Mensyukuri Yang Ada

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 28 Safar 1440

Saudaraku, di antara natijah yang bisa kita petik dari mengulangkaji keberkahan mensyukuri asmaul husna adalah kemampuan bersyukur kepada Allah dalam kondisi apapun.

Mengapa bisa? Karena asmaul husna telah mengakamodir segala hajat yang melahirkan rasa bahagia bagi yang mengimaninya.

Ketika bangun tidur saat dini hari sebelum shalat malam, kita sudah membaca doa alhamdulillahilladzi ahyana bakda ma amatana wa ilaihi nusur. Alhamdulillah kita masih dihidupkan kembali oleh Allah yang al-Hayyun, yang maha hidup. Lalu kita tunaikan subuhan dengan mengajak serta istri/suami, anak-anak dan keluarga kita. Duh, betapa teduhnya hati, kita sebut Allah yang maha mengasihi (al-Rahman), maha menyayangi (al-Rahim), maha mengarunia rezeki (al-Razzaq).

Saat kita beranjak ke tempat kerja kita berserah diri pada Allah dan memohon kekuatan, kita berdoa bismillah tawakaltu ‘alallahi la haula wala quwwata illa billahi, kita iringkan dengan zikir al-Shamad, Allahlah zat yang maha melindungi. Agar selamat sampai tujuan, bibir kita basahi dengan syukur al-Salam (Allah yang maha menyelamatkan), al-Wahhab (Allah yang senantiasa maha memberi kebahagiaan). Terus sepanjang perjalanan ke tempat kerja, hati dan pikiran kita terpaut untuk menggapai ridhaNya, dan lisan kita basah dengan menyebut asmaNya sesuai dengan hati, pikiran dan kondisi yang dialami.

Saat terhenti, apakah karena trafic light atau padatnya lalu lintas, kita sebut al-Shabur, Allah yang maha sabar. Saat melihat ada yang melanggar aturan berlalu lintas, kita doakan dengan menyebut al-Tawwab, Allah maha penerima taubat, sehingga yang bersangkut mendapat hidayah.

Saat bersua dengan saudara di tempat kerja, kita berbagi rasa dan pahala dengan sharring informasi dan saling berwasiat pada kebenaran dan kesabaran. Sembari betaktivitas kebaikan (seperti mengajar, mengadministrasi di kantor, berjualan, mengatur lalu lintas, berbelanja, mengolah sawah ladang dst) seperti biasanya, kita iringkan dzikir dengan menyebut asmaNya silih berganti. Agar memperoleh kemuliaan hidup kita sebut Allah ya ‘Aziz, Allah ya Karim, Allah ya Raafi’, Allah ya ‘Aliy, Allah ya Mu’iz dan seterusnya.

Agar memperoleh anpunanNya terhadap kealpaan dan dosa-dosa kita selama ini kita lantunkan Allah ya Ghafur, Allah ya Ghafar, Allah ya ‘Afuwun Karim, ya Allah yang maha pengampun dosa, ampuni kami.

Agar hati kita tidak mengeras seperti batu, kita lafalkan Allah ya Lathif (Allah yang maha lembut) Allah ya Wadud (Allah yang maha mencintai), Allah ya Halim (Allah yang maha menyantuni), Allah ya Baari’ (Allah yang maha dermawan).

Saat menghadapi kesulitan hidup, kita sebut Allah ya Basith (Allah yang melapangkan), Allah ya Fattah (Allah yang maha membukakan jalan dan karuniaNya).

Agar Allah melanggengkan kebaikan dan kebahagiaan atas kita dan keluarga, kita lafalkan Allah ya Baqiy, Allah ya Awwal Allah ya Akhir.

Saat istirahat atau sepulang kerja, kita juga masih bisa mengulang-ulang rasa syukur kita dengan membaca ayat al-Qur’an atau berzikir apa saja.

Sesampai di kediaman, kita panjadkan rasa syukur bersama keluarga yang telah menanti, kepada ilahi rabbiy atas karuniaNya yang tercurahkan hari ini. Juga atas karunia indahnya berkeluarga, bisa sakinah mawaddah wa rahmah, saling asih asah dan asuh dalam ketaatan kepada Alllah ta’ala.

Oleh karena itu hidup ini diisi dengan syukur, baik di hati, di lisan maupun dikonkretkan dalam perbuatan.

Bersyukur di hati dengan meneguhkan keyakinan seyakin-yakinnya pada Allah. Allah selalu baik kepada hamba-hambaNya. Allah sangat dekat dengan hamba-hambaNya, makanya bukan saja mendengar, melihat dan mengetahui hamba-hambaNya, tetapi maha peduli akan hamba-hambaNya. Allah lah yang memenuhi segala hajat dan keinginan hamba-hambaNya, meski tidak diminta sekalipun, apalagi yang dimohon.

Kedua bersyukur di lisan dengan terus membasahi lidah dengan lafald syukur alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Ketiga, bersyukur melalui aktivitas hari-hari dengan terus mentaati syariatNya. Misalnya selalu dalam kondisi punya wudhu sehingga anggota badan (tangan, mata, hidung, lisan, telinga, kaki) kita hanya kita hibahkan untuk kebaikan dan terpelihara dari kemaksiatan. Aamiin

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!