Persepsi Ulama terhadap Negara Bangsa

GEMA JUMAT, 14 DESEMBER 2018

Banda Aceh (Gema) – Sejumlah peneliti Pusat Pengkajian Islam Demokrasi dan Perdamaian (PusPIDeP) dan Pascasarjana UIN Yogyakarta bersama dengan PPIM UIN Jakarta menyelenggarakan seminar hasil survei Persepsi Ulama terhadap Negara Bangsa. Seminar tersebut mengambil tema “Ulama, Politik dan Narasi Kebangsaan: Fragmentasi dan Kontestasi Otoritas Keagamaan di Indonesia” pada Sabtu (8/12) di Banda Aceh.

Di Banda Aceh sendiri, seminar ini bekerja dengan Program Studi Sosiologi Agama, UIN Ar-Raniry.  Semua yang terlibat sebagai penyelenggara begitu berharap agar hasil seminar ini dapat menjadi pegangan banyak pihak dalam menatap lebih jauh semangat kebangsaan sembari memperkuatnya.

Pemateri Moch Nur Ichwan PhD menjelaskan, sebenarnya banyak hal yang melatari cara pandang ulama tentang negara bangsa, seperti kejayaan masa lalu Aceh, konflik dan semangat etnonasionalisme, situasi pos-konflik dan pos-tsunami Aceh, penerapan syariat Islam secara resmi, urbanitas di Banda Aceh serta wacana-wacara di tingkat nasional.

Cukup membanggakan menurut peneliti, bahwa sebesar 66,6% ulama di Kota Banda Aceh menerima  konsep negara bangsa. Secara detil, ada 10% yang memandang konsep negara bangsa secara inklusif, 33.3% secara moderat, dan 23.3% yang memandang secara konservatif (Tidak eksklusif, masih pro-sistem politik yang ada dan anti-kekerasan).

Kendati demikian perlu diperhatikan bahwa persepsi yang menolak konsep ini juga tidak sedikit, yaitu 23.3%, yang terdiri sikap eksklusif 13.3% dan radikal 10%. Selisihnya, 10% adalah termasuk kategori tidak teridentifikasi, yang sebenarnya lebih dekat kepada eksklusif 6.66% dan lebih dekat kepada radikal 3,33%. Dengan demikian, jika ditambah yang tidak teridentifikasi ini, maka ulama yang menolak adalah 33.3%. Ini angka yang sangat tinggi dibandingkan dengan 14 kota lainnya yang disurvei.

Ia menuturkan, bagi satu penelitian yang bersifat komprehensif, hasil ini tidak dapat dihindari mengingat survey ini telah mempertimbangkan keterwakilan semua elemen ulama. Ulama-ulama yang berafiliasi kepada salah satu atau beberapa dayah ada dalam satu elemen, keterkaitan dengan majelis taklim, organisasi, gerakan keagamaan, atau perguruan tinggi Islam tertentu juga diikutsertakan. Ulama di sini bahkan juga mencakup “ulama milenial” yang mendiseminasikan ajaran Islam di internet dan media sosial baru, semua diakomodir. Dengan demikian hasil survey ini sangat kaya setelah dianalisa.

Survei yang didukung oleh UNDP ini pada dasarnya telah selesai dilaksanakan di 15 kota di Indonesia, dan salah satunya di kota Banda Aceh. Hadir dalam acara tersebut Fuad Jabali, Ph.D, pakar sejarah keislaman dari UIN Jakarta sebagai pembahas. Secara tegas Fuad berkeinginan bahwa ulama atau tokoh-tokoh di Aceh dapat menjadi orang yang berdiri di tengah dalam melihat persoalan kebangsaan. Berdiri di tengah menurut Fuad bukanlah dengan posisi yang kaku, tapi elastis bergeser ke titik-titik yang seimbang seumpama tepi dari lingkaran kehidupan sosial tersebut berubah membesar dan mengecil.

Salah seorang pembahas yang dipilih dari cendekiawan muda Aceh, yaitu Reza Idria, MA juga turut memberikan kupasan kritis terhadap keulamaan dan situasi sosial Aceh. Reza dalam tanggapannya menyampaikan bahwa dalam menghadapi problem kebangsaan saat ini, ulama di Aceh dituntut untuk berperan penuh.

“Namun disayangkan bahwa di kalangan ulama seperti elemen-elemen yang dimaksudkan oleh survey ini terlihat bahwa ulama juga memiliki masalahnya sendiri.,” ujar Reza.

Reza begitu menyesalkan konflik yang kerap terjadi di kalangan ulama. Ulama yang tergiring ke kancah politik, yang kemudian  berdampak buruk pada perkembangan intelektual masyarakat Aceh, terutama tentang cara pandang orang Aceh terhadap bangsa dan bahkan Aceh itu sendiri. “Selalu merasa sebagai golongan yang teristimewa di antara masyarakat lainnya adalah salah satu bentuk ujian sosial yang memerlukan ulama untuk menyelesaikannya,” katanya lagi.

Diskusi yang dimoderasi oleh Dr. Phil. Munirul Ikhwan tersebut memperlihatkan adanya sejumlah kesamaan antara kota-kota lain tersebut dengan Kota Banda Aceh, terutama bagaimana sosok ulama masih menjadi tumpuan harapan kehidupan pengetahuan di tengah masyarakat, dan untuk menyuarakan paham kebangsaan dengan kuat.

Guru Besar UIN Ar-Raniry Prof Yusny Saby yang turut hadir menyampaikan agar kajian apa saja tetap terus berlanjut jika memang memiliki semangat untuk memperbaiki. Dengan optimis dia juga percaya bahwa hasil-hasil tersebut tentu bisa saja dipertanyakan, tapi yang lebih penting menurutnya adalah bagaimana kita terus mengintrospeksi diri.(Furqan/Rel)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!