Mensyukuri Pranata Nikah

 

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, diantara keniscayaan bagi manusia, atau bahkan makhluk ciptaan Allah adalah diciptakannya berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan ada perempuan, siang dan malam, pagi dan sore, suka dan duka, senang dan sedih, gelap dan terang, tebal dan tipis, intern dan ekstern, langit dan bumi, panas dan dingin, dan seterusnya.

Karena diciptakan perpasangan, maka salah satu bagian dari kefitrahan yang dibawa manusia adalah saling mendambakan dan mencintainya; seorang laki-laki cenderung pada perempuan, dan perempuan menyukai laki-laki. Disinilah diantaranya kita memahami betapa pentingnya Islam mensyariatkannya pranata nikah dalam kehidupan berperadaban yang adi luhung. Disamping itu mengapa penting?

Diantaranya, karena disamping demi memelihara kemaslahatan jiwa, agama, kejernihan akal, harta benda, dan kehormatan, Islam melalui lembaga pernikahan juga sangat serius dalam usaha memelihara kemaslahatan keturunan (nasl) dan tali kekerabatan. Lima prinsip dasar pensyariatan hukum (maqashid syari’ah) ini, bahkan menjadi tema bahasan sangat penting dari zaman ke zaman. Jadi dengan pranata nikah, maka kesucian diri juga keluarga dan kejelasan keturunannya dapat dikukuhkan sepanjang zaman.

Oleh karenanya apapun itu, aktivitas atau hubungan kontra maqashid syari’ah menjadi tidak relevan dan harus dihindari. Dalam konteks pernikahan ini, Islam melarang umatnya melakukan perbuatan yang mematikan fitrah berketurunan yang hanya bisa dilakukan dengan berkeluarga dan melarang menjalin hubungan liar (baca juga, pacaran) sebelum pernikahan, atau nantinya mengganggu kesucian pranata nikah dengan perbuatan yang menciderainya, seperti fenomena menghadirkan pil alias pria idaman lain, atau wil wanita idaman lain dalam kehidupan berumah tangga.

Dalam ragam pesan tausiyah yang disampaikan oleh para pihak yang berkompeten dalam kutbah nikah, sering diingatkan diantaranya tentang komitmen pasangan pengantin untuk terus membina keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah dengan tetap mengedepankan sikap saling asih, asah dan asuh antarkeduanya. Ijab qabul kemudian menjadi membuka hubungan suami istri antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sebelumnya diharamkan. Pengantin laki-laki tidak lagi perjaka tetapi sudah menjadi seorang suami dari istrinya dan pengantin perempuan sudah bukan gadis lagi tetapi sedah menjadi seorang isteri dari suaminya. Disinilah hak dan kewajiban suami isteri kemudian melekat dan mengikat satu sama lainnya sampai takdir yang memisahkannya.

Oleh karenanya layak kita mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri pernikahan.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa pasangan (baik istri maupun suami) adalah seorang yang terbaik yang dipertemukan oleh Allah dengan diri kita. Istri atau suami adalah pakaian yang saling menutupi aurat, sehingga menjadi indah dan sopan dipandang. Posisi istri atau suami tak akan pernah tergantikan oleh sesiapapun juga, kecuali dirinya. Inilah jodoh, namanya.

Kedua, bersyukur dengan memperbanyak ucapan alhamdulillah karena Allah telah mempertemukan dan menjodohkan kita dengan pasangan kita (istri atau suami) sehingga bisa berbagi dalam bahagia dan sejahtera.

Ketiga, saling berusaha istiqamah dalam memelihara ikatan suci, mitsaqan ghalidhan sehinga lestari sepanjang hidupnya di dunia ini, sampai Allah menyatukan di surgaNya kelak.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!