Prioritas dalam Ibadah

GEMA JUMAT, 8 SEPTEMBER 2017
Oleh Dr. Sri Suyanta, Dosen UIN Ar-Raniry

Dalam konteks pelaksanaan ibadah terutama iabdah mahdhah, ternyata, terdapat keutamaan berbeda-beda, bahkan bertingkat sesuai dengan tempat ibadah itu dilaksanakan, waktunya kapan dikerjakan dan siapa yang menunaikannya.

Dari segi tempat ibadah, lihatlah betapa gairah dan ghirah ummat Islam yang taat menunaikan ibadah, seperti shalat dan puasa dengan prioritas di Baitullah Mekkah Al-Mukaramah, Masjid Nabawi di Madinah, Masjidil Aqsa, dan  masjid-masjid di ibukota dan seterusnya, sampai di atas sajadah kediaman sendiri. Apalagi khususnya di Mekkah Al-Mukaramah, sebagai tempat lahirnya Nabi Muhammad Saw, tempat tujuan dalam ibadah haji dan atau umrah.

Dari segi waktu pelaksanaan ibadah, ummat Islam sangat paham bulan dan saat-saat mustajabah dan berpahala melimpah. Betapa tidak, bulan Ramadhan (sayyidul syuhr), misalnya, tentu bermakna sangat spesial dengan pelaksanaan ibadah ketimbang di bulan lainnya. Demikian juga hari Jum’at (sayyidul ayyam) atas enam hari lainnya, dan saat-saat khatib duduk diantara dua kutbah ketika Jumat berlangsung.

Dari segi orang yang mengerjakan ibadah itu, kita juga sering mendengar, bahwa orang ikhlas, orang baik dan orang yang terzalimi akan berbeda prioritas keridhaan Allah Swt atas orang lainnya.

Saat baik

Selain prioritas dalam beribadah mahdhah, maka dalam ragam urusan kehidupan ternyata kita juga kenal saat baik untuk melakukan atau meninggalkannya.

Secara historis antropologis, berbagai suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu biasa mempercayai adanya saat-saat baik, seperti tahun baik, bulan baik, pekan dan hari baik untuk suatu urusan tertentu.

Dalam banyak urusan,  misalnya melangsungkan perkawinan, mendirikan bangunan, rumah, toko, membuka jalan, bepergian dalam masa yang lama, memulai berkebun, menanam suatu tanaman, pergi melaut menangkap ikan dan lain sebagainya, harus mempertimbangkan saat-saat baik dimaksud.

Bahkan, ada kelompok masyarakat yang kemudian berpantang melakukan suatu urusan atau menganggapnya tabu pada saat yang dinilainya tidak baik.

Argumen dan pertimbangan untuk melakukan sesuatu atau meninggalkannya, biasanya tetap dibangun atas dasar kearifan, pengetahuan, pengalaman yang berulang-ulang atau lainnya.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!