Kewajiban Memelihara Harta Waqaf

GEMA JUMAT, 20 APRIL2018

Khatib: Dr.Tgk. H. Husni Musannif, Dosen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

“Bandingan (pahala) orang yang membelanjakan harta mereka pada jalan Allah seperti sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada tiap-tiap tangkai itu pula terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi setiap yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (Karunianya) lagi Maha Mengetahui”  (Q.S. Al_Baqarah: 261)

“Apabila mati anak Adam, terputus amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariah (wakaf), ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan kedua orang tua nya” (H.R. Abu Hurairah).

Assalamualaikum wr.rb

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat rahimakumullah.  Adapun tema khutbah kita pada hari ini adalah: “Menggalakkan Waqaf dan Kewajiban Memelihara Harta      Waqaf” .   Adapun pengertian waqaf menurut Syed Sabiq (dalam kitab Fiqh al-Sunnah) yaitu: menahan harta dan memberikan manfaatnya pada jalan Allah.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kira-kira 200 tahun yang lalu (tahun 1800an) salah seorang keturunan Aceh yang pernah menetap di kota Mekkah, yaitu Habib Bugak Asyi (Habib Abdurrahman) telah mewaqafkan sebuah rumah di atas sebidang tanah di kota Mekkah.  Adapun tujuan beliau mewaqafkan tanah tersebut adalah untuk tempat tinggal orang-orang yang berasal dari Aceh di musim haji ataupun untuk kepentingan putera-putera Aceh yang menuntut ilmu di kota Mekkah.

Dari kisah ini kita telah melihat bahwa ternyata kebiasaan memberikan (mewaqafkan) harta sudah menjadi tradisi para endatu (leluhur) kita sejak dahulu.  Hampir semua kampung di Aceh ditemukan harta waqaf, biasanya berupa tanah yang di atasnya telah didirikan masjid, meunasah ataupun dijadikan perkuburan umum.

Di era modern sekarang ini sudah sangat jarang kita dengar ada orang yang mewaqafkan hartanya untuk kemashlahatan ummat.  Hal ini tentunya akibat telah berubah pola kehidupan manusia dari akhirat oriented menjadi dunia oriented.  Artinya kebanyakan manusia hari ini lebih cenderung untuk menghabiskan uang atau harta mereka untuk bersenang-senang, membangun rumah demi rumah atau terus menerus mengumpulkan harta baik dalam bentuk tanah, bangunan, emas permata, bahkan disimpan di berbagai Bank dalam bentuk Deposito atau jenis tabungan lainnya.  Sementara kebanyakan manusia di zaman endatu kita lebih tertarik untuk menjadikan harta mereka sebagai deposito untuk hari akhirat.

Jamaah Jumat yang mulia,

Sesungguhnya harta kita yang abadi yang akan bermanfaat dan menjadi pembela kita kelak di hari akhirat adalah justru harta kita yang pernah kita  keluarkan di jalan Allah, baik berupa infaq, sedekah, zakat, harta waqaf, dan sebagainya.  Apabila kita mau mewaqafkan harta kita untuk kepentingan agama Allah ataupun untuk kemashlahatan ummat, maka harta itu akan menjadi berkah dan akan terus mengalir pahala bagi keluarga yang mewaqafkan harta tersebut.

Allah berfirman: “Bandingan (pahala) orang yang membelanjakan harta mereka pada jalan Allah seperti sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada tiap-tiap tangkai itu pula terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi setiap yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas (Kurniaannya) lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al_Baqarah: 261).

Hadist Rasulullah SAW: “Apabila mati anak Adam (manusia), terputus amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariah (wakaf), ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan kedua orang tua nya”

Jamaah yang mulia, harta waqaf merupakan sedekah jariah yang pahalanya akan terus mengalir kepada si pewaqaf dan keluarganya sejauh harta waqaf tersebut terus dimanfaatkan untuk kepentingan agama dan kemashlahatan ummat. Karena itu kepada kaum Muslimin yang dikaruniakan kelebihan harta oleh Allah sangat dianjurkan untuk mewaqafkan hartanya.  Kita masih memerlukan tanah waqaf untuk mendirikan sekolah agama, balai pengajian ataupun untuk berbagai kepentingan umum lainnya.

Selain itu, kapada perangkat desa hendaknya bersikap pro aktif untuk menyelamatkan asset harta waqaf, misalnya dengan membuat sertifikat waqaf.  Hal ini penting mengingat akhir-akhir ini sering terjadi gugatan dari ahli waris (anak atau cucu) si pewaqaf terhadap harta yang diwaqafkan.  Seandainya harta waqaf tersebut sudah disertifikatkan tentunya ahli waris tidak punya celah lagi untuk menggugat harta waqaf tersebut.  Harta waqaf tersebut adalah milik umum, karena itu kewajiban setiap anggota masyarakat untuk mengawasi dan menjaga supaya harta waqaf tersebut tidak diperjual belikan atau dimanfaatkan bukan untuk kepentingan umum.

Seandainya harta waqaf tersebut berupa bangunan atau benda bergerak, maka harta waqaf tersebut dapat dijadikan sebagai waqaf produktif yang keuntungannya dimanfaatkan untk kepentingan umum dan kemashlahan ummat.  Baitul Asyi yang ada di kota Mekkah adalah contoh waqaf produktif yang sudah dikelola dengan sangat baik dan amanah, sehingga manfaatnya telah dirasakan oleh semua jamaah haji yang berasal dari Aceh. Baitul Asyi ini akan terus menjadi sedekah jariah bagi si pewaqaf sampai kapanpun selama bangunan tersebut masih digunakan untuk kepentingan agama Allah SWT.

Jamaah yang dimuliakan Allah Swt,

Bagi kita yang telah dikaruniakan harta oleh Allah Swt, marilah kita membelanjakan sebahagian harta tersebut untuk kepentingan agama Allah Swt. Mari kita berzakat, berinfaq, dan bersedekah sebelum datang hari penyesalan.  Hari penyesalan tersebut adalah ketika Malakul Maut mencabut nyawa kita.  Sebagaimana dinukilkan oleh Allah Swt dalam Alquran, Surah:   Al-Munafiqun: 10. “ Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum dating kematian kepada salah seorang diantara kamu, lalu ia berkata: “ Ya Rabb ku , mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang yang shaleh”.

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Swt:  Sebelum datang hari penyesalan, marilah kita bersegera menginfakkan sebahagian harta yang Allah karuniakan kepada kita baik berupa sedekah, zakat dan waqaf.  Kepada aparat desa yang ada di seluruh Aceh hendaklah segera melakukan pengamanan terhadap harta waqaf yang telah ada, yaitu dengan melakukan sertifikasi harta waqaf.  Sehingga harta waqaf tersebut benar-benar digunakan untuk kepentingan agama dan kemashlahatan ummat.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!