Sunnah Nabawiyah Ketika Marah

Gema JUMAT, 01 April 2016

Oleh Ahmad Faizuddin

SETiAP orang bisa saja marah disebabkan oleh berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari. Marah adalah manusiawi. Ia senantiasa ada dan menghiasi hidup. Sifat marah tidak akan hilang karena ia adalah tabiat dalam diri manusia. Pada dasarnya marah itu tidak dilarang, namun Islam memberikan pedoman atau adab untuk mengendalikan marah.

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa seorang Sahabat berkata kepada Nabi SAW, “Berikanlah nasihat kepada saya.” Maka Nabi SAW bersabda, “Janganlah marah.” Sahabat tersebut mengulangi pertanyaannya beberapa kali, dan Nabi SAW mengatakan hal yang sama setiap kalinya (H.R. Bukhari, 8/137).

Kalau marah itu tidak dilarang, lantas mengapa Nabi SAW berpesan supaya “jangan marah”? Menurut al-Khaththabi sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, larangan Rasulullah SAW dalam hadis tersebut adalah untuk menjauhi sebabsebab yang mengarah kepada marah.

Rasulullah SAW memberikan obat penawar dan trik sederhana untuk mengatasi marah, yaitu dengan berwudhu’, sujud, mengubah posisi atau diam. Pertama, berwudhu’. Beliau bersabda, “Sesungguhnya kemarahan itu berasal dari syaithan. Dan syaithan tercipta dari api. Dan sesungguhnya api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah seorang diantara kalian marah, maka berwudhu’lah (Musnad Ahmad, 4/226; Sunan Abu Daud, 4748).

Kedua, sujud. Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud)” (H.R. Tirmidzi). Artinya ketika kita marah, maka hendaklah kita berwudhu’ dan melaksanakan shalat sunnat minimal dua raka’at.

Ketiga, mengubah posisi. Abu Dzar meriwayatkan bahwa Rasul SAW bersabda, “Kalau salah seorang diantara kamu marah dalam kondisi berdiri, maka hendaklah dia duduk, karena hal itu dapat menghilangkan kemarahan. Kalau belum (hilang), maka hendaklah berbaring” (Shahih al-Jami’, 694; Musnad Ahmad, 5/152).

Keempat, diam. Boleh jadi orang yang sedang marah itu tanpa sadar mengeluarkan kata-kata atau melakukan perbuatan yang dapat merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah rasa dengki di hati. Maka diam ketika marah itu lebih baik akibatnya. Nabi SAW bersabda, “Kalau salah seorang diantara kamu marah, maka diamlah (Musnad Ahmad, 1/329).

Secara lebih khusus, Syaikh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, dalam kitab Mausu’at al-Adab al-Islamiyah, menerangkan beberapa adab yang berkaitan dengan marah. Janganlah marah kecuali karena Allah SWT, seperti marah karena menyaksikan kejahatan. Marah dalam hal ini malah mendapatkan pahala. Rasulullah SAW tidak pernah marah karena urusan pribadinya dan tidak pernah dendam. Jadi seorang Muslim seharusnya menjauhi marah karena urusan dunia.

Selain tidak mendatangkan pahala sama sekali, marah dalam urusan dunia dapat menjerumuskan seseorang kepada pertikaian dan memutuskan hubungan silaturahim.

Selanjutnya, ingatlah keagungan dan kekuasaan Allah SWT ketika marah. Allah SWT menyukai hambahambaNya yang dapat menahan nafsu amarahnya sebagaimana Firman-Nya, “Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orangorang yang bertakwa. (Yaitu) orangorang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orangorang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Q.S. Ali ‘Imran 3: 133-134). Nabi SAW bersabda, “Kalau seseorang marah kemudian dia mengatakan ‘Saya berlindung kepada Allah’ maka marahnya akan mereda” (Shahih al-Jami’ al-Shaghir, 695).

Akhirnya, sebaik-baik perbuatan ketika marah adalah memberi maaf dan bersabar. Allah SWT memuji para hamba-Nya, “Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal. Dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf (Q.S. Asy-Syuura 42: 36-37). Wallahu a’lam.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!