PNS bukan Penjamin Rezeki

GEMA JUMAT, 12 OKTOBER 2018

Oleh: Nurjannah Usman

“Tidak bisa lagi jadi PNS umur sudah lebih 35, sepertinya harus calon sebagai presiden yang tidak ada pesyaratan umur,” begitu status salah satu akun di media sosial tentang kekecewaan masyarakat untuk mengikuti seleksi pendaftaran CPNS yang ditolak secara sistem online.

Dikasus yang lain, “umur anda sudah melebihi 18 hari tidak boleh mendaftar …,” begitu sekelumit kisah tentang penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil tahun 2018. Banyak kasus lain yang kecewa, putus asa dengan batasan umur yang ditetapkan pemerintah untuk CPNS dari SMA, D2, D3, S1, S2 dan bahkan S3-pun memiliki batasan umur minimal 18 tahun maksimal 35 tahun.

Hal ini menimbulkan kontroveksi dalam masyarakat yang terkadang baru melanjutkan S2 dan S3 ketika umur sudah meranjak diatas kepala tiga. Secara umum masyarakat menginginkan dirinya menjadi pegawai negeri dengan patokannya, PNS itu sudah terjamin masa depannya.

Sesungguhnya kita lupa, rezeki, jodoh dan maut itu Allah yang menentukan, bukan karena jadi pegawai negeri terjamin rezeki seseorang. Banyak hal yang bisa dilakukan selain berharap dirinya menjadi pegawai negeri sipil, seperti pengusaha, bertani, pelayaran, mengabdi jadi guru-guru sembarang yang bermanfaat, jualan yang kebanyakan orang menjadi kaya dan banyak pekerjaan lain yang halal bisa dilakukan.

Sangat signifikan jika seluruh penduduk Indonesia berharap dirinya menjadi PNS, sementara kuota PNS yang disediakan negara sangat kecil jumlahnya. Berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara (BKN), jumlah PNS pada tahun 2016, tercatat hanya ada 4,37 juta orang bila dibandingkan dengan populasi di Indonesia, masyarakat yang bekerja sebagai PNS pada 2016 hanya 1,69 persen terhadap jumlah penduduk.

Dimana satu orang PNS bertanggung jawab memberikan layanan terhadap 58 orang penduduk Indonesia. Rasio rata-rata ini memang relatif kecil, bila dibandingkan pada rasio PNS dengan masyarakat di berbagai provinsi menunjukkan komposisi yang tidak seimbang.

Kita dapat melihat negara maju bukan yang banyak mencetak PNS tetapi negara yang banyak melahirkan wirausaha seperti Malaysia lebih maju dari Indonesia dan negara-negara lainnya. Bahkan orang terkaya dunia lahir bukan dari PNS tetapi wirausaha seperti Amerika Serikat, Amerika Latin dan negara lainnya.

Allah telah menjamin rezeki setiap hamba, “…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (Surah Hud, ayat 6). Jadi jangan ragu dengan rezeki yang akan Allah kasih yakinkan saja dengan giat bekerja dan beribadah. Jangan juga menyesali level pendidikan yang telah digapai tetapi jalan rezekinya masih belum ada peningkatan.

Level pendidikan tidak menjamin lancarnya rezeki yang Allah kasih, pendidikan merupakan kebutuhan hidup yang harus dijalani, seperti ada Hadits masyhur mengatakan, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Itu pertanda menuntutlah kita tanpa memandang usia, miskin dan kaya punya hak yang sama untuk menuntut ilmu. Kata-kata hikmah lain mengatakan, “menuntutlah kamu dari ayunan sampai ke liang lahat,” itu pribahasa yang menganjurkan kita untuk mencari ilmu bukan hanya untuk ikut CPNS tetapi sebagai modal kita menjalani kehidupan di dunia ini.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!