Mensyukuri Reuni-Lahir Kembali

Gema, 14 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 29 Ramadhan 1439

Saudaraku, setelah kita cermati, hampir di banyak tempat, hadis Rasulullah sering mengabarkan bahwa di ujung perjuangan ibadah puasa Ramadan yang ditunaikan, kita dijanjikan terlahir kembali menjadi suci dalam keftrian. Ya kembali menjadi fitri lagi.

Setelah menunaikan ibadah Ramadhan dengan shiyamu wa qiyamu ramadhan yang didasari oleh iman dan dilakukan dengan penuh pengharapan akan balasan dari Allah sebulan penuh maka akan diampuni dosa-dosa masa lalu sehingga seperti bayi yang baru dilahirkan.

Rasulullah Nabi Muhammad saw bersabda: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan puasa Ramadhan dan aku telah mensunnahkan menegakkan shalatnya (terawih), maka barangsiapa berpusa dan menegakkannya mengharapkan ridha Allah swt keluar dari
dosa-dosanya seperti hari ibunya melahirkannya. (HR. Imam Ahmad, Nasai,
Ibnu Majah)

Oleh karena itu istilah pulang kampung atau tradisi mudik pada jelang dan saat ‘Id al-Fithri seperti sekarang ini mestinya lebih kita maknai sebagai kelahiran kembali dan kehadiran diri kita kembali di kampung halaman sehingga bisa berkumpul dengan sanak saudara, handai tolan dan keluarga tercinta. Saat-saat inilah reuni bersemi.

Lahir kembali dan hadir di sini di kampung halaman lagi tempat yang penuh kenangan pahit getirnya dan manisnya bersama keluarga guna menggapai ridha Ilahi seraya kita berdoa semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali suci dan orang-orang yang memperoleh kemenangan di hari raya ‘Id al-Fithri esok hari.

Ya saudaraku, lahir atau lahir kembali. Dalam konteks historis, ‘Id al-Fithri ternyata juga dirayakan setelah lahirnya Islam yang ditandai dengan diturunkannya Al-Qur’an 17 Ramadan tahun 12 sebelum hijrah. Juga pertanda lahirnya nubuwah Nabi Muhammad saw, lahir dan tebentuknya komunitas Islam, umat Islam dan perdaban Islam.

Saudaraku, untuk menyempurnakan kemenangan di hari raya ‘Id al-Fithri esok hari, kita dituntun untuk berbagi kemaafan, kebersamaan, kesalihan dan keberkahan dengan orangtua, keluarga, dan sanak saudara seraya merayakannya dengan rasa syukur pada Allah.

Oleh karena itu sudah seharusnya kita mensyukuri ‘Id al-Fithri.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa setelah beribadah sebulan Ramadhan kita telah kembali fitri, sebagaimana dikabarkan dalam beberapa riwayat.

Kedua, memperbanyak ucapan alhamdulillahirabbil ‘alamin dengan penuh rasa syukur.

Ketiga, melakukan tindakan konkret terutama memelihara nilai-nilai Ramadhan yang sudah terpatri.

Sllah berfirman, beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Qs. Ak-Baqarah 185

Setelah menyempurnakan bilangan bulan Ramadhan dengan shiyamu wa qiyamu ramadhan, kita dituntun untuk memperbanyak takbir (tahmid, tahlil dan dzikir lainnya) dengsn penuh rasa syukur dsn tawadhuk.

Di samping itu penting untuk mempertahankan nilai kesederhanaan yang telah dikukuhkan selama Ramadhan, baik kesederhanaan dalam mengonsumsi makanan minuman, berpakaian, verpwrilaku, berkata-kata maupun dalam hal tidur.

Dan untuk menyempurnakan kefitrian nantinya, kita dituntun untuk berbagi kemaafan antarsesama. Bermula bersimpuh pada orangtua (juga mertua) kakek nenek buyut bila masih ada, bagi yang sudah berkeluarga antar suami istri, dengan anak, sesama saudara, keluarga dekat, para guru, teman dan sesama lainnya.

Selamat menyambut dan berhari raya ‘Id al-Fithri 1439 H dengan setulus hati ijinkan untuk memohon maaf lahir dan batin. Salam Takdhim Sri Suyanta Harsa sekeluarga.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!