KEAMANAN DAN KETANGGUHAN EKONOMI DALAM AJARAN ISLAM

Khutbah

GEMA JUMAT, 1 FEBRUARI 2019

Oleh : Kolonel Caj Dr. Ahmad Husein, MA

Bagi masyarakat Aceh, saat-saat seperti ini di bulan Jumadil Awal masih terdapat tradisi memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan istilah “Maulidur Rasul”. Gegap gempita peringatan ini bukan hanya di lingkungan masjid, kantor atau lembaga sosial lainnya. Melainkan merasuk tajam ke dalam lingkup kecil dari rumah ke rumah.

 Tentu selain silaturrahmi yang semakin kokoh, memperingati maulid juga dimaknai dengan mengulas secara ilmiah sejarah lahirnya Nabi Muhammad SAW. Dari pembahasan ini tentu sangat banyak pengetahuan praktis yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, sebagai pengamalan dari mencontoh pribadi Rasulullah SAW.

Keamanan dan Ketangguhan Ekonomi dalam ajaran Islam”. Menurut khatib menjadi bagian integral dari mencontoh pribadi Rasulullah yang menjadi suri tauladan umat dalam segala bidang kehidupan. Allah mengingatkan ini melalui ayat-Nya:

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S.al-Ahzab:21).

Dua hal penting yang coba kita lihat dari kehidupan Rasulullah SAW sejak beliau di Makkah. Pertama, masalah keamanan. Kedua, masalah keimanan. Dua masalah yang saling terikat dan terkait, dua pemahaman dari satu suku kata yang sama yaitu terdiri dari huruf alif, mim dan nun (amanu dan amnu). Keterkaitan dua suku kata ini setidaknya tergambar dalam firman Allah SWT dalam ayat:

Artinya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S.al-An’aam:82).

Pendekatan keamanan (Security Approach) menjadi sangat penting dalam perjalanan Islam. Sejak beliau menerima ayat pertama (Iqra’) proses penerimaannya diawali dengan rasa takut, bahkan saat beliau kembali ke rumah dari Gua Hira, beliau minta diselimuti oleh istrinya Khadijah, karena beliau kedinginan karena rasa takut. Lalu datanglah ayat kedua (Yaa ayyuhal muddatstsir, Qum fa anzir) yang memerintahkan agar tidak lagi berselimut, tidak boleh lagi takut karena takut akan menyebabkan semua keinginan tidak akan tercapai. Berani dan bersemangat ditunjukkan melalui gerakan dan aktivitas, maka tidak boleh bersantai dan melipat tangan melainkan harus bangun dan bangkit untuk menyampaikan berita peringatan dari Allah SWT kepada umat manusia.

Dalam kenyataannya, tidaklah semudah membalik tangan, untuk bangun membawa sesuatu yang bertentangan dengan agama tradisi, budaya dan kebiasaan nenek moyang Quraisy di Makkah. Namun karena perintah Allah harus dilaksanakan, maka Rasulullah SAW siap menghadapi segala kemungkinan yang timbul. Benar saja, ketika dakwah Islamiyah mulai dikumandangkan, hanya sebahagian kecil masyarakat Makkah yang mampu menerima dakwah keimanan yang disampaikan oleh Muhammad SAW. Kaum Minoritas Muslim kota Makkah, harus menerima pil pahit, mereka disiksa dan dianiaya, bahkan diantara mereka ada yang harus meregang nyawa, mereka diboikot dan dikucilkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, mereka dihina dan dicaci maki.

Muhammad SAW, terus berupaya berdakwah dan merasa sangat perihatin dengan penderitaan kaum muslimin yang menjadi pengikut setianya. Solusi dicari, dan sahabat pun dinasehati, ditenangkan hati dan jiwanya agar kondisi keamanan yang tidak menguntungkan ini, tidak membuat iman mereka berkurang atau kembali kepada keyakinannya semula. Hijrah menjadi sebuah solusi, baik ke Habsyi, ke Thaif dan terakhir ke Madinah.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa kekuatan iman bertarung melawan ketidak amanan. Mereka yang menciptakan ketidak amanan adalah kelompok yang tidak beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya Muhammad SAW, seperti Abu Lahab dan Abu Jahal. Sedangkan mereka yang sudah tersentuh hatinya dengan iman, meski pada awalnya mereka juga sama, namun akhirnya iman jugalah yang mampu merubah mindset mereka untuk beriman kepada Allah SWT seperti Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid.

Perjuangan menselaraskan keamanan dan keimanan terus dilakukan oleh nabi dan puncaknya adalah ketika Islam diterima secara terbuka oleh masyarakat Madinah. Di sinilah kehidupan baru dimulai dengan tetap menjaga sinergitas keamanan dan keimanan, sehingga mampu merubah tatanan kehidupan masyarakat Yatsrib (Madinah) menjadi aman, tentram dalam bingkai Piagam Madinah. Dari sinilah dakwah Islamiyah bergerak dan menjadi tak terbendung hingga menyebar ke seluruh penjuru dunia, dari dulu hingga sekarang.

Pendekatan ekonomi untuk kemakmuran (prosperity approach) juga tergambar dalam diri pribadi Rasulullah SAW. Kita bisa bertanya, mengapa Nabi Muhammad SAW sejak kecil sudah diajarkan untuk mencari sumber kehidupan yang sesuai dengan tanah Arabia, berternak misalnya, dilakoni oleh Nabi Muhammad SAW sejak muda belia. Menginjak remaja, Nabi pun diajarkan bagaimana menjadi pelaku bisnis antar negara, beliau berdagang hingga ke negeri Syam (Suriah atau Syria). Kesuksesan dalam bidang peternakan, perkebunan dan bisnis menjadi bukti betapa pentingnya membangun kekuatan ekonomi baik lokal maupun antar negara.

Islam adalah agama yang peduli terhadap perdagangan dan perekonomian. Islam melarang riba dan perbuatan curang lainnya dalam bisnis. Selain Nabi, para sahabat juga telah mencontohkan bisnis yang Islami yang jauh dari riba dan perbuatan curang lainnya. Bahkan al-Qur’an mempunyai banyak informasi tentang perilaku ekonomi bisnis tidak hanya yang bersifat materi melainkan juga menggambarkan kehidupan ini sebagai sebuah perdagangan, seperti dijelaskan dalam ayat yang menceritakan perilaku Bani Israil yang sangat curang dan ingkar:

Artinya:  Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (Q.S.al-Baqarah:86)

Artinya: Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (Q.S.al-Baqarah:16)

        Kita perlu terus berupaya menciptakan keamanan, ketertiban dan ketenteraman dimana pun kita berada, karena dengan rasa aman, kita dapat melakukan aktivitas kehidupan dengan kreatifitas yang beraneka ragam sehingga terwujud kemakmuran lahiriah. Di samping itu, tidak boleh kita lupakan bahwa di balik keamanan harus pula kita jaga dan terus kita tingkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Keamanan yang terjamin akan membuat kita mudah menjaga keimanan. Keimanan yang kuat dan kokoh yang berwujud dalam perilaku Taqwa, adalah sumber keamanan yang hakiki. Kedua bagian, keamanan dan keimanan haruslah seiring sejalan dalam mewujudkan negeri yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur.

Khatib Perwira Ahli Bidang Hukum dan Humaniter Pangdam IM

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!