PENDIDIKAN ACEH DULU DAN KINI

GEMA JUMAT, 19 OKTOBER 2018

Oleh: Syahril, S.Pd (Guru SMAN 6 Banda Aceh)                                                                                                                                                                                       

Masih ingatkah kita kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam pada masa lalu? Pada masa kepemerintahan Sulthan Alaiddin Iskandar Muda Meukuta Alam bukan hanya dalam hal agama, ekonomi, politik, militer, sosial dan hukum saja yang diurus dengan baik, namun bidang pendidikan menjadi perhatian utama. Dulu, banyak orang berdatangan dari luar Aceh untuk menuntut ilmu di Serambi Mekah. Contohnya Malaysia. Mereka memilih Aceh sebagai tujuan menuntut ilmu pengetahuan. Terutama ilmu agama Islam. Juga termasuk masyarakat dari negara-negara lain.  Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya sebagai tempat peribadatan, tapi juga pusat pendidikan. Berbagai kajian ilmu dilakukan pada 17 fakultas (daar). Hal ini membuat Aceh menjadi kiblat pendidikan di Asia Tenggara dan dunia saat itu. Dan mencapai puncak kejayaan pendidikan Aceh pada abad ke-XVII.

Memasuki abad ke-20 Aceh mengalami konflik yang berakibat pembakaran sekolah. Gempa dahsyat dan tsunami 2004 telah menghancurkan banyak gedung sekolah dan dayah. Inilah alasan mengapa pendidikan Aceh merosot tajam dan terpuruk.

Sekarang, beberapa sekolah memiliki banyak guru bahkan berlebih, di sekolah lain malah kekurangan. Ada juga guru yang mengajar tidak sesuai disiplin ilmu, seperti guru Matematika tapi mengajar PKn. Ada juga guru Biologi mengajar sejarah. Bagaimana jadinya kalau hal itu terjadi pada setiap sekolah? Waduh, kacau balau jadinya.

Masalah lain kita baca di  surat kabar, informasi  radio atau televisi bahwa terdapat sejumlah sekolah di pedalaman Aceh yang jauh dari rumah masyarkat. Contohnya saat Kadisdik Aceh Syariddin, SPd, MPd, Selasa 26 Juni 2018 mengunjungi  SMAN I Sekerak, Aceh Tamiang.  Sekolah ini beroperasi sejak 2016, menuju kesana  harus melintasi  medan terjal yang menantang. Jarak tempuhnya sekitar dua mil dari dari daratan  atau setara dengan satu jam perjalanan. Menurut informasi, murid-murid  di kawasan perkampungan Sekerak harus menempuh perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki sekitar satu hingga dua jam. Tapi yang membuat hati kita salut,  proses belajar mengajar tetap berjalan dengan baik.

Persoalan menarik lainnya adalah, setiap tahun ajaran baru orang tua murid di kabupaten/kota beramai-ramai mencari sekolah yang dianggap favorit dan unggul. Alasan mereka, selain mengejar kualitas pendidikan, hampir 100% murid di sekolah unggul dan favorit memiliki akses yang relatif lebih mudah untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Yang aneh, walau biaya pendidikan tergolong mahal, mereka lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah unggul atau favorit di Banda Aceh, seperti Sekolah Islam Terpadu (SIT), SMA Fatih, SMA Modal Bangsa, Insan Qurani, serta sekolah terpadu unggul lainnya.

Bahkan, tak jarang orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah unggul di luar Aceh, sebab mereka tidak mau ambil resiko menyekolahkan anaknya di daerah kabupaten/kota.  Tentu, dari segi ekonomi bagi orang tua yang kurang mampu tidak sanggup mengantar anaknya sekolah ke Banda Aceh atau ke luar Aceh.

Saat ini, kita melihat banyak gedung sekolah dibangun dengan kokoh dan indah. Infrastruktur mulai lengkap dari papan tulis, infocus, lab computer, wi-fi, soundsystem, layar, projector, meja, kursi, lemari, spidol, penghapus, AC dan sebagainya. Hampir  setiap tahun diperbaharui. Bahkan Aceh menmdapat perhatian khusus pemerintah pusat di sektor pendidikan.

Dana Aceh Carong yang berlimpah tahun 2018 (total anggaran 1,816 triliun). Pemberian beasiswa meningkat, dan segala kemudahan lainnya. Tapi kualitas pendidikan masih tetap rendah walaupun terjadi peningkatan mutu pendidikan di Aceh.  Itu harus kita akui bersama.

Lalu, bagaimana cara meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh? Untuk menjawab pertanyaan ini, 11 upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh. (1). Penguatan karakter pada perserta didik dan ini adalah yang paling utama, (2). Pendidikan dan pelatihan guru, (3). Sosialisasi kurikulum 2013, (4). Pemagangan siswa dan guru ke luar daerah hingga luar negeri, (5). Peningkatan kompetensi guru melalui beasiswa, (6). Perluasan jaringan kerja sama dengan lembaga pendidikan nasional dan internasional,

Upaya lainnnya dapat dilakukan dengan: (7). Penyediaan laboratorium dan fasilitas pendukung lainnya (8). Pelaksanaan ujian nasional (UN) yang jujur dan bermutu. (9). Penyebaran guru harus merata dan (10). Guru mengajar harus sesuai disiplin ilmu dan kompeten. (11). menjadikan sekolah–sekolah terbaik mulai dari (SD), (SMP), (SMA) menjadi sekolah unggul atau favorit di wilayah pedalaman Aceh.  Semoga pendidikan Aceh akan lebih bermutu di masa-masa akan dartang.

 

 

                                                                               

           

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!