KEDUDUKAN NABI ISA AS DALAM HADIS NABI SAW

GEMA JUMAT, 26 MEI 2017

Oleh Tgk.Tarmizi M. Jakfar Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Berbicara tentang Nabi Isa AS berarti berbicara tentang salah seorang sosok Nabi yang memiliki beberapa perbedaan dengan para Nabi yang lain. Di antaranya, beliau dilahirkan tanpa memiliki seorang ayah seperti Nabi dan manusia lainnya, yang karenanya menyebabkan sebagian orang menuduh beliau sebagai anak zina, beliau juga memiliki mu’jizat dapat menghidupkan orang mati, juga dikatakan beliau belum wafat namun telah dinaikkan oleh Allah ke sisi-Nya. Selain itu beliau juga digelar sebagai roh yang suci, dan kalimat Allah dan beberapa perbedaan lainnya seperti dapat dibaca dalam al-Qur`an dan hadis serta berbagai literatur sejarah agama-agama lainnya.

Dari beberapa perbedaan antara Nabi Isa AS dengan Nabi-nabi lainnya sebagaimana disebutkan di atas,  yang menarik ditelusuri adalah mengenai kedudukan dan status beliau antara yang mengatakan sebagai Tuhan atau anak Tuhan di satu pihak seperti yang diklaim oleh umat agama kristen, dan yang mengatakan sebagai manusia dan Nabi yang diutus kepada Bani Israil di pihak lain seperti diakui oleh umat Islam di seantero dunia. Inilah di antara persoalan menarik yang sering menjadi fokus diskusi tentang Nabi Isa AS di antara umat kristen dan umat Islam dan ini pula yang akan ditelusuri dalam tulisan singkat ini, terutama dengan merujuk kepada penjelasan-penjelasan yang terdapat dalam hadis-hadis Nabi saw.

Potret Nabi Isa AS dalam Al-Quran

Dalam Al-Qur`an Allah SWT telah menyebutkan secara jelas dan gamblang tentang kedudukan Nabi Isa AS yang sesungguhnya, dimana beliau adalah seorang hamba Allah SWT yang dipilih sebagai salah satu dari utusan-Nya, sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Zukhruf ayat 59 yang terjemahannya: “Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai bukti (kekuasaan Allah) untuk bani Israil.”  Hanya karena banyak perbedaan beliau dengan Nabi dan manusia lain dan keajaiban proses penciptaannya tanpa melalui perantaraan seorang ayahlah, sehingga menyebabkan umat kristen, sebagaimana tersebut dalam kitab Al-Tafsir Al-Wasith, memposisikan kedudukan beliau sebagai Tuhan. Memang beliau memiliki kedudukan yang tinggi, namun tidak berhak disembah, karena bukan Tuhan atau anak Tuhan sebagaimana dugaan orang-orang kristen. Nabi Isa AS atau Yesus dalam peristilahan umat kristen adalah salah satu oknum dari ketuhanan trinitas, yakni Tuhan, anak Tuhan  dan roh kudus. Dari sini jelas perbedaan antara Islam dan kristen tentang Isa atau Yesus. Bagi umat Islam, Isa atau Yesus adalah manusia biasa yang diutus sebagai Nabi bagi bani Israil, sedangkan bagi umat kristen, Yesus, adalah manusia, Tuhan dan roh kudus yang menyatu dalam tri tunggal. Karena faktor inilah, sebagian orang mengatakan akan terkesan aneh ketika sebagian umat Islam mengucapkan selamat natal kepada pengikut agama kristen. Apakah dengan ucapan tersebut dimaksudkan selamat ulang tahun untuk Nabi Isa sebagai manusia atau sebagai Tuhan atau sebagai manusia dan Tuhan sekaligus, yang jelas apapun maksud yang melandasi ucapan ini tentu tidak bisa ditolerir dalam Islam, karena Natal yang dimaksud oleh umat kristen adalah kelahiran Isa sebagai manusia dan sebagai Tuhan sekaligus yang menyatu dalam trinitas dan itu berarti telah menyekutukan sesuatu dengan Allah SWT.

Dalam Surat al-Maidah ayat 73 dikatakan: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah swt salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

Kedudukan Nabi Isa AS dalam Hadis 

Sesungguhnya apa yang digambarkan dalam hadis tentang status kehambaan dan kemanusiaan Isa AS adalah sama seperti yang terdapat dalam al-Qur`an, misalnya keterangan yang terdapat dalam riwayat al-Bukhari melalui Abu Hurairah yang terjemahannya sebagai berikut:

Barangsiapa bersaksi tiada Tuhan selain Allah semata, tiada serikat bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya dan Isa juga sebagai hamba dan Rasul-Nya dan sebagai firman-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan sebagai Roh-Nya dan juga mengatakan surga dan neraka itu benar, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai menurut amalannya.

Secara umum hadis ini menurut Al-Qurthubi mengandung peringatan keras terhadap kesesatan orang-orang Nasrani yang mengatakan ketuhanan Isa AS. Cakupannya menurut imam Nawawi meliputi berbagai persoalan akidah, yang dalam bahasa beliau berbunyi ” wa huwa min ajma`i al ahadits al musytamilat `ala al `aqa’id” (dan hadis ini termasuk di antara hadis-hadis yang meliputi berbagai persoalan akidah). Karena itulah imam Nawawi mengatakan hadis ini sebagai hadis yang sangat tinggi kedudukannya.  Oleh karena luasnya cakupan hadis ini dan eratnya kaitan dengan judul yang dibahas, maka uraian selanjutnya tentang kedudukan Nabi Isa akan lebih terfokus kepada kandungan hadis ini.

Memang tidak berlebihan bila dikatakan bahwa melalui hadis ini saja sudah sangat jelas menerangkan kepada kita tentang kedudukan Nabi Isa AS. Hal ini disebabkan ketercakupannya  secara umum terhadap kedudukan beliau sebagaimana yang tersebut dalam Al-Qur`an, yaitu sebagai berikut:

Pertama, beliau adalah sebagai hamba Allah. Hal ini terdapat pada perkataan “Anna `Isa `Abd Allah” ( bahwa sesungguhnya `Isa adalah hamba Allah). Sebagian ulama mengatakan, penyebutan Isa sebagai hamba pada hadis ini sebagai sindiran kepada orang Nasrani dan pemberitahuan tentang kesyirikan murni (syirk mahdh) mereka ketika mengatakan Tuhan itu tiga serangkai,( bapa Allah, putra (yesus kristus) dan roh kudus sebagai satu Allah dalam tiga pribadi – pen).

Kedua, Isa adalah sebagai Rasul-Nya. Ini terdapat dalam perkataan “Wa Rasuluh” ( Dan sesungguhnya `Isa adalah Rasul-Nya). Selain sebagai seorang hamba, Isa juga sebagai utusan-Nya kepada Bani Israil. Penyebutan kata Isa sebagai Rasul-Nya, menurut sebagian ulama merupakan  sindiran kepada orang-orang Yahudi atas pengingkaran mereka terhadap kerasulan Isa dan tuduhan keji mereka terhadap Isa sebagai anak zina dan ibunya sebagai pelacur.

Ketiga, Isa adalah sebagai kalimat Allah. Ini terdapat dalam perkataan “Wa kalimatuhu al-Qaha ila Maryam” (kalimat-Nya [Allah] yang ditiupkan ke dalam rahim ibunya Maryam) menurut sebagian ulama sebagai isyarat kepada para hamba-Nya atas kekuasaan Allah yang mampu menciptakan Isa tanpa melalui perantaraan seorang ayah dan mampu menjadikannya bisa berbicara pada saat umurnya masih bayi. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Isa disebut  “kalimat Allah” karena beliau diciptakan dengan perkataan-Nya “kun” (jadilah kamu). Jadi karena ia  diciptakan dengan kalam-Nya  itu maka ia  (Isa AS) disebut dengan kalimat-Nya, dimana kalimat ini ditiupkan ke dalam rahim ibunya Maryam. Seperti dalam ucapan “Saif Allah” (pedang Allah) dan “Asad Allah” (Singa Allah).

Keempat, Isa adalah sebagai Roh Allah. Ini terdapat dalam ucapan “Wa Ruh minhu” (Roh dari Allah). Penamaan Isa sebagai Roh Allah disebabkan Allah telah memberikan kemampuan kepadanya untuk menghidupkan orang mati. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa penamaan itu karena Isa memiliki roh yang bukan merupakan bagian (juz’un) dari sesuatu yang memiliki roh (artinya bukan berasal dari manusia) melainkan berasal dari Allah SWT. Setelah peniupan roh ini maka Maryam pun hamil sebagaimana wanita pada umumnya dan kemudian melahirkan Nabi Isa sebagai seorang anak manusia. Inilah di antara keajaiban yang ada pada Nabi Isa AS yang oleh sebagian penulis mengatakan beliau mempunyai gen/DNA yang tidak sama dengan manusia biasa.

Memang masih banyak hadis-hadis lain yang berbicara tentang Nabi Isa AS,  tetapi khusus tentang kedudukan dan status beliau, secara garis besar sudah tersimpul dalam riwayat Al-Bukhari ini, dimana beliau adalah sebagai seorang hamba yang berbeda dengan hamba-hamba lainnya dan pernyataan ini sesuai dengan pernyataan Al-Qur`an sendiri. Beliau juga adalah sebagai Rasul bagi Bani Israil, berbeda dengan Nabi Muhammad meliputi seluruh umat yang ada. Beliau juga sebagai kalimat Allah dan terakhir beliau adalah sebagai roh yang ditiupkan Allah kepada ibunya yang bernama Maryam.

Memang terdapat kesulitan dalam memahami sosok Nabi yang satu ini, tetapi kesulitan yang tidak jauh berbeda juga terjadi dalam memahami beberapa sosok makhluk dan Nabi lainnya. Ibn Katsir mengatakan bahwa Nabi Adam AS dijadikan tanpa ayah dan ibu. Siti Hawa dijadikan tanpa ibu, sementara Nabi Isa AS diciptakan tanpa ayah. Proses penciptaan seperti ini berbeda sekali dengan proses penciptaan kebanyakan manusia lainnya yang terlahir melalui perantaraan ayah dan ibu sekalian. Semua ini amat mudah bagi Allah, hanya melalui perkataan “Kun” (jadilah), maka apa yang diinginkan pun akan terjadi.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!