Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 18 Syawal 1440

Saudaraku, bermaksud menyambung pesan muhasabah tentang syawalan, upgrading personaliti islami, maka tema muhasabah hari ini adalah peningkatan kualitas hidup dengan memeluk tuntunan hemat.

Hemat lazimnya dipahami sebagai sikap yang seperlunya saja, yang secukupnya saja, adil dan proporsional dalam menggunakan sesuatu sekaligus jauh dari sikap boros. Tetapi harus buru-buru diberi catatan bahwa hemat di sini tentu tidak sama dengan kikir atau kerit atau pelit. Kalau kikir, kerit atau pelit itu energinya negatif, tetapi hemat itu energinya positif sebagai bagian dari akhlak al-karimah. Makanya hemat menjadi di antara ciri orang-orang sukses (baca bertakwa).

Secara normatif teologis, untunan hemat dapat ditemujan dalam beragam ayat al-Qur’an. Di antaranya Allah berfirman yang artinya, dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Qs. Al-Isra’ 29)

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (Qs. Al-Furqan 67)

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-A’raf:31)

Dalam realitas hidup dan kehidupan seorang muslim, setidaknya hemat harus mewujud dalam beberapa aspek penting, di antaranya.

Pertama, hemat dalam menggunakan sumber daya alam misalnya air, minyak atau bahan bakar, tambang, listrik, bahan makanan dan minuman. Hal ini dimaksudkan agar kelestarian, keasrian, dan kebermanfaatan sda dapat dinikmati oleh antar generasi anak cucu kita dan seterusnya.

Tentang ajaran hemat menggunakan air, saat melintasi dan di sungai sekalipun, kita tetap dituntut untuk hemat saat mengambil air sembahyang atau mandi. Dalam sebuah riwayat yang dikutip Republika.co.id disebutkan bahwa pada suatu saat Rasulullah saw menemui sahabat Sa’ad yang sedang berwudhu. Ia berwudhu dengan banyak menggunakan air. Melihat hal ini Rasulullah saw menegurnya. ”Mengapa engkau berbuat boros, wahai Sa’ad?” Sa’ad menjawab, ”Apakah dalam air juga ada pemborosan?” ”Ya, walaupun engkau berada di sungai maupun lautan,” jawab Nabi Muhammad saw. (HR Ahmad dan Ibnu Majah dari hadis Ibnu Umar).

Rasulullah saw melarang umatnya berbuat boros dalam menggunakan air (baca dalam segala hal), kendatipun itu untuk keperluan berwudhu, meski tetap menyuruh menyempurnakan wudhu’nya.

Jadi menggunakan air tetap harus dihemat, apalagi air PAM, air galon atau air mineral yang belum tentu semuanya murah melimpah dan mudah. Bersuci dengan air seperlunya saja, tidak perlu menghidupkan kran air sampai deras sekali sehingga muncrat-muncrat ke kiri kanan, jangan sampai berlama-lama betulang-ulang mrlebihi kelaziman dalam membasuh anggota wudhu sehingga mubazir dalam menghabiskan air.

Demikian juga dalam menggunakan bahan bakar, minyak lampu atau minyak kendaraan, atau arus listrik, kita dituntun untuk berlaku hemat, memanfaatkan seperlunya saja dan mematikan saat tidak digunakan lagi. Semoga juga tidak lupa meskipun di hotel sekalipun untuk mematikan ac, lampu, kran air, kompor, komputer, tv, radio dll saat tidak digunakan atau saat tidak ditempati lagi atau saat pulang kerja.

Berlaku hemat juga terhadap bakal makanan bakal sayuran dan atau makanan dan minuman, yakni hanya menggunakan/memasak/memesan seperlu yang dikonsumsi saja, tidak terlalu banyak sehingga dikhawatirkan berlebih dan menjadi basi, atau busuk dan harus dibuang. Harus ada gerakan pantang membuang makanan, termasuk saat nginap atau makan di hotel atau saat makan menghadiri kenduri hajatan.

Kedua, hemat berbelanja. Berbelanja kini menjadi trend bagi sebagian orang, bahkan ke luar negeri segala. Namun mesti diingat bahwa, pas gajian atau saat kaya sekalipun, kita tetap dituntun dan dituntut untuk berlaku hemat saat berbelanja. Berbelanja hanya terhadap item-item yang kita butuhkan saja bukan terhadap semua barang atau sesuatu yang kita inginkan. Kalau menuruti keinginan, rasanya seluruh isi mall atau swalayan yang ada di kota itu pindah ke dalam rumah atau lemari kita. Tetapi kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan saja rasanya kok tak seberapa persennya bila dibandingkan dengan keinginan manusia yang tidak akan ada batasnya.

Syukur-syukur berbelanja itu memadahi di warung atau toko tetangga sendiri bila ada, agar uang berputar di lingkungan sesama warga sekaligus tidak setor kepada orang-orang kaya yang punya mall dan supermarket yang belum tentu seakidah lagi. Di samping itu, bila berbelanja di warung tetangga yang sesama muslim, maka akan ada zakat harta setiap tahunnya yang akan ditunaikannya sehingga manfaatnya kembali ke orang-orang Islam. Tetapi kalau berbelanja ke mall atau suoermarket yang didominasi dimiliki oleh orang non muslim, mana mungkin mereka mengeluarkan zakatnya. Malah bisa-bisa mereka menyalurkan donasinya ke para pihak yang ujung-ujungnya justru merugikan umat Islam sendiri. Saatnya ada gerakan berbelanja di pasar tradisional atau toko tetangga yang pemiliknya sesama muslim.

Ketiga, hemat tenaga. Saudaraku, sekuat dan semuda apapun kita, tenaga manusia tetap ada batasnya. Jadi kita tidak elok memaksa atau memporsir tenaga yang ada atau ngoyo. Oleh karenanya tenaga perlu dihemat, tidak perlu dihabiskan untuk hal-hal yang tak bermafaat, apalagi terhadap yang lagha. Tenaga semestinya hanya “dibelanjakan: seperlunya saja untuk hal-hal yang bermanfaat agar tetap tahan lama dalam beribadah, dan mengabdi pada Ilahi.

Keempat, hemat dalam bertutur kata. Mesti diingat bahwa kita hanya dianugrahi satu lisan, sementara mata, telinga, lobang hidung, kaki, tangan, dan bahu masing-masing dua atau sepasang yaitu kiri dan kanan. Karena lisannya satu dan kecil lagi harusnya bicaranya sedikit dan hemat, sedangkan aktivitas melihat, memperhatikan, membaca, mendengarkan, melakukan sesuatu, melangkah untuk bekerja mencari nafkah harusnya lebih banyak dan lebih sering.

Kelima, hemat atau irit di wajah meski boros di usia. Istilah ini saya peroleh saat saya diperkenalkan oleh Rektor UIN saat itu Prof Farid Wajdi Ibrahim di hadapan mahasiswa baru UIN Ar-Raniry (saat itu masih IAIN) di gedung sosial saat mewakili Pimpinan Pascasarjana UIN. Jadi hemat di wajah “awet muda” meski usia sudah berbilang menua. Resep agar hemat di wajah meski bertambahnya usia tidak bisa dielak juga, adalah hidup mesti enjoy, menikmati dan mensyukuri yang ada (mensyukuri istri atau suami yang ada, anak yang dikaruniakan ke kita, rezeki yang tidak putus-putusnya dst). Di samping itu, seyogyanya hidup itu juga tidak usah membawa beban dosa dan tidak elok memikul beban hutang (apalagi hutang di rentenir, bank-bank berlebel syariah sekalipun).

Ketika sikap hemat telah dapat dikukuhkan dalam kehidupan sehari-hari, maka kita berkewajiban mensyukurinya, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri dengan hati, yakni meyakini bahwa hemat merupakan ajaran mulia.

Kedua, mensyukuri dengan lisan, yakni memperbanyak mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Dengan terus memujiNya semoga Allah menganugrahi kita hidayahNya yang terus menuntun meraih keridhaanNya.

Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, berlaku hemat, baik hemat dalam menggunakan sda, hemat berbelanja,
maupun hemat bertuturkata.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!