Kehidupan Ulama Mutaqaddimin

GEMA JUMAT, 18 JANUARI 2019

Oleh: Tgk H Muchtaruddin Budiman Dawod

Ulama adalah jamak dari kata-kata alim, yang berarti seseorang yang memiliki ilmu yang mendalam dan luas. Ulama adalah seseorang yang memiliki kepribadian, dan akhlak yang dapat menjaga hubungan dekatnya dengan Allah dan memiliki benteng kekuatan untuk menghalau dan meninggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, tunduk dan patuhnya kepaNya.

Tentang rumusan ulama dengan sifat-sifatnya yaitu bahwa ulama adalah hamba Allah yang berakhlak Qurani yang menjadi “waratsatul anbiya” (pewaris para nani, “uswah” (pemimpin dan panutan), “khalifa” (pengemban anamah Allah, penerang bumi, pemelihara kemaslahatan dan kelestarian hidup manusia).

Inilah ciri-ciri ulama Mutaqaddimin yang jarang dan langka kita dapatkan di zaman kita ini. Salah satu ulama Mutaqaddimin yang menjadi panutan Ummat dan rajin beribadah adalah Imam Abu Hanifah (Nu’man bin Tsabit), beliau dilahirkan di Kufah pada tahun 80 H dan wafat pada tahun 150 H, beliau merupakan mujtahid pertama. Abu Hanifah terkenal dengan ketaqwaaannya, kearifannya dan kkewara’nnya. Abdullah bin Almubaraq berkata laisa ahaqqu min ayyuqtada bihi min abi hanifah ‘liannamu kana imaman taqiya naqiya war’an aaliman faqihan”. Artinya tidak ada seseorang yang lebih pantas untuk diikuti daripada Abu Hanifah karena sesungguhnya dia imam yang taqwa lagi bersih lagi wara’ alim dan faqih. Imam Sofyan Sauri berkata sesungguhnya Abu Hanifah “A’badu ahlil ardhi”. Artinya Abu Hanifah orang yang paling kuat ibadah penduduk bumi.

Yang kedua Imam Maliki (Malik bin Anas) beliau dilhahirkan di Madinah tahun 90 H dan wafatnya 179 H dikebumikan di Madinah (maqbarah baqi’) beliau merupakan mujtahid yang kedua.Imam Malik dikenal dengan keilmuannya dan pemurahnya, dan tawadhu’nya. Imam. Imam Syafi’i pernah berguru kepada beliau selama lebih kurang 6 tahun dan beliau memuji pula tentang kepandaian Imam Syafi’i, sehingga beliau mengatakan ‘ma atani qurasyiun afhamu minasyafii” artinya belum pernah aku jumpai seorang bangsa Quraisy yang lebih pintar daripada Syafi’i.

Selanjutnya yang ketiga, ulama yang sangat populer tentang kesalehannya dan ketaqwaanya dan tawakalnya dan tawadhu’nya dan murah hatinya adalah Imam Syafii. Beliau dilahirkan di Gaza Palestina tahun 150 H. Sesudah usia dua tahun beliau ibunya pulang Mekkah tempat kelahiran ayahnya. Di usia lima tahun beliau diantar ke sekolah ibtidayah oleh ibunya di Kota Mekkah dan di usia 7 tahun beliau sudah bisa menghafal al Qur’an. Sesudah itu beliau melanjutkan pendidikan ke Masjidil Haram dan memilih imam Sufyan bin Uyainah sebagai guru haditsnya dan syekh Ismail bin Qustuntin sebagai guru Ulumul Qur’an dan belaja Fiqih dan beberapa ilmu lainnya pada beberapa masyaikh yang ada di dalam Masjidil Haram. Kemudian setelah Imam Syafi’i menguasai ilmu yang  diajarkan oleh guru-gurunya, diizinkan oleh gurunya untuk berfatwa di usia yang masih belia.

Setelah beberapa tahun belajar di Masjidil Haram, lalu beliau terinspirasi dengan sebuahfirman Allah SWT falau la nafara ming firqatim min-hum ta’ifatun liyatafaqqahu fid dini wa liyunziry qaumahum iza rajau ilaihim la’allahum yahzarun, artinya mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk mempertadalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya, (Qs. At Taubah -122). Imam Syafi’i mendengar di Madinah ada seornag ulama besar ahli hadits yaitu Imam Malik bin Ana, maka beliau berkeinginan hijrah ke Madinah untuk menimba ilmu pada Imam Malik. Delapan bulan Imam Syafi’i belaja rpada Imam Malik, beliau sudah bisa hafal kitab Muwathak karangan Imam Malik. Kemudian Imam Syafi’i meninggalkan Madinah, hijrah ke Irak selama empat tahun delapan bulan untuk menimba ilmu di Irak. Lalu Imam Syafi’i kembali lagi ke Madinah menemani Imam Malik hingga wafat. Pada saat Imam Malik wafat Imam Syafi’i sudah menguasai ilmi madzhab maliki yang dikenal dengan ahlul hadits, hingga akhirnya dikenal di kalangan pada ulama bahwa beliau termasuk Ashabu Malik (pengikut madzhab Maliki).

Ahman bin Hambal termasuk salah seorang dari pada Ulama Mataqaddimin yang dikenal juga dengan Imam Hambali, beliau merupakan pendiri Madzhab Hambali. Imam Hambali lahir pada tahun 164 H dan wafat pada tahun 241 H. Imam Hambali merupakan murida dari Imam Syafi’i yang sangat cerdas. Ilmu yang pertama kali dikuasai oleh Imam Hambali adalah Al-Qur’an hingga ia hafal pada usia 15 tahun, ia juga mahir baca tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya.

Lalu ia mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. Ia telah mempelajari hadits sejak kecil dan untuk mempelajari hadits ini, ia pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya sehingga ia akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh, dan zuhud. Abu Zuhrah mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak dua belas buah judul sudah dihafalnya di luar kepala.  Ia menghafal sampai sejuta hadits. Imam Syafi’i mengatakan tentang diri Imam Ahmad, “Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu dari Ahmad bin Hambal”. Abdul Rozzaq bin Hummam yang juga salah seorang yang melihatnya di Mekkah dalam keadaan sangat letih dan lelah. Lalu ia mengajak bicara, mala Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdurrazzaq”.

Imam Hambali mendapatkan pujian-pujian dari beberapa ulama seperti Abu Bakar as-Sijistani. Beliau berkata, “Aku pernah bertemu dengan duaratus guru-guru mahir, tetapi tidak satupun yang menyerupai Imam Ahmad bin Hambal”.  Dia betul-betul menyelami ilmu, dan jika disebutkan suatu ilmu, dia ahlinya, dan Abdul Wahhab Al-Warraq berkata,  Abu Abdullah adalah pemimpin kami, dia adalah orang yang matang dalam ilmu. Jika aku berada di hadapan Allah kelak, dana akhi ditanya, “Siapa orang yang kamu ikutti?” aku akan katakan, “Aku mengikuti Ahmad bin Hambal.” Sungguh Imam Ahmad bin Hambal telah teruji keilmuannya tentang agama Islam”.

Semua ulama yang tempat ini, mereka hidul dalam keadaan rukun, damai tidak saling menuding dan  menyalahkan antara satu sama lainnya. Semua mereka mengatakan “fain sahhal hadits fahuwa mazhabi” artinya jiga hadits itu benar maka itu mazhab ku”. Semoga menjadi iktibar bagi kita semuanya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!