Mensyukuri Tontonan

Gema, 22 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 8 Syawal 1439

Saudaraku, meskipun tontonan jelas-jelas berbeda dengan tuntunan, namun dalam realitasnya sering disalahterapkan. Tuntunan justru dijadikan tontonan, dan sebaliknya tontonan malah dijadikan tuntunan. Tuntunan adalah pedoman sedangkan tontonan adalah hiburan.

Ajaran Islam itu tuntunan sedangkan pertandingan bola piala dunia itu tontonan. Mendengarkan tausiyah dan hikmah adalah tuntunan sedangkan mendengarkan musik adalah hiburan. Shalat itu tuntunan, sedangkan tayangan televisi 90 hiburan. Dan setetusnya.

Dalam realitasnya, kita menyaksikan betapa antusiasnya orang datang menghadiri suatu acara tontonan yang hingar bingar, dan penuh kesenangan sesaat saja. Tetapi sebaliknya, betapa sepinya acara yang mengandung pelajaran dan hikmah. Tempat-tempat hiburan, dipenuhi begitu banyak orang, sedangkan acara yang mengandung dakwah dan pendidikan hanya digemari segelintir orang. Kalaupun dakwah atau pendidikan dikemas dengan hiburan, tetapi justru hiburannya yang diserapi di hati bukan nilai dakwah dan pendidikannya.

Perhelatan bola dunia 2018 di Rusia saat-saat ini rasanya telah memenangkan perhatian warga dunia dan seolah cenderung menjadi “tuntunan” masyarakat dunia; untuk siapapun dan di manapun berada. Semalaman nonton bola, dua atau liga laga, tetapi esok harinya saat beraktivitas dan bekerja menjadi lesu dan ngantuk. Parahnya, biasanya shalat berjamaah, kini menjadi jarang atau tidak sama sekali.

Apakah gambaran di atas, benar-benar telah menggelincirkan orientasi; tuntunan menjadi tontonan, dan tontonan malah jadi tuntunan? Rasanya perlu kajian yang lebih intensif.

Oleh karenanya kita mesti mengembangkan akhlak menyikapi tontonan dan tuntunan.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa tuntunan ya tuntunan yang menyelamatkan, sedangkan tontonan hanyalah hiburan.

Kedua, mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin Allah telah menurunkan tuntunan yang dapat menyelamatkan. Sedangkan manusia dianugrahi akal budi sehingga dapat melahirkan acara yang dapat ditonton sehingga dapat menjadi hiburan.

Ketiga, bersyukur dengan melakukan langkah konkret seperti istiqamah menempatkan tuntunan tetap menjadi tuntunan, dan tontonan tetap menjadi hiburan saja. Syukur-syukur dapat menyampaikan atau menerima tuntunan yang dapat menjadi penghibur atau pelipur lara, sehingga tuntunan dapat diresapi dengan senang hati.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!