melayani orang-orang yang dipimpinnya dengan terus berusaha mendengarkan aspirasi, keinginan, dan sarannya.

Kelima, memperbanyak taqarub ilallah dan berdoa untuk kebaikan dan kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!