Payung Elektrik Daya Tarik Masjid Raya

LGEMA JUMAT, 29 NOVEMBER 2019

Masjid Raya Baiturrahman (MRB) memang dikenal sangat indah dan cantik. Beberapa tahun belakang ini keindahannya kian bertambah seiring pembangunan destinasi baru dengan dibangun payung besar ala Masjid Nabawi Madinah. Payung di sisi kanan dan kiri serta depan Masjid berjumlah sebanyak 12 unit  ini, diakui bahwa menjadi magnet kuat dalam menarik para pengunjung untuk datang langsung ke masjid bersejarah ini.

Memang banyak catatan berapa banyak wisatawan lokal, wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara yang sudah shalat di dalamnya, berfoto di halaman dan menikmati keindahan view MRB dari sudut mana pun tetap menakjubkan dan mampu memanjakan penglihatan.

Diyakini walaupun bagi yang sering berkunjung ke destinasi utama wisata halal dan religi Tanah Serambi Mekah ini tidak tahu banyak bagaimana proses payung milyuner ini saat membuka atau pun menutup.

Di bawah payung-payung, juga sering dimanfaatkan khususnya warga Banda Aceh dan sekitarnya untuk kegiatan belajar di luar kelas. Sebagaimana yang dilakukan oleh Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Fityan Aceh Besar, pekan lalu. “Sebanyak dua ratusan siswa/siswi SDIT Al Fityan melaksanakan belajar dan bermain sehari di Masjid Raya Baiturrahman,” sebut Devi, salah seorang staf pengajar.

Devi menyebutkan, kegiatan di bawah payung elektrik MRB itu adalah pendalaman menghafal Al Qur’an di mana siswa saling murajaah bacaan dan hafalan. Siswa juga mengadakan game islami sejak pagi sampai sore hari di halaman masjid yang memang indah dan bersih ini.

Maka cobalah meluangkan waktu untuk fokus dan detail mengamati payung  yang menyerupai Masjid Nabawi ini saat menguncup, lalu membuka perlahan, terkembang sempurna sampai kemudian menutup dan menguncup kembali. Ternyata memberikan keasyikan tersendiri melihat perubahan payung dari menit ke menitnya.

Menurut Kepala UPTD Pengelolaan Masjid RayaBaiturrahman, Tgk H Ridwan Johan, UPTDPayung elektrik yang merupakan satu paket pembangunan dan pengembangan landscape MRB yang ini diresmikan oleh Wapres Jusuf Kalla pada Mei 2017 lalu, ini beberapa kali mengalami kerusakan. “Kerusakan utama adalah kain sobek dan kerangka patah disebabkan angin kencang,” jelasnya.

Belajar dari pengalaman buruk yang merusakkan payung megah pada Juli 2018 lalu, maka payung bila pun telah dibuka maka akan ditutup kembali.

Muhammad, salah seorang operator payung elektrik sering mengamati keadaan cuaca, khususnya kecepatan angin. “Apabila musim angin barat tiba, payung akan disegerakan ditutup. Cari aman, lebih baik payung  ditutup, karena datang angin dan kecepatannya tidak dapat diprediksi.” sebut Muhammad. Sebagai operator, Muhammad tandem bersama petugas lainnya, Razali.

Tgk Ridwan menambahkan, belum ada jadwal tetap kapan payung mulai dibuka atau pun ditutup kembali. “Apabila angin bersahabat, secara rutin payung mulai dibuka setelah pelaksanaan apel pagi.

Sedangkan khusus hari Jum’at karena untuk melaksanakan ibadah shalat Jum’at, payung diusahakan selalu terbuka.” Hal ini disebabkan untuk melayani para jamaah Jum’at yang memang selalu membludak sehingga banyak yang shalat Jum’at di bawah payung.

Muhammad berkata, payung  produksi dari Jerman ini tinggi sampai titik tertinggi mencapai 20 meter dan lebar 14 meter. Namun ketinggian tidak sama guna mempermudah saat membuka atau pun menutupnya.  

“Payung membuka dimulai dari yang tinggi, lalu dilanjutkan payung yang lebih rendah. Sedangkan untuk menutup, dimulai sebaliknya,” ungkapnya. Sensor automatic pada payung akan menutup sendiri apabila hujan turun lebat disertai angin cukup terasa.

Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit pada setiap koridor utara atau pun koridor selatan payung yang masing-masing berjumlah 6 unit.

Payung bermotif etnik berwarna kuning dan kain plastik warna putih ini dikendalikan dari mesin-mesin penggerak dari 2 gardu mesin. Masing-masing gardu ditempatkan sesuai fungsinya sebagai mesin manual penggerak payung bagian utara maupun selatan. Sedangkan melalui remote control pusat kendali dilakukan pada lantai dasar menara utama.

Untuk mempermudah pengendalian, payung-payung diberi nomor urut. Nomor 1 sampai dengan 6 , dimulai payung terdepan arah utara sampai arah barat atau dekat taman air mancur. Lalu sebelah selatan untuk payung nomor 7 sampai nomor 12 menuju kolam.

Pada bebepa bulan, payung elektrik nomor 1 pernah mengalami kerusakan teknis, sehingga tidak dapat berkembang baik. Perlu waktu lama dalam perbaikan dengan mendatangkan teknisi khusus melalui PT Waskita Karya (PT WK) selaku pihak yang masih bertanggung jawab pemeliharaan payung  ini.

Kini, beberapa pecan lalu payung nomor 7 mengulah yang sama. Untuk mengurangi kerusakan pada sistem kait pembuka lebih parah. Menurut Tgk Ridwan, pihaknya sudah menghubungi PT WK untuk menyegerakan perbaikan. Terlebih payung  terdepan bagian selatan ini, merupakan pavorit jemaah saat melaksanakan shalat Jum’at di halaman karena telat tiba atau tidak kebagian ibadah di dalam masjid.

Demikian kisah payung elektrik, yang perlu pengunjung amati seksama walau tidak tergolong penting. Cerita tentang payung ternyata juga menarik. Termasuk mulai Kamis malam (28/11) ini, terlewatkan kabar terbarunya bahwa yang selama ini payung selalu tutup sebelum Maghrib tiba, mulai kini baru tertutup mengistirahatkan diri sebelum waktu Isya tiba. NA RIYA ISON

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!