HIKMAH IBADAH HAJI

GEMA EDISI JUM’AT / SEPTEMBER DAN IDUL ADHA 1437H / 2016M

Oleh: Prof. Dr. Rusjdi Ali Muhammad, SH

Haji dan Syi’ar Islam

Allah swt telah mensyariatkan berbagai syi’ar bagi hamba-Nya yang sesungguhnya
mengandung rahmat dan maslahat yang besar bagi kaum Muslimin. Di antara rahmat Allah swt kepada ummat Islam adalah kewajiban menunaikan ibadah haji bagi semua kaum muslimin di seluruh dunia. Kewajiban haji adalah salah satu rukun Islam dengan syarat mempunyai kemampuan, sebagaimana firman Allah swt:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang
sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban
haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran/3:97). Kewajiban haji sesungguhnya adalah sekali selama hidup. Dalam sebuah hadits Rasulullah ditanyai seorang sahabat, apakah haji itu wajib dilaksanakan setiap tahun? Rasulullah menjawab:

“Tidak. Sekiranya saya katakan ya, maka pasti haji akan diwajibkan setiap tahun. Namun kewajiban haji itu sekali dalam seumur hidup, siapa yang melaksanakannya lebih dari sekali, maka itu adalah tathawwu’, ibadah sunnah”.

Ini merupakan kemudahan yang diberikan syari’at Islam, yaitu dengan hanya memerintahkan haji sekali selama hidup.

Sekiranya diperintahkan lebih dari itu pasti akan memberatkan bagi manusia, namun dengan kelembutan dan rahmat-Nya Allah hanya mewajibkannya sekali selama hidup. Sabda Rasulullah saw: “Umrah ke umrah yang lain dapat menghapus dosa-dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam hadis lainnya Rasulullah saw bersabda:
“Siapa yang haji dan tidak melakukan rafats dan fusuq maka akan dibersihkan dari
dosa-dosanya sehingga dia bersih seperti baru dilahirkan oleh ibunya”.

Larangan Rafats Fusuq dan Jidaal Larangan rafats dan fusuq ini ini juga disebut dalam Al Quran dalam Surat Al Baqarah, 197:

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan pengertian falaa rafatsa artinya: barang siapa
yang berihram untuk haji dan kepaumrah, maka hendaklah ia menghindari hal-hal yang menjurus pada hubungan suami isteri dan semisalnya, demikian juga membicarakannya di hadapan para wanita, termasuk senda gurau berlebihan yang menjurus kepada hal-hal porno. Setiap orang yang berhaji, dilarang melakukan “rafats”.

Kata “walaa fusuuqa”, dan janganlah berbuat fasiq, dari riwayat Ibnu Abbas ialah segala macam perbuatan maksiat. Riwayat lainnya menyebutkan,”yang dimaksud al-fusuq disini adalah caci maki. Mereka ini berpegang kepada hadist Rasulullah SAW bahwa: “Mencaci maki orang muslim itu merupakan suatu kefasikan dan memeranginya merupakan kekufuran.” Secara umum yang dimaksud dengan al-fusuq disini segala bentuk kemaksiatan, yang juga dilarang oleh Syariat pada bulan-bulan haji, meskipun maksiat itu sendiri dilarang sepanjang tahun, namun
pada bulan-bulan haji hal itu lebih ditegaskan lagi.

Adapun kata walaa jidala fil haj, “dan tidak boleh berbantah- bantahan pada waktu
mengerjakan haji”. Maksudnya adalah larangan bertengkar atau berbantah-bantahan dalam melaksanakan ibadah haji. Keharusan untuk menjaga lidah ini
bias saja muncul setiap saat, tanpa disadari. Mulai dari satu ucapan, kemudian berkembang ke sana ke mari tanpa kendali, menjadi “ghibah” (membicarakan
orang lain), “namimah” (adu domba), dan fitnah (mengatakan sesuatu dari atau bagi
orang lain tanpa fakta yang jelas). Untuk mencegah ketiga perbuatan tersebut, para jemaah haji harus mulai menjaga lisan masing-masing.

Imam al Gazhali dalam “Ihya Ulumuddin”, menguraikan 20 (dua puluh) bahaya yang akan ditimbulkan oleh lisan (yang diucapkan sembarangan), yang jika dilakukan para jemaah haji, akan termasuk kategori ”rafats”, bahkan “jidal”. Antara lain misalnya
berkata-kata yang tidak berguna. Menghabiskan waktu untuk membicarakan berbagai hal yang sama sekali tidak mengandung manfaat. Padahal waktu dapat dianggap sebagai modal pokok hidup manusia untuk beramal saleh. Sekarang, waktu amat berharga itu dibuangbuang hanya untuk menyampaikan
atau mendengarkan omongan-omongan tak bermanfaat, seperti senda gurau,
berkhayal, mengada-adakan sesuatu agar enak diucapkan dan didengarkan, dan hal-hal negatif lainnya. Contoh lain adalah berlebih-lebihan dalam berbicara. Memanjangkan kalimat untuk maksud yang pendek agar dianggap indah dan fasih.
Kelebihan lisan ini dianggap membahayakan karena bahaya dan dapat menimbulkan salah pengertian. Itulah sebabnya dilarang untuk berlebihan dalam bicara ketika melaksanakan ibadah haji, untuk menghindari pertengkaran atau jidal.

Ibadah Qurban

Salah satu rangkaian penting dalam rangka ’Idul Adhha adalah ibadah Qurban. Tampak lahiriyahnya ibadah Qurban adalah menyembelih hewan tertentu dengan ukuran dan kadar tertentu pula. Seekor kambing atau domba sah untuk qurban
satu orang, seekor lembu ataukerbau yang cukup besar dan sehat sah untuk qurban tujuh orang. Begitulah ketentuan fiqhiyah yang dipahami seharihari. Mengenai ibadah Qurban ini ada tiga hal yang sering membuat banyak orang tidak begitu
mementingkan untuk melakukannya, tidak begitu tergerak untuk juga ikut berqurban.

Yang pertama adalah pengetahuan masyarakat pada umumnya bahwa secara fiqhiyyah qurban itu hukumnya sunnah, meskipun banyak juga yang tahu bahwa ia adalah sunnah muakkadah, sunnah yang sangat dianjurkan. Tetapi toh bukan wajib. Jadi kalau tidak dikerjakan, tidaklah berdosa. Masih banyak lain yang wajib, yang harus dikerjakan lebih dulu. Akibatnya banyak yang mengabaikan ibadah Qurban dengan mengambil pembenaran pada ketentuan fiqhiyyah ini.

Yang kedua, ada pembenaran lain. Yakni dengan alasan bahwa qurban itu adalah adalah beban bagi orang yang mampu. Jadi bagi yang tidak mampu, tidak apa-apa. Hanya saja ukuran mampu atau tidak mampu bisa sangat subjektif, tergantung kepentingan masing- masing. Konon pernah satu waktu dulu orang berebut untuk
menyatakan diri tidak mampu, karena akan ada bantuan cuma-cuma kepada mereka
yang tak mampu. Adakah ukuran yang lebih objektif? Agar jangan seperti kata pepatah: Tiba di mata dipicingkan, tiba di perut dikempiskan.

Ukuran Mampu
Marilah saya kutipkan batasan mampu ini menurut beberapa ulama mazhab

Menurut Imam Hanafy, orang yang disebut mampu untuk qurban ialah orang yang memiliki kekayaan sekadar sampai nishab zakat. Jadi jika dibandingkan
dengan emas, nishab itu ialah sebanyak 96 gram emas.

Menurut Imam Maliky, ukuran mampu di sini adalah orang yang tidak dalam keadaan dharurat sehingga ia memerlukan kekayaan seharga binatang
qurban itu.

Menurut Imam Syafi’i, tolok ukur mampu atau tidak mampu dilihat dari kenyataan apakah seseorang itu memiliki kekayaan sebanyak harga binatang
qurban itu yang lebih dari dari kebutuhannya dan kebutuhan orang-orang
yang ditanggungnya pada Hari ’Idul Adhha dan tiga hari Tasyriq setelahnya.
Jadi singkatnya ukuran mampu adalah memiliki simpanan lebih dari kebutuhan untuk empat hari.

Adapun menurut Imam Hanbaly, ukurannya adalah pada kemampuan untuk memperoleh kekayaan seharga binatang qurban tersebut walaupun dengan hutang, asal saja nantinya ia sanggup membayar.

Begitulah petikan pendapat para ulama mazhab mengenai tolok ukur mampu atau tidak mampu dalam kaitan dengan ibadah qurban ini. Agaknya dengan melihat batasan di atas, sedikit sekali dari kita yang pantas mengaku tidak mampu. Jika melihat acuan Imam Syafi’i misalnya, berapa orang dari kita yang tidak memiliki simpanan untuk dimakan selama empat hari? Marilah kita coba terapkan tolok ukur itu kepaumrah da diri kita masing-masing, agar tidak larut dalam ukuran subjektif yang kita buat sendiri-sendiri.

Pendapat Imam Hanbaly yang memasukkan unsur hutang dalam menilai kemampuan, selama ia mampu membayar, sungguh sangat menarik dan sangat aktual untuk masa kini. Lihatlah dalam praktek sekarang di manamana, berapa banyak orang yang tidak terlibat dengan berbagai kredit? Mulai dari rumah, mobil, sepeda motor, peralatan rumah tangga dsb. Berapa banyak pula ibu-ibu (juga bapak-bapak) yang tidak terlibat dalam berbagai arisan? Jadi kalau anda sanggup mengambil kredit untuk sepeda motor misalnya, maka andapun tidak punya alasan untuk tidak mampu mengambil kredit seekor kambing buat qurban! Imam Hanbaly telah mengantisipasi gagasan ini belasan abad yang lalu!

Tetapi dibalik itu sebenarnya ada latar belakang dan filosofi yang jauh lebih tinggi. Salah satunya ialah bahwa ibadah Qurban ini mengingatkan kaum Muslimin akan satu kebenaran pokok dalam kehidupan, bahwa untuk mendapatkan keberuntungan anda harus rela berqurban. Untuk mendapatkan keberhasilan anda harus mau bersusah payah, harus mau berjuang, harus rela berkorban. Tidak ada keberhasilan yang diperoleh cuma-cuma. Ini sesungguhnya hanya kaedah sederhana saja. Kaedahnya sederhana, tetapi menerapkannya seringkali sangat sulit dan
tidak sederhana. Kita perlu senantiasa saling mengingatkan, meskipun halhal
yang sederhana dan biasa.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!