Konsep Tawakkal Dalam Islam

GEMA JUMAT, 5 OKTOBER 2018

Oleh. Abiya Muhammad Hatta, Lc, M.Ed (Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdhatul Ulama (STISNU) Aceh dan Pimpinan Dayah Madinatul Aziziyah Lampeuneurut Aceh Besar)

Islam adalah merupakan agama Rahmatan Lil Alamiin, dimana segala keperluan ummatnya diatur dalam Islam.  Sehingga semua persoalan, baik Hablum Minan Naas maupun Hablum Minallah diatur secara rinci dalam agama yang dibawa oleh Penghulu kita Nabi Muhammad SAW.

Manusia tentunya didalam menjalani kehidupan ini, dituntut untuk berusaha sebagaimana fitrahnya manusia itu sendiri.  Tidak mungkin sesuatu akan dicapai tanpa dilalui dengan usaha dan tentunya diikut sertakan dengan tawakkal bahwa segala keputusan adalah muthlak daripada Allah SWT.

Tawakkal adalah Keyakinan dan pegangan penuh kepada Allah SWT pada memudahkan segala urusan, memperoleh kemaslahatan, menolak kemudharatan di Dunia dan di Akhirat.  Maka seorang hamba yang bertawakkal akan senantiasa percaya kepada keputusan Allah swt, ridha dengannya dan hampa hatinya dengan apa yang ada pada manusia.

Maka tawakkal adalah merupakan bahagian daripada pintu Iman, dan semua pintu Iman tidak akan diperoleh melainkan dengan ilmu, keadaan (hal) dan amal.

Maka pintu pertama yaitu ilmu artinya menyakini (Tashdiq) yang berada didalam hati.  Dan ilmu ini ketika semakin kuat tingkat keyakinannya, maka dinamakan Yaqin.  Berbicara perkara Tauhid adalah ibarat laut yang dalam tiada bertepi.  Maka kita hanya bisa membuat sedikit perbandingan, yaitu:

Pertama, seseorang yang mengucapkan Lailahaillallah sedangkan hatinya lalai atau bahkan mengingkarinya maka ini adalah golongan munafik.

Kedua, seseorang yang hatinya membenarkan makna daripada kalimat tersebut sebagaimana banyak orang awam melakukannya, maka ini adalah iktiqadnya orang awam.

Ketiga seseorang yang langsung diberikan kasyaf untuk melihat hakikat yaitu maqamnya muqarrabin, yaitu sekalipun melihat banyaknya perkara tetapi itu semua adalah merupakan ciptaan Allah swt.

Keempat, martabat shufi yaitu musyahadah shiddiqin yang tidak melihat wujud melainkan hanya wujudnya Allah swt.

Maka golongan yang pertama adalah orang yang hanya terselamatkan daripada sanksi dunia dimana sudah barang tentu tawakkal mereka hanya di mulut dan tidak terbukti secara nyata.

Golongan kedua adalah golongan yang selamat di dunia dan di akhirat apabila ia diwafatkan diatas kalimat Lailahaillallah, serta perbuatan maksiat yang dia lakukan tidak melepaskan imannya

Golongan ketiga adalah mereka yang telah dibuka mata hati mereka untuk memahami hakikat lafazh dari hati mereka.

Golongan terakhir adalah mereka yang hanya melihat ke Esa an Allah swt pada segala perkara, dan ini adalah martabat tertinggi didalam aqidah.

Maka pada golongan pertama dan kedua, tidak akan mampu bagi mereka untuk mencapai tingkat Tawakkal karena golongan pertama adalah kaum munafik dan golongan kedua adalah iktiqad yang dimiliki oleh umumnya manusia.  Tetapi yang mampu untuk mencapai martabat tawakkal adalah mereka yang tingkat ketauhidan mereka berada pada golongan ketiga yaitu tauhidnya para Muqarrabin dan golongan ke empat yaitu tauhidnya para Shiddiqiin.

Adapun hal dan amal adalah sebagaimana halnya penyihir firaun yang tersungkur sujud kepada Allah swt saat melihat bahwa ular-ular mereka semuanya ditelan oleh mukjizatnya Nabi Musa As, sehingga saat itu lahir keyakinan ke dalam hati mereka dan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa mereka dibukakan hijabnya oleh Allah swt untuk melihat Arasy Allah swt, yang melahirkan sebuah keimanan yang sangat kuat dan diikuti oleh tingkat tawakkal kepada Allah swt.

Sehingga ketika firaun mengatakan:

Akan aku potong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilangan kemudian akan aku salibkan kamu semua

Namun apa jawaban mereka sebagai bukti tingkat tawakkal mereka kepada Allah swt:

Kami tidak akan tunduk kepadamu setelah bukti nyata yang Allah berikan kepada kami, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, sesungguhnya kamu hanya menghukum dalam kehidupan dunia ini.

Maka kesimpulannya adalah bahwa tawakkal sangat dipengaruhi oleh keimanan kita kepada Allah swt.  Semakin tingginya keimanan seorang hamba maka pada saat itu sebenarnya si hamba ini akan mampu menerapkan konsep tawakkal didalam kehidupannya.

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!