KEDUDUKAN HARTA BENDA DALAM PANDANGAN ISLAM

GEMA JUMAT, 20 JULI 2018

OLEH: DR. H. MOHD. HEIKAL, SE.,MM

Allah berfirman yang berbunyi: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS: Al-Munafiqun: 9).

Islam adalah agama yang sangat sempurna sebagai pedoman hidup dan kehidupan bagi manusia. Islam adalah agama yang memiliki karakter luar biasa seperti kedamaian, perlindungan, keamanan, kesucian dan kesejahteraan secara lahir dan batin. Islam menjadi agama yang memiliki peran dan fungsi sebagai rahmatan lil ‘alaamiin.

Berkaitan dengan itu, Islam memiliki tujuan yang mana dalam ushul fiqh disebut sebagai maqashid as-syari’ah atau maksud dan tujuan diturunkannya syariat Islam. Para fuqaha kemudian mengklasifikasi kedalam lima hal penting yaitu: hifdz al-din (perlindungan agama), hifdz al-nafs (perlindungan jiwa), hifdz al-‘aql (perlindungan akal), hifdz al-nasl (perlindungan keturunan/keluarga), dan hifdz al-maal (perlindungan kepemilikan harta).

Maka ketika kita membincangkan harta benda, ini tidak terlepas dari aspek maqashid as syari’ah, dimana tujuan utamanya adalah kemashlahatan demi kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat.

Islam memiliki pandangan yang sangat tegas dan bijaksana dalam persoalan harta benda. Dalam Islam harta benda memiliki alur yang jelas, dimana dia bersumber dari Allah Swt lalu dititipkan kepada manusia yang dikehendakinya. Pada akhirnya akan dimintakan pertanggungjawaban atas kesempatan yang Allah berikan agar harta itu dikelola dan dimanfaatkan sesuai dengan ketentuanNya.

Jumhur ulama mengatakan bahwa harta adalah sesuatu yang padanya mempunyai nilai dan dapat dikenakan ganti rugi bagi orang yang merusak atau yang melenyapkannya. Secara etimologi, harta yang dalam bahasa arab disebut dengan kata al-mal berasal dari kata mala-yamilu-maylan-wa-maylanan-wa-maylulatan-wa-mamilan  yang secara harfiah dapat berarti condong, cenderung, atau berpaling dari tengah kesalah satu sisi. Harta juga diartikan sebagai segala sesuatu yang menyenangkan manusia dan mereka pelihara, baik dalam bentuk materi maupun dalam manfaat.

Dalam istilah syar’i, harta diartikan sebagai segala sesuatu yang dimanfaatkan pada sesuatu yang legal menurut hukum syara’ (hukum Islam), seperti jual-beli, pinjaman, konsumsi dan hibah atau pemberian. Ditinjau dari nilai ekonomis dan manfaat, kriteria dari harta ditentukan berdasarkan urf (kebiasaan/ adat) yang berlaku di tengah masyarakat. Apapun yang digunakan oleh manusia dalam kehidupan dunia merupakan harta seperti uang, tanah, kendaraan, rumah, perhiasan, perabotan rumah tangga, hasil perkebunan, hasil perikanan, kelautan dan pakaian termasuk dalam kategori al-amwal atau harta kekayaan. Sehingga harta mempunyai nilai yang sangat strategis. Karena harta merupakan alat dan sarana untuk memperoleh berbagai manfaat dan mencapai kesejahteraan hidup manusia sepanjang waktu.

Dalam al-Qur’an dan al-Hadits, harta dikenal dengan sebutan al-mal, kata jamaknya al-amwal, kata ini oleh Allah SWT ada 24 kali disebut dalam al-qur’an dalam kata mal atau al-mal, dan satu kali kata maliyah, serta disebut dengan kata amwal sebanyak 61 dalam surah maupun ayat.

Dalam perspektif ekonomi Islam, harta dijadikan wasilah untuk mendukung kegiatan ibadah ataupun muamalah, yaitu untuk mendukung instrumen zakat, infak dan sedekah. Dan hal penting lainnya berkaitan dengan harta yang perlu diperhatikan dalam menjaga dan memelihara harta dalam kegiatan muamalah adalah: pencatatan, persaksian, serta penyertaan dokumentasi.

Islam sangat menekankan kemaslahatan dalam memelihara harta, gunanya adalah agar satu dengan yang lainnya tidak memakan harta dengan cara yang bathil, serta hak dan kewajiban atas harta dari masing-masing yang bertransaksi dapat terjaga. Karena itu ketentraman bagi pihak yang bertransaksi yang merupakan implikasi psikologis berdampak penting bagi manusia dapat terwujudkan.

Al-Qur’an memandang harta benda adalah sarana bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Khaliq-Nya, ia bukan merupakan tujuan utama yang dicari dalam kehidupan. Manusia diharapkan memiliki sikap dermawan yang pada gilirannya akan memperkokoh sifat kemanusiaannya sehingga akan mengantarkannya kepada derajat (tingkatan) yang mulia dalam konteks habblum minallah dan habblum minannas.

Harta adalah titipan  dari Allah SWT (amanah). Manusia hanyalah pemegang amanah karena  memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada. Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia untuk menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan.

Harta juga sebagai ujian keimanan. Hal ini menyangkut soal cara mendapatkan dan                  memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak. Rasulullah Saw bersabda, “Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda. (HR. Tirmidzi).

Islam mengakui kepemilikan individu atas harta benda yang kita miliki, maka hendaknya janganlah kita terjebak dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Solusinya adalah dengan tidak mencampur adukkan yang halal dengan yang bathil. Rasulullah bersabda: Akan datang bagi manusia suatu jaman dimana orang tidak peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram. (HR. Bukhari).

Semoga dengan harta benda yang kita miliki, dapat semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Dengan harta kita gapai berkah dan keridhaan dari Allah SWT, sebagaimana Ibnu Taymiyah mengatakan bahwa tidak ada kebaikan pada diri orang yang tidak suka kepada harta, yang dengannya ia menyembah Tuhannya, menjalankan amanahnya, menjaga kehormatan dirinya dari (meminta-minta) kepada orang lain dan mencukupkan untuk (kebutuhan) dirinya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!