KISAH NABI IBRAHIM DAN NABI ISMAIL 

 GEMA JUMAT, 24 AGUSTUS 2018

Oleh: Dr. H. Agusni Yahya, M.A. (Khatib Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan Wakil Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.)

Saat ini kita masih dalam suasana hari raya qurban, hari ketiga  penyembelihan hewan qurban bagi orang-orang yang berqurban. Selamat kepada kaum muslimin yang telah dapat berbagi sebagian hartanya kepada saudaranya dalam bentuk pembagian daging hewan qurban. Selamat juga kepada saudara-saudara kita di tanah suci Mekkah dimana mereka telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah hajinya. Semoga mereka menjadi haji mabrur dan diampunkan semua dosanya sehingga mereka sudah tidak berdosa seperti seorang bayi yang baru lahir.

Setiap datangnya idul adhha kita akan mengenang kembali napak tilas sejarah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan ibundanya, Hajar berjuang menegakkan ajaran tauhid, sebagai lawan dari ajaran setan yang selalu mengajak manusia kepada kemusyrikan. Karena itu, ajaran tauhid ini menjadi ajaran pokok semua nabi Allah. Allah berfirman:

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (QS. 123)

Menapaktilas secara kronologis, lengkap dan utuh terhadap Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as tidaklah mungkin dalam kesempatan yang singkat ini. Oleh karena itu, khatib hanya mengambil sebuah episode saja sejarah kedua nabi Allah ini, yaitu mengangkat kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as dalam konteks ibadah qurban.

*Hadirin sidang jama`ah Jumat yang dirahmati Allah!

Tujuan kita menelusuri jejak tokoh penting dalam al-Qur’an seperti kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah untuk kita jadikan ‘ibrah (pelajaran) dan uswatun hasanah (contoh teladan) untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam konteks ibadah qurban, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail disebutkan secara kronologis dalam surat al-Shaffat ayat 99 hingga 113.

Setelah Allah selamatkan Ibrahim dari gunungan api yang akan membakarnya akibat ia merusak patung-patung sembahan kaumnya pada masa Raja Namrud, selanjutnya Allah menceritakan bahwa Ibrahim datang bermunajat kepada Allah memohon dikaruniakan seorang anak. Permohonan doa Ibrahim dikabulkan oleh Allah dengan lahirnya seorang putra bernama Ismail. Setelah Ismail berusia remaja dan sudah dapat membantu ayahnya dalam bekerja membangun ka’bah, datang perintah Allah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi untuk menyembelih anak satu-satunya, Ismail. Ibrahim pun meminta pendapat Ismail tentang perintah Allah ini kepada putra tercintanya, Ismail. Anak simata wayang yang sangat santun, Ismail, menjawab: silakan laksanakan wahai ayah, aku rela dan sabar menghadapi hal ini karena ini perintah Allah swt. Karena Nabi Ibrahim dan Ismail keduanya benar-benar sebagai hamba yang taat dan sabar terhadap perintah Allah, maka Allah menyatakan Nabi Ibrahim benar-benar berhasil dalam ujian Allah yang sungguh berat dan sebagai balasannya adalah diselamatkan nyawa Ismail dengan tersembelihnya seekor kibas sebagai ganti menyembelih Ismail. Kisah sejarah penyembelihan kibas ini selanjutnya Allah jadikan sebagai syariat dan pelajaran bagi umat manusia hingga akhir zaman. Allah pun mengucapkan selamat kepada Nabi Ibrahim serta memberi predikat kepadanya sebagai hamba yang mukmin.

Setelah itu Allah menambah lagi ganjaran kepada Nabi Ibrahim dengan mengaruniakan anak pada isteri pertamanya, Sara, bernama Ishaq. Akhirnya, kedua anak Nabi Ibrahim dari Hajar, Ismail dan dari Sara, Ishak, kedua-duanya menjadi nabi.

Nabi Ibrahim tidak gentar ketika melihat luapan api yang disiapkan untuk membakar dirinya oleh Raja Namrud dan kaumnya. Maka, sebagai balasannya, ia selamat dan tidak disentuh sedikitpun oleh api yang menggunung saat itu, karena ditukarnya suhu panasnya api saat itu dengan suhu dinginnya air.

Kami (Allah) berfirman, wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim (QS. Al-Anbiya’:69)

Isterinya, Siti Hajar tidak merasa sendirian saat ditinggalkan oleh suaminya di padang pasir yang sepi lagi teriknya matahari karena kepergian suaminya itu adalah atas perintah Allah swt. Maka, sebagai balasan atas keimanan, kesabaran, dan tanggungjawabnya terhadap anak, dengan tidak disangka-sangka ia diberi sumber mata air yang tidak pernah kering hingga hari ini, yaitu sumur  Zamzam.,

Anaknya, Ismail, karena ia sangat rela, pasrah dan sabar, ketika disampaikan isi mimpi bapaknya bahwa Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih dirinya, maka balasannya, ia selamat dari gorokan pisau tajam ayahnya karena Allah menggantikannya dengan seekor kibas.

Dari berbagai peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim, anaknya Ismail dan isterinya, Hajar, perlu kita ingat bahwa jika kita mengikuti dan menjalankan perintah Allah dengan landasan taqwa (penuh keimanan, kepatuhan, kerelaan, dan keikhlasan), maka Allah akan memberikan tebusan dan balasan yang besar secara tidak diduga-duga dan diukur. Itu semua  adalah sebagai buah keimanan dan ketaqwaan hati yang tulus.

*Sidang jamaa`ah Jumat yang dirahmati Allah!

Menunaikan ibadah haji dan ibadah qurban adalah sebagai napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim, Siti hajar dan putranya Ismail. Kita umat Nabi Muhammad tidak lagi diperintahkan untuk mengurbankan anak seperti kepada Nabi Ibrahim, tetapi cukup menyembelih seekor hewan qurban saja. Kalau Nabi Ibrahim digoda secara terang-terangan oleh setan untuk menggagalkan perintah Allah sehingga ia harus melempar setan yang sebenarnya, orang naik haji sekarang cukup melempar tiga jumrah dengan batu-batu kecil saja sebagai symbol mengikuti millah Nabi Ibrahim.

Bila kita perhatikan sejarah qurban dalam surat al-Shaffat ayat 99-113, ini sungguh memberikan sebuah pola pendidikan yang cukup tinggi.  Kita melihat, sebagai seorang ayah yang bijaksana, perintah Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail, disampaikan oleh Nabi Ibrahim dengan cara yang sangat lembut, akrab dan demokratis. Dimintanya pendapat sang anak untuk memutuskan sendiri terhadap perintah Allah, apakah ia rela atau tidak, bukan dengan paksaan secara kaku, egois dan harga mati. Oleh karena pendekatan Ibrahim begitu lembut dan bijaksana, maka respons Ismail pun tidak kalah bijak dan bahkan lebih menakjubkan lagi. Ia bahkan menyuruh bapaknya, Ibrahim, untuk dengan segera melaksanakan perintah Allah. Di sini menunjukkan bahwa pola pendidikan yang lembut, bijak dan demokratis, dapat menghasilkan anak didik yang berbudi luhur.

Hari raya qurban adalah momentum untuk mengenang drama peristiwa besar, yaitu betapa taat dan sabarnya Nabi Ibrahim dan keluarganya kepada perintah Allah swt. Mengingat pentingnya peristiwa ini, maka Allah menjadikan peristiwa ini sebagai syariat Islam untuk kita umat Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, marilah kita mengambil hikmah dan pelajaran berguna dari ajaran Nabi Ibrahim ini.

Pertama, hendaklah kita siap dan rela berkorban untuk kepentingan orang lain dengan apa saja yang kita miliki. Orang kaya berkorban membantu orang miskin, yang kuat membantu yang lemah, yang pandai membantu yang belum pandai, pemimpin berkorban terhadap rakyat yang ia pimpin, komandan terhadap anak buahnya, pemerintah kepada warga bangsanya dan kepada negaranya.

Kedua, hendaklah kita mampu berkorban terhadap diri sendiri untuk menghilangkan sifat-sifat binatang ternak (bahimiyyah) dan sifat binatang buas (subu`iyyah) yang menginap dalam jiwa kita, yaitu: sifat rakus (thama’), kikir (bakhil), egois/mementingkan diri sendiri (ananiyyah), sombong, kasar, kejam, suka menerkam/menyerang pihak lain tanpa pertimbangan rasa kemanusiaan.

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!