Agar Ibadah Kita Diterima

GEMA JUMAT, 02 JUNI 2017

Dr. Tgk. Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA Khatib Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Setiap muslim  berharap kepada Allah Swt agar ibadahnya diterima. Ia ingin ibadahnya mendapat ridha Allah Swt dan bernilai pahala dari-Nya. Ia tidak ingin ibadahnya ditolak dan menjadi sia-sia. Namun, berapa banyak orang yang melakukan ibadah atau amal shalih akan tetapi tidak terima, bahkan menuai murka Allah Swt. Hal ini dikarenakan ibadah atau amal shalihnya dikerjakan dengan tidak ikhlas dan tidak sesuai petunjuk Nabi Saw. Shalat dikerjakan dengan rajin, puasa dijalankan dengan disiplin, zikir dilakukan secara rutin dan haji dilaksanakan berkali-kali, namun semuanya tidak dilakukan dengan ikhlas, tapi semata karena mengharapkan suatu manfaat duniawi, baik materi berupa harta, pangkat, jabatan dan sebagainya, maupun pujian dan sanjungan manusia. Atau dikerjakan tidak sesuai dengan petunjuk Rasul saw. Bila halnya demikian, maka ibadah orang tersebut tidak akan diterima oleh Allah Swt.

Menurut para ulama, secara umum suatu ibadah atau amal shalih akan diterima jika memenuhi dua syarat yaitu ikhlas  dan mutaba’ah ar-Rasul (mengikuti Rasul saw). Kedua syarat ini mesti ada dan tidak bisa dipisahkan. Bila hanya ikhlas, namun tidak sesuai dengan petunjuk Rasul saw, maka ibadah kita tidak akan diterima. Begitu pula sebaliknya, bila ibadah yang kita kerjakan sesuai dengan petunjuk Rasul saw, namun tidak ikhlas, juga tidak akan diterima. Suatu ibadah baru akan diterima bila dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasul saw.

Di antara dalil yang memperkuat pernyataan diatas adalah firman Allah Swt, “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan  dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Tuhan-Nya.” (Al-Kahfi: 110). Didalam ayat tersebut Allah Swt memerintahkan agar amal itu berupa amal shalih, yaitu sesuai dengan apa yang ditetapkan  di oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Lalu Allah Swt memerintahkan kepada pelaku amal tersebut untuk mengikhlaskan karena-Nya dengan tidak mengharap selain-Nya.

Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya berkata, “Inilah dua rukun amal yang diterima disisi Allah Swt, yaitu dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan syariat Rasulullah saw.” Ungkapan ini juga diriwayatkan pula dari al-Qadhi ‘Iyadh dan lainnya.

Fudhail bin ‘Iyadh menafsirkan firman Allah, “..untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya..” (al-Mulk: 2), ia berkata “Yaitu yang paling ikhlas dan benar. Suatu amalan jika dikerjakan secara ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Sebaliknya bila benar namun tidak ikhlas maka tidak diterima pula. Amalan tersebut baru diterima bila dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas itu hanya semata-mata karena Allah Swt. Sedangkan benar itu apabila sesuai dengan sunnah Rasul.” (Jami’ul Ulum wal Hikam: 1/72)

Syarat pertama: ikhlas

Ikhlas adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah swt, tanpa ada keinginan untuk mendapat keuntungan duniawi, baik berupa harta, pangkat, jabatan maupun pujian dan sanjungan dari manusia. Banyak ayat al-Quran dan hadits yang memerintahkan kita untuk ikhlas dalam beribadah dan beramal shalih. Di antaranya, firman Allah Swt, “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah Swt dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…” (Al-Bayyinah: 5). Adapun hadits Rasulullah saw, diantaranya sabda beliau, “Sesungguhnya suatu amal itu akan diterima dengan niat (ikhlas)” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, ikhlas merupakan syarat mutlak diterima suatu ibadah.

Ibadah yang dikerjakan dengan tujuan selain Allah disebut riya’. Riya’ adalah memperlihatkan ibadah kepada orang lain dengan tujuan ingin dipuji.  Perbuatan riya’ termasuk dosa besar berdasarkan firman Allah swt, “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang berbuat lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’.. (al-Ma’un: 4-6). Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya (sum’ah), maka Allah akan memperdengarkan (aib) dirinya (dihari Kiamat), dan barangsiapa yang memamerkan amalnya (riya) maka Allah akan memamerkan (aib) dirinya (dihari Kiamat).” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda, “Allah berfirman, “Aku adalah zat yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan, didalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan kesyirikannya.” (H.R Muslim)

Syaikh Ibnu ‘Allan berkata, “Riya disebut juga syirik, karena ia merupakan  syirik khafi (tersembunyi), meskipun tidak mencabut pokok keimanan seseorang tapi ia menghapus seluruh amalan yang disertainya.” (Nuzhatul Muttaqin, 2/331). Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Riya adalah dosa dari jenis syirik. Dan bisa saja menjadi syirik besar. Riya adalah sifatnya orang-orang munafik.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 6/340).

Ibadah atau amal shalih yang dikerjakan dengan riya’ (pamer) maka menjadi sia-sia sebagaimana firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebutkan-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia..” (al-Baqarah: 264). Allah Swt juga berfirman, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amal-amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

Syarat kedua: Mengikuti petunjuk Rasul saw.

Ibadah yang tidak sesuai atau menyelisihi  petunjuk  (Sunnah) Nabi Saw tidak akan diterima oleh Allah Swt. Rasul saw bersabda, “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu urusan agama yang bukan berasal dari petunjuk kami maka amalannya tersebut ditolak” (H.R. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat yang lain,“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan berasal dari petunjuk kami maka amalannya tersebut ditolak” (H.R. Muslim). Berdasarkan kedua hadits tersebut,  mengikuti petunjuk (Sunnah) Rasul saw merupakan syarat mutlak diterimanya amal ibadah kita.

Seorang muslim wajib mengikuti petunjuk (sunnah) Rasul saw. Banyak ayat al-Quran dan hadits yang memerintahkan hal ini. Di antaranya, firman Allah Swt,“Apa yang diberikan oleh Rasul (Muhammad) maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr: 7).  Seseorang belum dianggap taat kepada Allah sebelum taat kepada Rasul saw. Allah Swt berfirman, “Barangsiapa yang taat kepada Rasul (Muhammad) maka sungguh ia telah taat kepada Allah.” (An-Nisa’: 80). Demikian pula seseorang belum dianggap mencintai Allah Swt sebelum ia mengikuti sunnah Rasul saw. Allah Swt berfirman, “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu sekalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosa kamu sekalian”. (Ali Imran: 31)

Allah Swt mengancam bagi orang yang menyalahi sunnah Rasul-Nya dengan cobaan dan azab yang pedih, sesuai dengan firman-Nya, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63).

Nabi Saw bersabda: ““Wajib atas kalian mengamalkan sunnahku dan sunnah para sahabat khulafaurrasyidin sepeninggalku nanti. Berpegang teguhlah dengan sunnah tersebut dan perkuatkan sunnah tersebut…”.  (H.R Abu Daud dan At-Tirmizi).

Ibadah yang dilakukan dengan tidak sesuai atau bertentangan dengan petunjuk Nabi Saw dikecam keras oleh Rasul saw dengan sabdanya: “Jauhilah oleh kalian membuat hal-hal baru dalam persoalan agama (bid’ah), karena setiap bid’ah adalah kesesatan.” (H.R Abu Daud dan At-Tirmizi). Dalam riwayat yang lain, “Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru dalam agama dan setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan (tempatnya) dalam neraka.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmizi).

Mengingat persoalan ibadah merupakan persoalan tauqifiyyah (berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah) maka kita wajib mengikuti ketentuan ibadah yang telah diatur dalam al-Quran dan as-Sunnah, agar ibadah kita diterima oleh Allah Swt dan bernilai pahala. Apapun alasannya, kita tidak dibenarkan untuk melakukan bid’ah dengan menambah atau mengurangi ibadah yang telah ditentukan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Semoga Allah Swt menerima ibadah kita. Amin..!

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!