Pemimpin Teladan Shalat Berjamaah

GEMA JUMAT, 28 APRIL 2017

Kepemimpinan dalam Islam berkewajiban menjaga berjalannya amar makruf nahi munkar secara baik di tengah- tengah umat yang dipimpinnya untuk mencapai ridha Allah SWT melalui berbagai ibadah yang telah diperintahkan.

Dia‎ntara terpenting yang harus menjadi perhatian utama dari pemimpin adalah ibadah shalat, khususnya shalat wajib lima waktu yang dilakukan secara berjamaah, dimana seorang pemimpin pada berbagai tingkatan harus bisa memberikan keteladanan. Lebih-lebih di Aceh sebagai daerah yang sedang menerapkan aturan syariat Islam dalam kehidupan masyarakat.

Demikian antara lain disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Al-Washliyah Banda Aceh, Dr HA Mufakhir Muhammad MA saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (26/4/2017) malam.

“Kita di Aceh baru saja usai memilih pemimpin baru dalam Pilkada kemarin. Sebagai daerah yang bersyariat Islam, tentunya akan sangat rugi kita umat Islam di Aceh jika punya pemimpin seperti gubernur/bupati/ wali kota yang jarang shalat berjamaah. Pemimpin itu harus memberikan keteladanan untuk diikuti,” ujar Ustaz Mufakhir.

Menurutnya, pemimpin- pemimpin umat itu telah mendapat amanah dari Allah untuk dapat membawa dirinya dan masyarakat yang dipimpinnya dalam menjaga ketaatan kepada perintah Allah.

Hal ini ditegaskan dalam Surat Al Hajj ayat 41 yang artinya “(Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar dan kepada Allahlah kembali segala urusan”.

“Dalam ayat ini, Allah menegaskan bagi orang-orang yang telah diberi amanah jabatan sebagai pemimpin, dirikanlah shalat utamanya berjamaah dan tunaikan zakat. Ini juga cara mensyukuri nikmat yang telah diberikan agar tidak lalai,” jelasnya.

Ditambahkannya, akhlak seseorang muslim itu sangat ditentukan oleh ada atau tidaknya‎ dia mendirikan shalat, bukan karena lainnya. Bahkan, shalat itu sendiri membedakan seorang muslim dan kafir.

“Seseorang akhlaknya tidak bagus, karena tidak shalat. Jangan sampai kita membiasakan untuk membenarkan pernyataan, ‘Dia itu orangnya baik walaupun tidak shalat‎’. Pernyataan seperti ini kesalahan yang sangat besar dalam Islam, tidak boleh kita berkata seperti itu karena telah meremehkan shalat. Karena meskipun kita belum baik, shalat tidak boleh ditinggalkan, teruslah berusaha sampai Allah memberi kemudahan untuk baik,” terangnya.

Mufakhir Muhammad yang juga seorang Majelis Syura Dewan Dakwah Aceh menjelaskan, rusaknya suatu masyarakat itu dimulai ketika shalat ditinggalkan. Sehingga shalat menjadi penentu sebuah generasi. (Rel/Yusuf)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!