Aset Masjid

GEMA JUMAT, 25 JANUARI 2019

Mungkin Anda masih ingat ketika bocah dan ribut di meunasah atau masjid, jamaah dewasa atau pengurus meunasah/masjid meminta anak-anak untuk pulang atau sembahyang di luar. Nama juga anak-anak yang kadangkala suka lari-lari atau tertawa ketika sembahyang.

Ada solusi untuk anak-anak agar tertib ketika shalat yakni di shaf anak-anak diselipkan orang dewasa atau anak-anak diselipkan di bagian akhir shaf atau yang berdekatan dengan dinding.  Intinya, anak-anak tetap ke masjid atau meunasah untuk berjamaah agar hal ini menjadi ingatan  bagus yang terus diwariskan hingga ke masa depan.

Apakah aset utama meunasah atau masjid? Karpet impor dari Turki, marmer dari Itali, sound system dari Jepang? Peralatan mewah itu bukanlah aset utama masjid/meunasah. Aset utama masjid adalah jamaah yang terus bertambah. Bisa saja karpet masjid sudah usang, toa yang sudah tua dan sebagainya. Semua fasilitas masjid yang hilang karena ketinggalan model atau teknologi bisa dibeli lagi dengan kekuatan jamaah.

Mengingat aset masjid yang utama adalah loyalis jamaah shalat 5 waktu atau setidaknya pada sembahyang Shubuh atau Magrib, maka perlu kaderisasi jamaah sejak bocah. Sehingga sejak anak-anak merasa nyaman berada di masjid dari bermain-main di serambi masjid. masjid tidak hanya sekadar untuk ritual semata. Masjid di masa kini adalah masjid yang bisa ditambah dengan fasilitas-fasiltas pendukung seperti parkir kendaraan yang luas, kios yang menjual souvenir atau  yang berkaitan dengan ibadah termasuk pustaka dengan bacaan-bacaan terbaru. Jika masjid memiliki kas hingga ratusan juta, dapat membuka klinik kesehatan gratis kepada jamaah.

Dengan manajemen transparan,  kegiatan di masjid bisa berlangsung sejak shubuh hingga setelah isya dengan berbagai aktivitas. Masjid pun semarak atau ramai dengan kegiatan kuliah termasuk tempat bermain bagi anak-anak. Kewajiban orangtua meleburkan hati anak-anak ke masjid alias selalu terpaut hatinya ke masjid sebagai pusat kegiatan.

Membawa anak-anak ke masjid dan membiarkan mereka di dalam masjid adalah mengikuti cara Rasulullah yang memperlakukan dua cucu kesayangannya yakni Hasan dan Husain. Ketika Shalat Isya,  tiba-tiba mereka merangkak ke punggung Nabi, lantas beliau mengangkat kepala sembari menahan keduanya dengan tangan beliau dengan cara yang sangat lembut. Kemudian Nabi mendudukkan keduanya di sampingnya, lalu kembali melanjutkan shalat.

Setelah salam, Nabi mendudukkan keduanya di atas paha beliau. Lalu Abu Hurairah berkata: Wahai Rasulullah biar saya antarkan mereka pulang ke rumah ibunya? Nabi menjawab : Tidak usah. Nabi berbicara langsung kepada Hasan dan Husain dengan lembut: Pulanglah ke rumah ibu kalian dan mereka pun pulang ke rumah Fatimah. Merujuk hadits itu,  Nabi tidak marah atau melarang anak-anak  ke masjid, meskipun dalam pelaksanaan shalat jamaah sekalipun.

Sejak kecil, anak-anak sebagai generasi penerus Islam harus diikatkan hatinya ke masjid. caranya dengan membiasakan mereka bermain ke lingkungan masjid hingga beranjak dewasa. Mereka adalah aset masjid yang harus dikawal sejak ingusan sehingga membekas sampai besar. Jika sejak kecil sudah diarahkan ke masjid hal ini berpotensial bertahan hingga lanjut usia tetap menjadikan masjid sebagai sumber aktivitas.  Solusi terakhir, perlu petugas masjid menjaga shaf anak-anak agar tertib sembahyang. [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!