Hakikat Tawakkal Kepada Allah

GEMA JUMAT, 02 NOVEMBER 2018

Oleh Tgk Rusli Daud, SHI (Pimpinan Dayah Mishrul Huda Malikussaleh  Gampong Lamjamee Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh)

Tawakkal merupakan bagian dari ajaran Islam yang sangat penting. Bahkan kata Imam Al Ghazali, Tawakkal merupakan salah satu dari amal bathin. Karenanya, Tawakkal sangat ditekankan di dalam Al Qur’an. Kata “Tawakkal” disebut di dalam Kitab Suci ini tidak kurang dari 30 kali yang tersebar di dalam 19 surah yang berbeda, Tawakkal inilah yang merupakan salah satu hal yang membedakan antara orang beriman dengan orang tak beriman. Karena iman itu menjadi barometer atau tolok ukur wujudnya tawakkal dalam jiwa seseorang.

Menurut Imam Ahmad bin Hambal [Imam Hambali], tawakkal merupakan perbuatan hati (‘amal albathiniyah). Artinya, tawakkal bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Juga bukan merupakan sebuah wacana atau sekedar pengetahuan belaka. Tetapi sekali lagi, tawakkal merupakan perbuatan hati sehingga tidak bisa diwujudkan dalam bentuk fisik, seperti berdiam diri tanpa melakukan suatu ikhtiar lahiriyah.

Sikap pasrah yang ditunjukkan dengan tidak adanya usaha fisik atau ikhtiar lahiriyah seperti itu belum bisa disebut sebagai tawakkal, tetapi Ibarat perang, merupakan sikap menyerah sebelum maju ke medan pertempuran. Rasulullah SAW telah memberikan gambaran tentang Tawakkal sebagaimana beliau sabdakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban: Pada zaman Rasulullah saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, “Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah”.

Nabi Muhammad saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata,“Ikatlah untamu dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal bertawakkallah.” Hadits tersebut memberikan pengertian bahwa tawakkal tidak meniadakan usaha lahiriyah atau perbuatan fisik seperti mengikat seekor unta ketika seseorang menginginkan hewan ternaknya itu tidak meninggalkan dirinya alias hilang. Misalnya, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal. Contoh lainnya adalah, misalnya saat akan menghadapi ujian sekolah atau ujian lainnya, sebelum bertawakkal kepada Allah maka kita harus bekerja keras atau berusaha dulu untuk menghafal agar mendapat nilai ujian yang bagus. Apabila kita sudah menghafal dan berusaha semaksimal mungkin, maka hasilnya baru kita serahkan kepada Allah SWT.

Hikmah Tawakkal

Pertanyaan yang sering muncul terkait dengan Tawakkal adalah kapan seharusnya Tawakkal itu kita lakukan; apakah sebelum, pada sa’at, atau setelah usaha atau ikhtiar kita lakukan?  Kalau kita perhatikan hadits tersebut, maka jelas bahwa Rasulullah SAW memerintahkan agar seseorang berusaha atau berikhtiar terlebih dahulu baru kemudian berTawakkal. Artinya, manusia tidak boleh berdiam diri, berpangku tangan, berenak-enakan, atau bermalas-malasan, sementara urusannya diserahkan begitu saja kepada Allah SWT. Apalagi dalam sebuah hadits yang lain disebutkan “Orang mukmin yang kreatif dan kuat, itu lebih dicintai oleh oleh Allah daripada mukmin yang dhaif”.

Tetapi kalau hadits di atas kita hubungankan dengan Surah Al Imran, ayat 159, yang artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka Bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”Maka, kita akan mengetahui bahwa ketika kita baru sampai pada tahapan niat saja untuk mencapai sesuatu, pada tahapan itu pun kita sudah harus melakukan Tawakkal kepada Allah SWT. Dengan kata lain, Tawakkal harus kita lakukan baik sebelum maupun sesudah kita berusaha untuk mencapai sebuah maksud.

Hadhirin yang di Rahmati Allah, Kita semua tahu bahwa perbuatan atau usaha manusia terdiri dari 3 (tiga) tahap, yakni: (1) tahap niat, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap hasil. Berdasar pada Surah Ali Imran, ayat 159 dan hadits Rasulullah SAW itu, maka tawakkal harus kita lakukan pada akhir setiap tahap. Artinya, kita harus bertawakkal kepada Allah SWT dalam keseluruhan tahapan itu. Maksud dari uraian tersebut adalah bahwa ketika kita baru menyelesaikan tahap niat, maka segeralah setelah itu kita harus bertawakkal kepada Allah SWT dengan memasrahkan niat atau tekad kita itu kepada Allah SWT Yang Maha Tahu atas Segala Sesuatu.

Kemudian, ketika kita baru menyelesaikan tahap pelaksanaan, maka segera setelah itu kita harus bertawakkal kepada Allah SWT dengan memasrahkan usaha atau ikhtiar itu kepada Allah SWT, Yang Maha Kuasa atas Segala Sesuatu. Akhirnya, ketika kita telah sampai pada tahap terakhir, yakni tahap hasil, kita harus lebih bertawakkal dengan memasrahkan apa pun hasilnya kepada Allah SWT Yang Maha Adil dan Bijaksana sebab tahap hasil adalah wilayah Allah SWT. Bagaimanapun Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Jika hasilnya positif, yakni Allah memberi kita keberhasilan sesuai dengan apa yang harapkan, maka kita harus bersyukur kepada Allah SWT. Jika Allah memberi sebaliknya, kita harus bersabar dengan tetap introspeksi atau evaluasi diri dimana letak kekurangan atau kelemahan kita pada setiap tahap yang kita lewati.

Tawakkal memiliki banyak sekali hikmah sebagaimana ditegaskan di dalam Al Quran; di antaranya adalah:

Pertama, orang yang bertawakkal kepada Allah akan mendapat perlindungan, pertolongan dan bahkan anugerah dari Allah SWT sebagaimana ditegaskan di dalam Surah Al-Anfal, ayat 49, yang Artinya: “Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Orang-orang yang senantiasa bertawakkal kepada Allah dalam setiap urusannya, Allah akan menunjukkan bukti keperkasaan dan kebijaksanaan-Nya.

Tentu kita ingat bagaimana ketika Rasulullah hendak dibunuh dengan diacungi sebilah pedang terhunus oleh seorang kafir Quraisy bernama Suraqah bin Malik. Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah SAW yang hatinya selalu bertawakkal kepada Allah SWT, mendapat perlindungan dari Allah SWT. Secara mendadak bumi yang ada di depan Suraqah yang sedang memacu kudanya, retak dan menelan kaki kudanya hingga Suraqah dan kudanya tak berdaya. Suraqah kemudian menyerah pada Rasululah dan meminta maaf dan mengajak berdamai.

Kedua, orang yang bertawakkal kepada Allah SWT akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat sebagaimana ditegaskan dalam Surah An-Nahl, ayat 41-42 yang artinya: “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal.”

Orang-orang yang selalu bertawakkal kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupannya, akan selalu mendapat balasan dari Allah SWT, tidak hanya balasan kebaikan di dunia tetapi terlebih balasan di akherat nanti. Di dunia saja, mereka akan hidup dengan tenang dan tentram sehingga terhindar dari stres berat maupun depresi yang berkepanjangan. Terlebih di akherat, mereka akan mendapat surga yang tinggi karena Allah mencintai orang-orang yang senantiasa bertawakkal kepada-Nya.

Ketiga, orang yang bertawakkal hidupnya akan dicukupi oleh Allah SWT sebagai ditegaskan dalam Surah Ath-Thlaaq, ayat 3 yang artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”

Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah SWT bahwa orang-orang yang hatinya senantiasa bertawakkal kepada-Nya, akan dicukupi seluruh keperluan hidupnya, baik secara material maupun spiritual. Orang-orang yang hidupnya dicukupi oleh Allah SWT tidak mungkin mengalami kekurangan meskipun bisa saja orang itu orang sederhana dan bukan orang kaya. Demikian pula, orang-orang kaya yang hatinya selalu bertawakkal kepada Allah tidak akan mengalami kekhawatiran akan bangkrut sebab Allah akan selalu mencukupinya.

Sebaliknya, orang-orang kaya yang masih suka serakah dengan berbuat curang atau korupsi demi memperoleh keuntungan besar bukanlah orang kaya yang senantiasa bertawakkal kepada Allah SWT. Orang-orang seperti itu tidak akan pernah merasa cukup dalam hidupnya karena Allah membuatnya tidak cukup meski sekaya apapun. Qarun adalah contoh orang kaya yang tidak pernah merasa cukup karena tidak pernah bertawakkal kepada Allah SWT.

Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat membuka kesadaran kita semua, terutama saya sendiri, untuk senantiasa bertawakkal kepada Allah SWT karena dengan Tawakkal itulah kita akan dicukupi oleh Allah SWT, baik secara material maupun spiritual. Semoga kita selalu diberi oleh Allah SWT kemudahan-kemudahan dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, termasuk dalam masalah Tawakkal kepada-Nya. Amin ya rabbal alamin.

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!