Puasa Mendidik Keseimbangan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 15 Ramadhan 1440

Saudaraku, hari ini bertepatan dengan 15 Ramadhan 1440 dimana sudah 14 hari kita menunaikan ibadah Ramadhan kali ini dan 14 hari lagi yang akan kita tunaikan ke depan ini seandainya sebulan ada 29 hari. Artinya hari ini pas berada di pertengahan yang menyeimbangkan sebelum dan sesudahnya. Seandainya sebulan Ramadhan kali ini 30 hari berarti pertengahannya pas nanti malam.

Dari segi lahiriyahnya, kita saksikan rembulan sejak magrib sudah menyapa dengan kesempurnaan cahayanya. Semakin beranjak dari peraduannya dalam rangka tasbih mentaati titah Allah ta’ala, semakin putih sehingga berseri nampaklah keserasian, kesempurnaan dan keindahannya hingga fajar menyingsing tiba.

Dalam konteks ajaran, bahwa puasa itu menempati rukun Islam ketiga yang menyeimbangkan dua sebelumnya yaitu syahadat juga shalat dan dua rukun sesudahnya yaitu zakat juga haji. Demikian halnya, puasa itu satu-satunya rukun Islam yang pelaksanaannya justru dengan tidak makan tidak minum dan yang membatalkannya, sedangkan keempat rukun lainnya harus ditunaikan dengan melakukan sesuatu, seperti mengucapkan syahadat, menegakkan shalat, membayar zakat dan mengerjakan haji.

Ramadhan meskipun menempati bulan kesembilan dalam kalender hijriyah, namun ia menjadi bulan penyeimbang dari sebelas bulan lainnya. Bila dalam durasi tahun ada puasa Ramadhan, maka dalam durasi bulanan ada yaumul bidh (puasa pertengahan bulan hijriyah) dan dalam durasi sepekan ada puasa Senin dan Kamis.

Namun lebih dari itu, dalam hal puasa terdapat hal yang lebih substantif bahwa puasa menuntut dan menuntun kita memeluk prinsip keseimbangan, karena jelas-jelas dinyatakan oleh Rasulullah bahwa orang yang berpuasa akan merasakan bahagia di dunia dan di akhhirat.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang berpuasa merasakan dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Saudaraku, berbuka baik setiap magrib tiba selama bulan Ramadhan maupun berbuka di hari hari raya idul fitri merupakan kebahagiaan di dunia. Mengapa saat berbuka di saat magrib tiba kita merasakan kesenangan atau kenikmatan atau kebahagiaan yang luar biasa? Padahal kita berbuka dengan sangat bersahaja, hanya dengan segelas air putih, atau air teh manis yang telah disiapkan keluarga dan satu atau dua butir kurma. Kebahagiaan yang kita rasakan di hati dikarenakan oleh kesuksesan dapat menahan diri dan menunda merasakan kesenangan makan, minum dan lainnya di siang hari dalam rangka memenuhi kewajiban sehingga memperoleh keridhaan Allah ta’ala.

Adapun kebahagiaan di akhkrat yang akan diperoleh oleh orang yang berpuasa adalah saat bertemu (memandang atau bersatu) Allah Rabbnya.

Dengan demikian konsep bahagia itu meliputi bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, tidak pada salah satunya. Sekali lagi tidak pada salah satunya. Sa’idun fidunya wa sa’idun fil akhirat, tidak ada saqiyun fidunya dan sa’idun fil akhirat.

Makanya kehidupan surga (baca bahagia) sudah efektif sejak di dunia ini dan disempurnakan di akhirat nanti, maka begitu juga sebaliknya. Artinya kehidupan sengsara seperti gambaran di neraka juga bisa dirasakan sejak di dunia ini dan kesengsaraan sempurna di akhirat nanti.

Malah doa yang senantiasa kita panjatkan lebih dari sekedar bahagia, tetapi terhindar dari api neraka, rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar.

Prinsip keseimbangan juga menjadi nilai universal yang merembes ke seluruh aspek dalam kehidupan manusia yang berkeadaban. Pola makan mesti seimbang, agar badan tumbuh berkembang secara seimbang. Pemenuhan kebutuhan antara jasmani dan ruhani juga harus seimbang. Penyelenggaran pendidikan yang mengakomodir aspek kognitif, afektif dan psikonotorik juga harus seradi seimbang. Pola hablum minallah dan hablum minannas juga mesti seimbang. Pola kepemimpinan juga harus seimbang tidak ekstrem otoriter atau ekstrem bebas semau-maunya. Bersikap dalam kehidupan sehari-hari juga harus adil dan seimbang. Dan seterusnya.

Sekali lagi Islam mengajarkan keseimbangan. Dalam berbagai tempat Allah berfirman yang artinya, Dan carilah dengan apa yang dianugerahkan Allah untuk kebahagiaan akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuatlah kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakkan (Qs. Al-Qashash 28 : 77)

Ditimpakan kepada mereka kehinaan dimanapun mereka berada, kecuali bila mereka menjaga hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia (Qs. Ali Imran 112).

Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati (fuad) agar kamu bersyukur (Qs. Al-Nahl 78). Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati (fuad). Namun sedikit saja kamu bersyukur (Qs. Al-Mukminun 78) Mereka mempunyai hati (qalbu ) yang dengan itu mereka memahami (merasakan) atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar, karena sesungguhnya bukan matanya yang buta, tapi hatinya (Qs Al-Hajj 22 46 )

Ketika kita berhasil mengukuhkan prinsip keseimbangan dalam hidup dan kehidupan ini, maka kini saatnya kita mensyukurinya baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa puasa denga jelas dan tegas mengajarkan keseimbangan, sehingga kitapun memperoleh kesenangan (kebahagiaan) baik di dunia maupun di akhirat.

Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya melafalkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Dengan memujiNya, semoga Allah menurunkan rasa bahagia kepada kita semua baik di dunia ini maupun akhirat nanti.

Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, berdoa dan mengusahakan rasa bahagia sejak sekarang di dunia ini agar memerasakan sesempurna kebahagiaan di akhirat kelak.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!