Mensyukuri Kesetaraan Gender

Gema, 21 April 2018

Saudaraku, melalui peringatan hari Kartini 21 April hari ini kita bangsa Indonesia diingatkan kembali tentang pemikiran dan gerakan yang juga telah muncul diawal era modernisasi di dunia Islam, yaitu tahrirul mar’ah.

Di Indonesia pemikiran dan gerakan ini dikenal dengan emansipasi wanita atau pengarusutamaan gender. Tokoh-tokoh seperti RA Kartini, Malahayati, Cut Mutia, Tgk. Fakinah, Dewi Sartika atau para Sultanah Kerajaan Aceh abad ke-18 sebelumnya Safiatuddin, Naqiatuddin, Zakiatuddin, Zainatuddin Kamalatsyah merupakan bukti historis yang mengegemoni betapa kaum perempuan berhasil sukses berperan di pentas sejarah peradaban manusia.

Oleh karena itu penting bagi kita mengembangkan akhlak mensyukuri gerakan tahrirul mar’ah.

Dalam sejarah Islam, tahrirul mar’ah tidak sebatas gagasan tetapi sebagai gerakan yang dilakukan oleh para salafus salih para pembaharu setelah periode awal Islam yang dicontohkan Rasulullah saw. Betapa dimuliakannya seorang ibu, seorang perempuan di dalam Islam.

Di era modern, kita mengenal Tahtawi, Qasim Amin, Muhammad Abduh dan pembaharu lainnya yang juga mengusung ide tahrirul mar’ah atau semacamnya.

Bagaimana mungkin setengah penduduk dari suatu bangsa tidak memperoleh hak kewajiban dan kebebasannya. Di antaranya hak mengembangkan diri, hak memperoleh penghargaan, hak mendapatkan pendidikan dan hak-hak lainnya yang melekat pada dirinya. Karena bila ini terjadi, maka akan menjadi salah satu penyebab penting akan kemunduran Islam atau kemubduran suatu bangsa.

Oleh karena itu pentjng bagi kita mengembangkan akhlak mensyukuri gerakan tahrirul mar’ah.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa perempuan sebagaimana laki-laki berasal dari asal dan jenis yang sama serta ciptakan oleh Allah untuk saling melengkapi dalam mengemban peran kekhalifahan di bumi dan peran pengabdian hanya kepadaNya semata.

Kedua, bersyukur dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillah

Ketiga, saling menghormati dan tidak saling merendahkan. Perbedaan jenis kelamin sebagaimana perbedaan suku bangsa adalah sunnatullah, ketentuan Allah yang di antaranya dimaksudkan agar saling mengenal dan bekerjasama satu dengan lainnya sehingga kehidupan dapat berjalan lebih sempurna. Tinggo rendahnya kemuliaan manusia bukan terletak pada jenis, warna kulit, atau asal suku bangsa, tetapi pada takwa di hatinya.

Keempat, dengan pengarusutamaan gender tidak kemudian memaksakan diri berbuat hal-hal yang menyalahi kodrat kemanusiaannya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!