Pada Kebenaran Kami “Beriman”?

GEMA JUMAT, 5 JULI 2019

Oleh: Riza Rahmi

Suatu kali, di kelas Media Ethics & Law (Hukum & Etika Media), terjadi diskusi alot tentang tugas suci pekerja media. Ruang kelas di musim dingin itu menjadi hangat bukan hanya karena heater, tetapi juga karena serunya kami bersilang pendapat soal: apa itu berita? Bolehkah jurnalis memilah-milah informasi? Dalam bertugas, jurnalis idealnya menyampaikan fakta (facts) atau kebenaran (truth)? Tanggung jawab “mendidik” audiens ada di tangan siapa?

Dr. Michelle, pengajar hari itu, tidak memberikan jawaban benar-salah hingga kelas usai. Saya pulang bersama gunungan rasa penasaran, juga kesadaran bahwa pemahaman saya yang menyamakan fakta dengan kebenaran amatlah keliru.

Kaitan fakta dengan kebenaran tidaklah sesederhana anggapan “Jika A benar, maka A adalah fakta!”.  Fakta, meminjam analogi penulis script asal Inggris Ricky Dene Gervais, merupakan sesuatu yang “Jika kita mengambil semua catatan ilmu pengetahuan, semua fakta, lalu kita hancurkan, semua itu akan kembali dengan bentuk yang sama meski setelah ribuan tahun”. Fakta, terdeteksi indera manusia ataupun tidak, merupakan sesuatu yang tidak akan dapat dipertentangkan (indisputable).

Sementara kebenaran, sifatnya berbeda. Kebenaran mungkin berisikan fakta, tapi juga bisa berbalut asumsi, kepercayaan atau agenda. Sehingga, sifatnya menjadi relatif. Sesuatu yang diyakini benar oleh kelompok tertentu sangat mungkin dihukumi salah oleh kelompok yang lain. Charles Weelan, ekonom penulis buku “Naked Economics” dan “Naked Statistic”, meringkasnya dengan contoh, “statistik merupakan fakta. Sangat mudah berbohong dengan mengutip statistik, tetapi juga sangat sulit menyampaikan kebenaran tanpa statistik.”

Kerangka berpikir ini menawarkan saya sudut pandang baru untuk memahami interaksi audiens dengan media, khususnya apa yang bisa diharapkan dari media dan bagaimana audiens memproses apa yang disampaikan media. Menginginkan jurnalis menyampaikan hanya “kebenaran” misalnya, merupakan harapan yang tergolong rumit. Menjadi kompleks bukan hanya karena jurnalisnya berpotensi tidak kredibel atau media memiliki hidden agenda, tetapi juga karena “kebenaran” yang diharapkan audiens boleh jadi berbeda dengan “kebenaran” yang dimiliki pihak media.

Paul Dughi, Vice President WAAY-TV di Alabama yang berafiliasi dengan ABC newsroom, suatu kali “curhat” di halaman Medium. Redaksinya kerap menerima komplain dari penonton yang menuding kru WAAY-TV tidak menyampaikan kebenaran atau menyembunyikan informasi. Sebagian besar dari komplain tersebut, menurut Dughi, berisi hal-hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Audiens, sebutnya, seringkali melampiaskan kemarahan bukan karena redaksi salah melaporkan, tetapi karena redaksi tidak melaporkan apa yang ingin mereka dengar. Contohnya, sejumlah alegasi tak berdasar yang ditujukan kepada peserta pilpres Amerika 2016 yang datang dari kalangan oposisi atau partisan. WAAY-TV dianggap tidak pro kebenaran karena memilih mengabaikannya.

Dalam konteks hubungan dengan media atau bukan, andai ditanya “kemana Anda berpihak? Apa yang Anda cari?”, saya kira jawabannya tunggal: “Pada kebenaran!” Hanya saja, jika kajian ilmu perilaku yang menyebut: manusia cenderung mendengar apa yang ingin mereka dengar, melihat apa yang ingin mereka lihat, maka pertanyaan berikutnya, “Kebenaran seperti apa yang Anda imani?” []

*Penulis adalah alumni School of Arts & Media, UNSW, Sydney |E-mail: riza.rahmy@gmai.com

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!