LIMA HIKMAH IDUL QURBAN

GEMA JUMAT, 7 SEPTEMBER 2018

Oleh. Tgk. H. Masrul Aidi, Lc (Khatib Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keueung Aceh Besar)

 

Hari raya dalam bahasa Arab disebut ‘Aid   artinya kembali , dalam bentuk jamak dikatakan  ‘Aiad. Dinamakan demikian karena hari raya adalah hari suka cita dan bergembira yang kembali dan terjadi berulang ulang setiap tahun.

Dasar hukum pelaksanaannya adalah hadits riwayat Anas bin Mali ra,

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai ).

Setiap perintah dan larangan didalam syariat Islam selalu terdapat hikmah yang manfaatnya akan dirasakan oleh sekalian alam, bukan hanya oleh umat Islam, karena Islam dan para penganutnya merupakan rahmatan Lil alamin

Diantara hikmah tersebut adalah :

Pertama, pentingnya pelestarian nilai sejarah

Bertepatan dengan pelaksanaan idul adha, dilaksanakan lah ibadah haji dan penyembelihan qurban. Kedua ibadah tersebut pada hakikatnya adalah napak tilas sejarah nabi Ibrahim dan Ismail as.

Kedua, pentingnya merawat situs sejarah

Setiap jengkal tanah yang ada di tanah suci Mekah dan Madinah menjadi saksi sejarah atas peristiwa yang berlangsung ribuan tahun yang lalu. Jejak jejak sejarah tersebut tentu akan lenyap tak berbekas bila diatasnya tidak dibangun tugu peringatan.

Kita tak akan pernah tau kemana nabi Ibrahim as mengungsikan istrinya Hajar dan putranya Ismail kalau bukan karena adanya Kabah dan sumur zamzam

Ketiga, keseimbangan antara hablun minalllah dan hablun minannas

Pada perayaan idul adha, Allah pemakan kepada hambanya dua perkara sekaligus, yaitu berzikir dan bersenang senang dengan menikmati daging qurban bersama kerabat, tetangga dan fakir miskin

(Al-Ĥaj):28 – supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Keempat, melatih dan meningkatkan ketakwaan

Penyembelihan hewan qurban prinsip dasarnya bukanlah tentang betapa besar dan sehatnya hewan tersebut, tapi apa motivasi yang mendorong seorang muslim bersedia untuk Melakukannya berulang ulang setiap tahun

(Al-Ĥaj):37 – Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Kelima, pentingnya memuliakan syiar agama

Idul adha diiringi dengan hari tarik 3 hari berturut-turut, sedemikian pentingnya menikmati hari tersebut dalam suasana suka cita dengan makan dan minum, Allah haramkan puasa pada empat hari tersebut dan para hari raya idul fitri. Maka sepatutnya umat Islam memuliakannya dengan meliburkan berbagai rutinitas yang bertentangan dengan nuansa hari raya.

Namun sangat disayangkan, Aceh dengan keistimewaan pelaksanaan syariat Islam, ternyata belum mampu memenuhi tuntunan Idul adha untuk meliburkan perkantoran pemerintah ataupun swasta. Kita berharap kedepannya, libur empat hari di Idul Adha menjadi sebuah qanun yang permanen, bukan sebatas pergub yang bersifat insidentil.

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!