Mensyukuri Meugang

Gema, 15 Mei 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, judul ini meskipun cenderung lokal wisdom, yakni tradisi sambut puasa bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha di Aceh atau pada masyarakat Aceh di manapun berada, namun mengandung nilai religiusitas yang sangat mulia.

Meugang sambut puasa Ramadhan akan segera terasa. Secara syar’i, tanda-tanda akan datang dan masuknya bulan Ramadhan, dapat diketahui melalui hisab dan rukyat, tetapi secara sosial ekonomi kultural religius jauh-jauh hari jelang Ramadhan juga sudah dapat diketahui dengan merasakan beberapa fenonena dan cara.

Pertama, fenomena umum adanya kejar tayang terhadap banyak aktivitas. Hal ini dapat diperhatikan pada gelagat dan geliat masyarakat muslim yang kian padat, sibuk dan menyibukkan. Hampir sebagian besar kegiatan mengalami kejar tayang jangan sampai melampaui hari-hari meugang puasa. Kegiatan belajar mengajar di institusi pendidikan, seperti di sekokah dan kampus suasana akademik menjadi padat merayap.

Kedua, karena kepentingan untuk stok Ramadhan dan hari raya, maka menyebabkan terjadinya kenaikan harga-harga. Kegiatan jual beli di berbagai pasar tradisional, swalayan, supermarket, mall juga penuh sesak berjubel bertransaksi antarsesama. Sehingga dengan permintaan yang melampaui dari stok barang sering menyebabkan kenaikan harga-harga komoditi tertentu.

Ketiga, meningkatnya arus lalu lintas pulang ke kampung halaman yang sebisanya dapat merayakan meugang puasa bersama dengan keluarga di rumah. Lihatlah betapa ramainya antrian di loket-loket penjualan tiket dan travel, baik darat maupun udara.

Keempat, ramainya pengunjung di tempat-tempat pemandian seperti di kolam renang, pemandian, pantai-pantai tertentu yang notabene ingin mandi bersuci jelang Ramadhan, apalagi pada hari-hari libur terakhir bulan Syakban ini.

Kelima, bagi para imam, dai dan penceramah biasanya dihubungi ditelpon dan disms oleh takmir masjid atau mushalla untuk meminta jadwal menjadi imam atau memberi tausiyah pada jamaah, baik ceramah terawih, bakda subuh maupun ceramah bakda dhuhur.

Keenam, ramainya para peziarah di kuburan-kuburan di samping untuk bersih-bersih lingkungan makam dan sekitarnya juga ziarah kubur jalin silaturahim kepada keluarga dan mendoakan keluarga yang sudah berpulang dipanggil oleh Allah ke haribaanNya.

Ketujuh, hampir sudah dapat dipastikan bahwa makmeugang dilakukan oleh semua keluarga di Aceh atau masyrakat Aceh di manapun berada.

Oleh karenanya layak bagi kita untuk mengembangkan akhlak mensyukuri tradisi makmeugang.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa makmeugang adalah tradisi yang diwariskan secara turun temurun, sebagai instrumen untuk bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang dianugrahkan, sehingga layak dirayakan dengan menyembelih atau membeli dan memasak daging meugang serta menikmatinya bersama keluarga dan anak-anak yatim piatu.

Kedua, bersyukur dengan memperbanyak ucapan alhamdulillahi rabbil ‘alamin dimana kita masih diberi kesempatan untuk merasskan meugang bersama keluarga dan bersama orang-orang yang kita cintai lainnya.

Ketiga, meluruskan niat bahwa makmeugang merupakan instrumen dalam mensyukuri karunia Allah. Dengan kata lain makmeugang bukan tujuan, tetapi salah satu cara yang dilakukan untuk mensyukuri banyaknya karunia yang telah Allah turunkan.

Keempat, bersahaja dalam makmeugang dan tidak berlaku israf atau berlebih-lebihan. Dalam penyediaan daging dan makanan, memang saat makmeugang berbeda dengan hari-hari sebelum atau sesudahnya, karena relatif banyak, namun ajaran kebersahajaan dalam berbelanja atau mengonsumsinya tetap merupakan kemuliaan bagi pelakunya.

Kelima, membiasakan berbagi kebahagiaan dengan mengajak serta makan bersama atau membagi-bagikannya, bukan hanya kepada keluarga sendiri, tetapi juga kepada keluarga fakir miskin dan anak yatim piatu lainnya.

Keenam,, berniat karrna Allah seraya membaca basmalah sejak akan memotong hewan meugang, belanja, memasak, dan sampai saat menikmatinya. Dan mensyukurinya dengan lafald alhamdulillahirabbil ‘alamin saat menyelesaikannya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!