MEMANFAATKAN SISA UMUR

GEMA JUMAT, 16 MARET 2018

Oleh: Dr. Bukhari Daud, M.Ed (Khatib Mantan Bupati Aceh Besar dna Tenaga Pengajar Universitas Syiah Kuala)

Kita tidak pernah tahu berapa saat umur yang masih tersisa pada detik ini.  Dan tak sedikit umur yang banyak, tetapi tidak semuanya menghasilkan manfaat yang besar bagi usaha memperoleh bekal dalam perjalanan menuju kampung abadi di akhirat kelak.

Padahal Allah telah mengingatkan dalam sejumlah ayat dalam Alquran agar kita benar-benar mempersiapkan diri menuju akhirat.  Antara lain disebutkan dalam Alquran: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr: 18).

Peringatan yang berulang kali itu menandakan bahwa umur seseorang hamba berada pada tingkat yang sangat penting untuk diperhatikan, yang sangat menentukan keadaan dunia dan akhiratnya kelak. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, apabila suatu ayat dimulai dengan “Ya ayyuhal ladziina amanu”, maka itu artinya ayat tersebut mengandung perihal yang sangat penting atau berupa suatu larangan yang teramat berat.

“Hari esok” umumnya ditafsirkan sebagai hari akhirat, walapun ada juga yang menafsirkan sebagai hari esok di dunia.  Untuk dunia, misalnya, hari esok, termasuk waktu pada hari tua, seseorang sangat tergantung pada bagaimana umurnya dimanfaatkan hari ini.  Misalnya, seseorang yang rajin belajar di masa kecilnya akan pandai di waktu besarnya. Demikian juga, seseorang yang makan makanan sehat dan sering berolahraga sewaktu mudanya akan sehat sewaktu tuanya. Sedangkan hari esok akhirat adalah kehidupan seseorang di akhirat kelak, yang sangat tergantung pada cara hidupnya hari ini sewaktu masih di dunia.

Kita harus mau menuntun diri untuk memahami bahwa umur itu adalah sumber daya besar.  Apalagi umur berkaitan dengan kesehatan dan kemampuan.  Di saat masih berumur muda, kita masih sangat kuat dan mampu melakukan berbagai hal besar untuk diri sendiri dan orang lain.  Namun di saat umur sudah tua, penyakit pun banyak datang, sehingga kemampuan untuk melakukan sesuatu menjadi menurun.  Bahkan jangankan untuk membantu orang lain, kita sendiri malah harus dibantu oleh orang lain dalam kehidupan sehari-hari.  Bukan hanya dibantu dengan makanan dan keuangan, bahkan bantuan-bantuan yang bersifat sangat pribadi, seperti mengantar ke toilet untuk buang hajat.

Sehingga sangat masuk akal bila Rasulullah SAW dalam suatu haditsnya mengajak kita untuk menjaga umur tatkala muda sebelum tua.  Ajakan itu tentunya berkaitan dengan sumberdaya besar yang dimiliki sewaktu muda, yang akan segera hilang perlahan seiring dengan menuanya usia.

Kekuatan di kala muda juga terlihat dari kemampuan untuk menggiring diri ke dalam ketaatan.  Mendidik diri taat kepada Allah dan dekat dengan masjid membutuhkan kekuatan yang besar dan menghabiskan waktu bertahun-tahun.  Sehingga tidak mengherankan bahwa umumnya orang-orang yang di waktu tuanya rutin ke masjid, fasih dalam membaca ayat-ayat Alquran dan bahkan menjadi tokoh agama dalam masyarakatnya adalah orang-orang yang telah menghabiskan masa mudanya dalam aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan hal-hal seperti itu.

Namun sebahagian orang sengaja membuang atau mengabaikan sumber daya besarnya dalam bentuk umur.  Misalnya, walaupun umurnya panjang, terlihat lupa diri.  Disebut demikian karena dalam sisa umur yang ada, yang bersangkutan terus bergelut dengan hal-hal yang merugikan diri sendiri walaupun seolah-olah menguntungkan.  Misalnya, sebahagian penguasa terus menipu rakyat dengan mengutak-atik aturan, seakan-akan aturan itu untuk kepentingan rakyat.  Padahal aturan itu murni untuk memuaskan hawa nafsu diri sendiri.

Saking pentingnya memanfaatkan sisa umur, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa walaupun sudah sangat sedikit tersisa, umur tetap harus dimanfaatkan dan insya Allah akan bermanfaat.  Katanya, bila di antara kita sudah mengetahui esok akan kiamat, sedangkan di tangan ada bibit pohon, maka sangat dianjurkan untuk ditanam segera, karena Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya.

Bila dihubungkan konteksnya dengan orang-orang yang sedang menghadapi kematian karena mengalami suatu penyakit, misalnya, melakukan kebaikan di penghujung usia juga penting dilakukan walaupun tidak sempat dinikmati hasilnya lagi.  Dalam hadits lain disebutkan:  “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman kecuali yang dimakan darinya merupakan sedekah, apa yang dicuri darinya merupakan sedekah, apa yang dimakan oleh binatang buas merupakan sedekah, apa yang dimakan oleh burung merupakan sedekah, dan apa yang diambil oleh orang lain juga merupakan sedekah” (HR. Muslim).

Karena itu, sebaiknya kita tidak marah bila apa yang telah ditanam dimakan binatang atau dicuri oleh orang lain. Mungkin rezeki orang lain atau binatang diberikan melalui tangan kita. Apalagi pahala adalah dari Allah, bukan dari manusia atau dari binatang yang memakan hasil tanam kita.

Bagi orang-orang yang bukan petani, seperti guru, dosen, atau profesi lainnya, bisa menanam dalam bentuk kebaikan lainnya.  Seperti seorang kepala daerah atau kepala kantor yang mengubah pola kerja para pegawainya, dari yang sebelumnya suka menghabiskan waktu di warung kopi, menjadi lebih kreatif dalam bekerja dan melayani masyarakat.  Misalnya, dari budaya minta dilayani dengan uang pelicin menjadi budaya bekerja ikhlas melayani tanpa pilih kasih.

Jika waktu yang tersisa tidak dimanfaatkan, pasti akan datang penyesalan dahsyat, terutama di kubur dan di akhirat kelak.  Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, ada orang yang sudah mati dan dikubur minta dikembalikan ke dunia walau sesaat saja, agar bisa beribadah dan berbuat kebaikan lainnya yang dulu dia tinggalkan. Wallahu’alam.

 

 

 

 

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!