Mensyukuri Nuzul al-Qur’an

Gema, 02 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 17 Ramadhan 1439

Saudaraku, bila mengikuti kalender hijriah, maka tepat 1452 yang silam (tepatnya pada 17 Ramadhan 12SH) Muhammad al-Amin yang kala itu bermeditasi atau melakukan uzlah di Gua Hira menerima wahyu pertama surat al-Alaq 1-5 mengawali serangkaian kerisalahannya yang berlangsung selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Peristiwa turunnya wahyu pertama ini oleh sejarah Islam dikenal dengan Nuzul al-Qur’an.

Saudaraku, diceritakan pada saat rangkaian hari-hari berkhalwat pada bulan suci Ramadhan 1452 tahun lalu, di Gua Hira yang relatif suci dari hingar bingar kehidupan jahiliah di Arab, hati Muhammad al-Amin telah khusyuk tawadhuk sehingga sampai di maqam kekhudusannya, maka datanglah Jibril malaikat ruhul khudus yang suci menyampaikan wahyu al-Qur’an sebagai rangkaian turunnya kitab suci dari Allah zat Yang Maha Suci.

Saudaraku, coba perhatikanlah seputar persiapan atau kondisioning menjemput wahyu yang dilakukan oleh Muhammad al-Amin dan turunnya al-Quran pada malam 17 Ramadhan 12 SH.

Untuk memperoleh wahyu al-Qur’an (baca juga segala sesuatu yang sangat menentukan bagi kebahagiaan manusia) sebagai kalamullah yang suci, yang berasal dari Allah yang Maha Suci, dan dibawa dan disampaikan oleh malaikat Jibril yang suci pada Bulan Suci Ramadhan di Gura Hira yang Suci dari kesyirikan jahiliyah, Muhammad al-Amin telah melakukan serangkaian usaha berkhalwat dalam rangka mensucikan diri mencari solusi, sehingga menuai hasilnya saat hatinya sampai maqam kesuciannya

Oleh karena sudah seharusnya kita mengembangkan rasa syukur atas diturunkanNya al-Qur’an kepada manusia melalui Nabi Muhamnad saw.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa untuk memperoleh segala sesuatu yang suci dan mulia (cita-cita, cinta, kehormatan, kemuliaan harus didasari dengan niat ikhlas, hati yang suci dari segala noda dan dosa, usaha serius, di lingkungan yang kondusif, dengan memanfaatkan waktu-waktu terbaik yang tersedia.

Oleh karenanya untuk menjadi mulia, sekarang, teruslah menjadi orang-orang yang baik dan berhati suci atau setidaknya terus berproses menjadi orang baik dan mensucikan hati, agar kesuksesan dan kebahagian bertambah-tambah tercurah hingga sempurna suatu saat kelak. Aamiin

Kedua, memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabil ‘alamin, Allah telah menurunkan al-Qur’an ke dunia ini secara umum dan menurunkan al-Qur”an ke hati setiap hamba pilihanNya. Sudah seberapa al-Qur’an mewarnai kehidupan kita sebegitulah kenyataannya kesejatian kita.

Ketiga, mensyukuri turunnya al-Qur’an dengan langkah konkret, seperti mendahulukan, menjadikan imam dalam kehidupan dan menambah durasi tilawah al-Qur’an.

Menambah durasi tilawah seringkali dihadapkan pada kesibukan duniawiyah yang ada. Oleh karenanya sikap ini mungkin terasa sulit dan paradok dengan kesibukan manusia yang ada. Tetapi yakinlah bahwa pekerjaan, tugas dan masalah yang semakin banyak justru akan dimudahkan oleh Allah dalam menyekesaikannya ketika dengan memperbayak dan mempersering tilawah al-Qur’an. Jadi kalau tugasnya lebih banyak, dan masalah hidup lebih berat, maka tambahilah tilawah al-Qur’an. Insyallah dimudahkan.

Secara lahiriyah menambah tilawah al-Qur^an akan menambah durasi waktu yang dibutuhkan, namun kita harus ingat bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Mengatur. Artinya Allah yang mengatur segalanya, mengatur aktivitas kita, memberi kekuatan kepada kita, mengatur mempertemukan kita pada para pihak yang berkepentingan, memudahkan segala urusan kita dan seterusnya. Intinya ada saja jalannya. Dengan denikian semakin memperbanyak tilawah al-Qur’an akan lebih mendekatkan kita pada Zat Yang Maha Pengatur.

Ketika tilawah al-Qur’an semakin banyak dan sering, maka urusan kita dimudahkan Allah dan sesamanya, tidak terjebak macet saat di perjalanan, selalu giliran lampu hijau pada perempatan jalan, tidak harus antri panjang saat berurusan, bertemu dan menyelesaikan urusan dengan para pihak dengan cepat, dan seterusnya. Wal hasil segalanya lancar dan dimudahkan, sehingga berapa banyakbya tugas akan dapat diselesaikan pada saatnya.

Adapun akhlak membaca al-Qur’an menurut para ulama dapat diringkaskan sebagai berikut.

Pertama, meluruskan niat hanya karena Allah semata, bukan karena yang lain. Bila membaca dengan niat karena yang lain misalnya agar mendapatkan solusi atas masalah yang dihadapi atau agar tercapai cita-citanya, maka bisa jadi akan dikabulkan, tetapi tidak akan dinilai ikhlas, dinilai karena memiliki maksud atau tujuan tertentu. Tetapi kalau berniat ikhlas, maka akan memperoleh ridha Allah dan terkabul apapun yang cita-citakan.

Kedua, bersuci dan berpenampilan sopan. Al-Qur’an itu kitab suci dan pedoman hidup manusia, maka saat mau menyentuh apalagi membacanya harus dalam keadaan suci, berpenampikan sopan dan menutup aurat. Di samping itu saat membacanya diusahakan menghadap ke kiblat dan mengambil tempat yang bersih indah dan rapi.

Ketiga, setelah duduk atau menempati tempat yang lazim, maka memulai membaca Al-Qur’an dengan membaca ta’awudz. Bacaan ta’awudz menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah “a’udzu billahi minasy syaithonir rajiim”. Membaca ta’awudz ini dihukumi sunnah, bukan wajib. Perintah untuk membaca ta’awudz di sini disebutkan dalam ayat “Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

Setelah membaca ta’awud, kemudian membaca “bismillahir rahmanir rahim” di setiap awal surat selain surat Bara’ah (surat At-Taubah).

Keempat, menunjukkan ketakdhiman pada al-Qur’an, berusaha mengambil pelajarannya, mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan.

Kelima, menempatkan mushaf al- Qur’an di tempat yang mulia seusai membacanya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!