Niat Tulus Menghasilkan Nikmat

GEMA JUMAT, 02 JUNI 2017

Ibadah puasa pada mulanya merupakan urusan personal antara seorang hamba dengan tuhannya. Namun dari segi intrinsik ajarannya disertai dengan ibadah-ibadah yang diseru Rasulullah akan menambah nikmatnya bulan Ramadhan. Dari segi substansinnya ibadah puasa difungsikan sebagai latihan pengendalian diri dari kejatuhan secara moral dan spiritual.

Namun, ibadah puasa, seperti halnya ibadah-ibadah lain dalam Islam, ternyata segi instrinsiknya tidak bisa dengan begitu saja dipisahkan dari dimensi konsekuensial yakni melakukan amal sosial dan kerja kemanusian. Amal sosial ini bermaksud mengerjakan suatu hal itu akan menambah nikmat pahala puasa di bulan Ramadhan. Begitu banyak kenikamatan yang tercipta apabila menjalankan amalan di bulan puasa ini dengan sungguh-sungguh.

Seperti sering diucapkan banyak orang, bahwa tidurnya orang berpuasa pun merupakan suatu ibadah. Jika kita memahami makna dan arti dari hari Ramadhan, maka seseorang akan menjalankan dan mengamalkan dengan penuh kelapangan dan keikhlasan. Dan bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh nikmat, bukan rohani kita saja yang mendapatkan nikmatnya, bahkan jasmani akan mendapatkan nikmat sehat, bukan menimbulkan sakit apabila kita menjalakannya sesuai tuntunan Rasulullah.

Umar Bin Khattab pernah mengatakan, “Banyak orang berpuasa tetapi tidak diperoleh dari puasanya melainkan lapar dan dahaga.” Oleh karena itu, untuk dapat memahami ajaran dan pesanan puasa secara benar, maka perlu ditegaskan bahwa orang beriman dianjurkan untuk selalu sadar akan tujuan perintah berpuasa. Pengalaman ibadah puasa diharapkan dapat mempertajam kepekaaan ruhaniah, sehingga akan mudah menerima panggilan atau seruan Allah.

Pesan yang tersirat di dalam puasa harus dipahami secara benar, karena dalam melakukan ibadah puasa akan membuat kita sadar, betapa harus mensyukuri hidup ini dari menahan lapar dan dahaga tersebut. Sesungguhnya Allah telah mempunyai rencana-rencanaNya untuk hambaNya dan kini bagaimana cara kita menghadapi dan mensikapinnya. Bukankah segala urusan dunia kita telah diatur olehNya, karena sesungguhnya kebahagiaan dan kesedihan itu hanya milikNya.

Perlu disadari pula, bahwa  melakukan ibadah di bulan puasa sangat memberikan kontribusi yang besar terhadap mental dan jiwa, bagaimana tidak sekecil apapun suatu perbuatan seseorang akan mempengaruhi pahala dan amalanya untuk hari kelak. Begitu juga dengan ibadahnya, sekecil apapun ibadah seseorang akan sangat berpengaruh pada perilaku mentalnya.

Nikmat puasa tidak akan ada habisnya, karena ibadah puasa pada bulan Ramadhan dilengkapi dengan tarawih akan menghasilkan kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan. Kesadaran kita akan pentingnya berpuasa bukan saja menahan lapar dan haus, tetapi harus menahan diri pula dari pandangan dan perbuatan yang dilarang Allah.

Jika lebih spesifik dikaji tentang suatu perbuatan, maka tentunya kita tentu tahu bahwa hal-hal yang diperintahkan Allah dan menjauhi laranganNya merupakan konsep yang telah tertuang jelas dalam Al-Quranul Karim. Konsep ini memang sangat sederhana apabila dipahami sekilas, tetapi makna hal tersebut sangatlah dalam. Dalam menjalakan suatu perintah yang sangat kecil pun membutuhkan suatu pedoman. Dan hal tersebut merupakan hal dasar agar kita mengerti menjalankan ibadah puasa dengan niat yang tulus agar mendapatkan nikmat yang mulus.

Kecintaan seorang hamba terhadap RabbNya akan terlihat jelas bagaimana seseorang mengamalkan isi Al-Qur’an dan mengaplikasikan perintahNya di dalam kehidupan. Ibadah puasa merupakan salah satu nikmat besar yang diberikan Allah dengan melakukanya disertai niat tulus merupakan suatu jalan untuk membuktikan kecintaan seorang hamba terhadap Rabb dan Rasulullah SAW. Modal niat tulus merupakan kunci yang paling utama agar kita mendapatkan kenikmatan yang sesungguhnya. Karena suatu perbuatan apabila diiringi dengan niat tulus karena Allah, maka kita akan dimudahkan dalam segala perbuatan dan kegiatan sehari-hari.

Maka nikmat puasa itu merupakan satu hal yang harus dipahami bahwa segala urusan kita dapat tergapai apabila niat kita lurus dan akan mendapatkan hasil maksimal. Seperti dalam pepatah, “Apa yang engkau tanam, maka itulah yang engkau petik”. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan nikmat di bulan Ramadhan baik untuk jasmani dan rohani dan dalam perbuatan sehari-hari dibutuhkan niat yang tulus.   Sastri/Mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!