ISLAM DAN PENGELOLAAN KEKAYAAN


ISLAM  DAN PENGELOLAAN KEKAYAAN

GEMA JUMAT, 12 JULI 2019

Oleh: Dr. H. Mohd. Heikal, S.E., M.M

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (Q.S. Saba’:37)

Dalam Islam sebagaimana kita ketahui bahwa Allah SWT adalah pemilik mutlak seluruh kekayaan yang ada dilangit dan bumi sedangkan manusia hanyalah orang yang diberikan mandat atau wakil untuk mengelolanya dengan kedudukan sebagai khalifah,hal ini sangat berbeda dengan konsep dalam kapitalisme dan sosialisme. Islam mengatur soal harta tidak hanya dalam konteks sebagai resources (sumber daya) secara material tapi juga dalam tataran moral, spiritual, sosial dan dimensi legal. Sebagaimana dalam Alquran surah Muhammad ayat 38 yang artinya:

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.”

Harta adalah  jalan dan ikhtiar seorang untuk mendapatkan al-falah sebagai tujuan utama dari kehidupan yang baik didunia maupun akhirat.

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (Q.S.Al-Mulk:15).

Harta juga merupakan satu dari empat hal yang harus dipertanggungjawabkan oleh seorang muslim saat ia kembali kepada Allah SWT.

“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga ditanyakan tentang (4 perkara:) (Pertama,) tentang umurnya dihabiskan untuk apa. (Kedua,) tentang ilmunya diamalkan atau tidak. (Ketiga,) Tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan. (Keempat,) tentang tubuhnya, capek / lelahnya untuk apa.” (HR Imam At-Tirmidzi),

Bahkan dalam riwayat yang lain harta ditanya dua kali berkaitan dari mana dan kemana. Secara metode pengelolaan kekayaan dalam Islam meliputi dua kategori, praktikal dan spiritual. Secara praktikal terdiri dari perencanaan keuangan berupa Zakat, Pajak, Asuransi, Pensiun, dan Wakaf. Sedangkan dari sisi pengelolaan investasi adalah berkaitan Manajemen Resiko dan Perencanaan Investasi. Adapun yang kedua adalah metode spiritual berupa Ibadah yang terdiri dari shalat, do’a, zikir, membaca alquran, istighfar. Berikutnya juga membantu orang lain, Tabarru’, Silaturrahim, tawakkal dan taqwa sebagai ultimate goal kehidupan.

Menurut Ibnu Sina dalam kitabnya Assiyasah , bahwa secara konseptual terkait dengan pengelolaan harta dalam Islam dibagi kedalam dua hal penting yaitu konsep Al kasb (pendapatan), adalah bagaimana cara menghasilkan atau memperolehnya dan kedua adalah konsep infaq (pengeluaran), terkait kemana dan untuk apa harta tersebut digunakan dan kedua konsep ini harus beradasarkan pada ketentuan yang berkaitan dengan aspek halal dan Thayyib sesuai prinsip syariah dan jauh dari cara-cara yang tidak jujur apalagi tamak. Alquran memberikan arahan yang sangat terhormat berkaitan dengan sikap manusia terhadap kekayaan khususnya berkaitan dengan pola konsumsi sebagaimana firman Allah SWT:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”   (QS. Al-Baqarah : 168)

Terkait dengan pengeluaran atau infaq yang dalam terminologi ekonomi disebut sebagai expenditure, apakah infaq ijtima’i yang merupakan pengeluaran untuk dirinya dan keluarganya secara efektif tanpa pemborosan dan tidak juga berlaku kikir. Atau infaq abwab al ma’ruf berupa pengeluaran melalui pintu-pintu kebaikan seperti shadaqah dan zakat. Berkaitan dengan ini ada aturan main yang dianjurkan pertama harus diberikan dan atau dikeluarkan secepatnya karena orang yang membutuhkan, kedua adalah secara sembunyi-sembunyi tidak show off untuk menghindari riya’, ketiga Menganggap bahwa apa yang diberikan adalah sesuatu hal yang kecil, keempat dilakukan secara terus menerus atau kontinyu, dan kelima tepat baik sasaran maupun tempatnya. Selanjutnya adalah infaq al iddikhar seperti tabungan atau berjaga-jaga atas sesuatu dimasa akan datang dan juga hal berkaitan dengan bencana serta kecelakaan lainnya.

Terdapat enam pilar pengelolaan harta dari perpektif Islam yakni: wealth creation (cara memperoleh harta), wealth consumption (cara membelanjakan harta), wealth accumulation (cara mengakumulasi harta), wealth protection (cara melindungi harta), wealth purification (cara membersihkan harta), dan wealth distribution (cara mendistribusi harta.

Ada rambu-rambu agar kekayaan yang Allah SWT titipkan kepada kita menjadi optimal penggunaanya berupa Tabdzir, Israf, dan Bakhil. Tabdzir  adalah bermakna menghambur-hamburkan harta dengan tiada kemashlahatan sedikit pun kepadanya. Inilah sifat boros dimana pada akhirnya membuat manusia tidak bertindak untuk mengeluarkannya dijalan Allah.  “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya.”   (QS. Al-Israa’ : 26-27).

Israf adalah perilaku dalam mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan sehingga menimbulkan mafsadat/mudarat seperti dalam pola konsumsi kita terhadap makanan sehingga dapat mempengaruhi kesehatan dan mengurangi kemampuan seseorang dalam produktifitas dan tidak menghasilkan kinerja yang memuaskan dan parahnya membuat ibadah kita tidak paripurna. Selanjutnya aadalah sifat bakhil. sifat bakhil ini sangat dibenci dalam Islam merupakan salah satu dari karakter orang munafiq yang tidak mau berkorban untuk kebaikan. Padahal karakter orang yang beriman adalah siap berkorban dengan apa saja demi islam. Rasulullah memperingatkan kita terkait penyakit ini dalam hadits nya: “Hendaklah kalian jauhi sifat bakhil, maka sesungguhnya telah celaka orang-orang sebelum kalian dengan kebakhilan : memerintahkan kepada mereka dengan kebakhilan kemudian mereka bakhil, dan memerintahkan kepada mereka untuk memutus silaturrahmi kemudian mereka putus, dan memerintahkan kepada mereka dengan perbuatan dosa kemudian ia melakukannya. “ (HR. Abu Daud).

Sifat bakhil akan membuat iman menjadi erosi dan antara keduanya tidak akan pernah berhimpun sebagaimana sabda Rasul: “Sifat kikir dan iman tidak akan berkumpul dalam hati seseorang selama-lamanya.”

Semoga kekayaan yang kita miliki dapat mengantarkan kita ke syurgaNya bukan justru membuat kita tercampak dalam siksa nerakaNya.

Khatib Ketua Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!