MEMBANGUN MASYARAKAT ISLAMI

GEMA JUMAT, 16 FEBRUARI 2018

SYUKRI MUHAMMAD YUSUF, LC., MA

Masyarakat Islami secara sederhana dapat digambarkan sebagai tatanan masyarakat yang hidup berdampingan secara harmonis, yang memberikan keselamatan, perasaan aman dan kedamaian bagi sekalian alam. Masyarakat yang didominasi oleh pribadi-pribadi muslim yang shaleh dengan ciri: bertauhid secara benar, beribadah sesuai tuntunan Rasulullah, berakhlak mulia, dan bermu’amalat menurut ajaran Islam.

Lebih sederhana, masyarakat Islami merupakan masyarakat yang ditata di atas dasar akhlakul karimah, persaudaraan (ukhuwwah), persamaan (musawah), toleransi (tasamuh), keadilan (‘adalah) dan kemerdekaan (hurriyah). Untuk membangun masyarakat Islami sebagaimana diharapkan, terdapat banyak hal yang mesti dipersiapkan, namun dalam kesempatan khutbah kali ini kita hanya menyorot dari sisi pesan-pesan Allah swt. yang tertuang dalam Al-Qur’an Surat al-Maidah : 54. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah, diberikanya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”.

Setidaknya ada lima pesan Allah swt. dalam ayat di atas untuk membangun masyarakat Islami yaitu:

Pertama, menyiapkan masyarakat yang mencintai Allah dan menempatkan kehendak-Nya di atas segala yang lain.

Masyarakat yang dicintai dan mencintai Allah serta menempatkan kehendak-Nya di atas segala yang lain merupakan masyarakat yang tunduk, patuh dan penuh pengabdian kepada Allah. Kehendak Allah dalam menciptakan hamba-Nya tiada lain selain menyembah kepada-Nya dengan penuh rasa cinta, bukan penuh keterpaksaan. Sebagaimana difirmankan dalam surat (adz-Dzariyat : 51) yang artinya, “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah menyembah Ku”.

Ibadah kepada Allah ini merupakan tujuan diciptakannya manusia, karena itulah persoalan ibadah adalah persoalan prinsipil bagi umat Islam. Sehingga masalah ini menjadi wasiat pertama Rasulullah dalam membangun masyarakat. Dalam sebuah Hadits Rasulullah bersabda :

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai bagimu tiga perkara dan membenci tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah. Dan tuluslah kalian (tanashahu) kepada orang-orang yang diangkat oleh Allah untuk mengurusi urusan kalian. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Ibadah artinya merendahkan diri kepada Allah yang dilandasi dengan rasa cinta, penyerahan dan penghormatan. Ibadah tidaklah dimaknai sebagai rutinitas formal belaka (ibadah mahdhah) tetapi ruang lingkup ibadah sangat luas mencakup segala aspek yang dicintai dan diridlai-Nya (ibadah ghairu mahdhah). Maka segala sesuatu yang diperintahkan Allah, atau diperintahkan oleh Nabi-Nya, itu termasuk ibadah bila dilaksanakan karena Allah. Jika Allah menciptakan kita di muka bumi ini untuk beribadah kepada-Nya, maka merupakan pengkhianatan terbesar bagi manusia jika ia melalaikan tugas ini, karena telah mendahulukan kepentingan yang lain di atas kehendak Allah.

Tujuan dari ibadah ini tiada lain kecuali untuk membebaskan masyarakat dari belenggu penghambaan kepada selain Allah.

Menurut Sayyid Quthb, “Ketundukan seorang hamba kepada tuhannya, membebaskan diri dari penghambaan atas sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah semata. Mengeluarkan mereka dari cengkraman ketuhanan dan hukum-hukum buatan manusia, mengeluarkan mereka dari kungkungan sistem-sistem nilai dan tradisi-tradisi buatan manusia kepada kekuasaan Allah, otoritas dan syari’at-Nya semata dalam segala ruang lingkup kehidupan.”

Dari pendapat Sayyid Quthb tersebut di atas dapat kita fahami bahwa pembebasan masyarakat dari penghambaan kepada selain Allah merupakan prinsip dari sebuah komitmen awal yang pada tahap selanjutnya menjadi dasar bagi tegaknya sistem nilai, otoritas dan syari’at Allah.

Namun, perlu diingat bahwa kesiapan manusia beribadah kepada Allah karena didasari pada iman yang telah memberi kekuatan padanya. Hanya karena gelora keimanan yang kuat inilah yang membuat orang senantiasa melakukan ibadah dan terpanggil untuk melakukan pekerjaan itu karena mengharap ridha Allah. Oleh karena demikian, masyarakat Islami sesungguhnya masyarakat yang memiliki keimanan yang kuat dan keyakinan yang teguh kepada Allah swt. Setiap derap langkanya hanya karena Allah, hidup matinya karena Allah sampai akhirnya menjadi komunitas masyarakat yang dicintai Allah karena mereka telah mencintai Allah dengan sungguh-sungguh. Jadi iman atau tauhid diposisikan sebagai sebuah pondasi bagi tegaknya bangunan Islam, atau ruh kehidupan bagi manusia. Dengan iman seluruh sistem kehidupan menjadi tegak, kokoh dan memberikan arti serta mengedepankan kehendak Allah di atas segalanya.

Inilah yang membedakan antara masyarakat Islami dengan masyarakat sebelumnya. Dimana masyarakat selain Islam mendasarkan pembangunannya pada asas kebangsaan, kewarganegaraan, tanah air, ataupun strata. Sehingga akan membawa manusia pada permusuhan sesamanya atau antar bangsa dan antar strata. Sementara dalam sistem pembentukan masyarakat Islami mendasarkan pada asas Iman. Apapun bangsanya dan apapun stratanya, bila ia beriman maka bersaudara dan saling mencintai bukan saling menguasai, apalagi saling memusuhi.

Kedua, masyarakat yang mementingkan prinsip ukhuwwah, lemah lembut dan berkasih sayang sesama Muslim.

Masyarakat Islami sebagai suatu komunitas masyarakat yang tidak tersekat-sekat oleh suatu kepentingan duniawi; tidak tersekat oleh kepentingan politik, organisasi, kelompok, partai dan bahkan tidak tersekat oleh batas giografis, tapi masyarakat yang hanya disekat oleh sekatan aqidah Islamiyah yang benar. Selama masyarakat masih terkotak-kotak dengan berbagai sekatan di atas karena ada kepentingan tertentu maka sejauh itu pula harapan untuk membangun masyarakat Islami masih jauh panggang dari api.

Sebagaimana kita lihat dalam Hadits Rasulullah Saw. di atas pada wasiatnya yang kedua, “dan kalian semua berpegang pada tali Allah dan janganlah berpecah belah”. Perintah untuk berpegang kepada tali Allah maknanya adalah supaya menjaga persatuan yang dilandasi oleh rasa ukhuwwah karena ikatan agama Allah. Banyak perintah untuk bersatu dan berpegang teguh pada tali Allah ini di dalam al-Qur’an. Di antaranya (QS. Ali Imran : 103) dan (QS. al-Anfal : 46)

Namun, akhir-akhir ini muncul fenomena yang berseberangan dengan petunjuk Al-Qur’an di atas. Kaum muslimin lebih terikat dengan ikatan kelompok dari pada ikatan ukhuwwah dan kasih sayang karena Allah. Mereka akan membela muslim yang sekelompok dengannya mati-matian, tetapi mengacuhkan muslim yang bukan kelompok mereka, tidak separtai atau tidak satu negara. Maka tidak heran jika kita sering saksikan banyak muslim dikriminalisasi di berbagai belahan dunia tapi tidak ada saudaranya yang datang untuk membela mereka. Bahkan di sebagian negeri Muslim saling membunuh sesama muslim menjadi hal biasa karena mereka beda kelompok. Padahal yang membunuh melafalhkan kalimat thaibahAllahu Akbar” dan yang dibunuh mengucapkan “La ilaha illallah”.

Miris memang, tapi itulah fakta. Mereka sering menganggap bukanlah saudara jika belum bergabung kepada jama’ahnya, berbai’at kepada imamnya atau belum mengenakan atribut yang mereka kenakan. Bahkan tak jarang mereka menganggap, orang yang bukan anggota organisasinya tidak layak mendapatkan hak ukhuwwah, tidak layak mendapatkan belas kasihan dan tidak segan-segan untuk dikriminalisasi. Padahal Allah telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah saudara (ikhwah).”

Dalam konteks ukhuwwah Islamiyah, untuk mengenal seseorang tidak perlu bertanya dulu dia dari ormas mana, dari partai apa, apakah dia ikhwan atau orang umum, apa mazhabnya dan sekatan-sekatan lain yang telah mengotak-ngotak mereka. Akibat dari kesalahan persepsi prinsip ukhuwwah dalam Islam maka banyak orang berdakwah menyangka dirinya berda’wah kepada Allah, tetapi hakekatnya ia berda’wah kepada partainya atau bahkan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Kadang-kadang umat Islam tidak menyadari kalau sikap dan perilaku seperti itu telah menjerumuskannya ke lembah perpecahan yang akan memecah belah kaum muslimin dengan dibungkus gerakan dakwah.

Masyarakat Islami yang diinginkan oleh ayat di atas sebenarnya mereka yang dapat membina nuansa kasih sayang dan lemah lembut kepada sesama muslim karena Allah bukan karena partai dan kelompok. Masyarakat yang saling menghormati, tenggang rasa, menghargai dan membesarkan sesama Muslim di bawah ikatan aqidah yang kokoh. Mereka harus meninggalkan kesetiaan dan permusuhan yang berlandaskan pada organisasi dan partainya. Lalu membangun loyalitas karena Allah. Membangun cinta dan benci juga karena Allah. Menegakkan keadilan di berbagai sektor kehidupan.

Ketiga, masyarakat yang keras dan tegas terhadap orang-orang yang berbeda akidah

Bersikap keras dan tegas terhadap orang orang kafir itu merupakan perintah Al-Qur’an. Namun sikap keras dan tegas di sini tidaklah dimaknai bahwa umat Islam harus membunuh bila bertemu orang kafir, tetapi maksudnya tidak boleh kompromi dalam urusan kekufuran dan tidak ada toleransi dalam masalah aqidah. Allah berfirman:

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku“. (QS. Al-Kafirun : 1 – 6)

Dalam konteks ini, pembentukan masyarakat Islami dimaksudkan agar dapat memilah dan memilih mana ranah yang boleh toleransi dan mana ranah yang mesti tegas dalam menghadapinya. Bila bersentuhan dengan persoalan aqidah umat Islam harus tegas dan keras serta tidak boleh ikut-ikutan. Namun, pada tataran implementasi lapangan misalnya, masih kita jumpai umat Islam menggunakan atribut ataupun logo simbolik agama tertentu. Padahal Fatwa MUI No. 56/2016 tanggal 14 Desember 2016 lalu contohnya, secara tegas menyatakan haramnya penggunaan atribut ataupun simbol-simbol non Muslim oleh umat Islam, karena hal itu ada kaitannya dengan persoalan aqidah yang umat Islam harus bersikap tegas pada ranah tersebut.

Ketiga, masyarakat yang siap membela agama Allah dengan seruan jihad

Sebagai agama yang harus eksis dan tegak sampai akhir zaman, maka umat yang terpilih akan selalu berjuang untuk menegakkannya dengan pengorbanan harta dan jiwa. Umat yang siap membela agama Allah yang mulia ini dengan seruan jihad. Allah swt. berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Ash-Shaff : 10-11)

Allah menjadikan jihad Fi Sabilillah dengan harta dan jiwa sebagai harga yang pantas untuk memperoleh surga. Karena tidak ada amal yang lebih membutuhkan kesungguhan dan pengorbanan besar melebihi jihad. Di mana seorang mujahid menyerahkan nyawa dan hartanya demi tingginya kalimat Allah dan tegak agama-Nya.

Kalaulah bukan karena ajaran jihad suci maka sangatlah mungkin agama yang mulia inipun telah lenyap dari muka bumi. Mengingat ada banyak sekali makar-makar yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menghapus agama ini sejak kemunculannya di Jazirah Arab sampai hari ini. Maka untuk meneruskan agama Islam ini ke anak cucu selanjutnya masyarakat Muslim mesti menempatkan jihad itu sebagai peluang untuk menuju surga jika mendapatkan prediket syahid di jalan-Nya. Sehingga mereka menjadi masyarakat yang senantiasa merindukan seruan jihad ini ditabuhkan jika keadaan mengharuskan demikian.

Kelima, masyarakat yang tidak takut kepada teror dan celaan pencela tetapi hanya takut kepada Allah.

Masyarakat Islami adalah komunitas umat yang terpilih yang sudah memahami risiko sebuah perjuangan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi. Karena menegakkan kebenaran sudah tentu banyak tantangan, banyak musuh yang akan mencelanya, “bak” kata pepatah, “menjadi orang baik itu akan banyak kawan, tetapi menjadi orang yang memperbaiki maka akan banyak lawan”. Namun para pejuang kebenaran itu tidak akan pernah takut, karena Allah pasti menolonnya. Allah swt. berfirman yang artinya:

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya“. (QS. Ash-Shaff : 8)

Menarik untuk dicermasti sikap takut hanya kepada Allah seperti apa yang diperankan oleh Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan dalam menghadapi ancaman-ancaman dari rival-rivalnya di dunia ketika dengan lantang ia berkata, “kami tidak takut kepada siapapun tetapi kami hanya takut kepada Allah”. Sungguh ini cerminan masyarakat Islami yang kita harapkan sebagai masyarakat yang dapat memberikan kedamaian dan keamanan bagi kehidupan sesama Muslim, senantiasa membela yang hak, menegak kebenaran dan keadilan, tegar menghadapi cobaan, cemoohan dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah swt. Wallahu A’lam

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!