MEMBASMI KEMUNGKARAN DI KALANGAN UMAT

GEMA JUMAT, 23 MARET 2018

Oleh Tgk H Muhammad Hatta, Lc., M.Ed (Pimpinan Dayah Madani Al-Aziziyah, Lampeuneurut Aceh Besar)

Rasulullah saw diutus kepada ummat manusia sebagai Basyir dan Nazir, yaitu membawa kabar gembira dengan surga bagi yang melakukan amal shaleh, dan membawa khabar takut dengan neraka bagi yang melakukan maksiat dan kemungkaran.  Artinya amar makruf dan nahi mungkar adalah merupakan salah satu hikmah diutusnya Nabi Muhammad saw kepada sekalian ummat manusia disamping hikmah-hikmah lainnya.

Begitu pentingnya dua dimensi ini, maka Allah swt menyatakan didalam Ali Imran : 110

Artinya: kamu adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan bagi manusia, memerintahkan dengan makruf, melarang daripada perbuatan mungkar, beriman kepada Allah swt.

Maka untuk menjadi manusia pilihan, tentunya kita melibatkan diri kita dalam dua dimensi ini yaitu Amar Makruf dan Nahi Mungkar.

Perbuatan makruf, termasuk perbuatan wajib dan perbuatan sunnat, yang tentunya memiliki nilai yang tinggi disisi Allah swt.  Hal ini karena sabda Nabi saw dalam salah satu Hadits Qudsi:

Artinya: senantiasa seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnat sehingga Aku mencintainya…

Maka amalan sunnat memiliki potensi bagi setiap hamba yang melakukannya untuk bisa memperoleh mahabbah daripada Allah swt.

Kemungkaran bisa disebabkan meninggalkan kewajiban dan melakukan perbuatan haram atau maksiat yang dilarang oleh Allah swt.  Perbuatan maksiat juga bisa berupa maksiat dhahir dan maksiat bathin, yaitu berupa penyakit-penyakit hati seperti khianat, dengki, ujub, takabbur dan seumpamanya.

Maka dengan tidak terselesaikannya masalah hati ini, menyebabkan lahirnya perbuatan maksiat dhahir atau yang dilakukan secara nyata oleh anggota tubuh manusia itu sendiri.  Oleh sebab itu, salah satu kesempurnaan Islam adalah memiliki sifat Ihsan.

Maka ketika konsep ihsan mengakar dalam hati kita, bahwa Allah swt senantiasa melihat kita, memperhatikan kita, mengetahui apa yang kita lakukan, tentunya tidak akan ada lagi kemungkaran dan kemaksiatan yang berani kita lakukan karena keimanan kita kepada Allah swt.

Dikisahkan bahwa Hatim yang berguru kepada Syaqiq al-Balkhi selama 30 tahun, setelah perjalanan ilmu tersebut, maka gurunya bertanya kepada beliau selama 30 tahun ini apa yang sudah beliau dapatkan?  Maka Hatim menjawab bahwa beliau hanya mendapat 8 hikmah sepanjang 30 tahun pengembaraan dalam mencari ilmu:

Pertama, teman sejati adalah Amal Shaleh yang siap menemani hingga ke liang lahat, selainnya hanya sampai ke pinggir kuburan bahkan ada yang hanya sebatas masa kita mengakhiri hayat kita saja yaitu harta, jabatan, dan keluarga yang kita cintai.

Kedua, aku memperhatikan bahwa manusia senantiasa mengikuti keinginan hawa nafsu padahal Allah swt telah berfirman didalam surat An-Nazi`at 40-41: Artinya: orang-orang yang takut terhadap kedudukan Allah swt dan menahan nafsunya maka surga adalah tempat kembalinya.

Ketiga, aku memperhatikan bahwa manusia senantiasa mengumpulkan harta benda dunia, kemudian ia menyimpannya, sedangkan Allah swt berfirman didalam surat an-Nahl 96:

Artinya: Apa yang ada disisimu akan sirna dan apa yang ada disisi Allah swt yang akan kekal

Keempat, aku melihat manusia menjadikan kemuliaan, banyaknya relasi dan teman sebagai ukuran kemuliaan, maka mereka bangga dengan banyaknya harta, anak, bahkan jabatan, sementara Allah swt berfirman didalam surat al-Hujurat 13:

Artinya: Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa

Kelima, aku memperhatikan bahwa sebahagian manusia saling mencela satu sama lain sehingga lahir hasud atau dengki pada masalah harta, jabatan, ilmu, dan lainnya sementara Allah swt berfirman didalam surat Az-Zukhraf 32:

Artinya Kami telah membagi-bagikan diantara mereka kehidupan mereka di dunia…

Keenam, Aku melihat manusia saling bermusuhan satu sama lainnya karena suatu tujuan atau sebab tertentu, sementara Allah swt berfirman didalam surat Fathir: 6

Artinya: Sesungguhnya Syaithan adalah musuhmu, maka jadikanlah ia sebagai musuh…

Ketujuh, sesungguhnya manusia berusaha dengan sangat gigih untuk memperoleh kehidupan yang layak sehingga mereka terjerumus kedalam perbuatan syubhat dan haram yang menghinakan dirinya dan menjatuhkan kedudukannya, sementara firman Allah swt didalam surat Hud 6:

Artinya: tidak setiap yang melata-lata dimuka bumi melainkan Allah swt telah menjamin rejekinya.

Kedelapan, aku memperhatikan manusia, sebahagian mereka mengandalkan sesama makhluk, mengandalkan dunia dan materil, kekuasaan dan kemewahan, tidak berpegang kepada Allah swt, sedangkan Allah swt berfirman didalam surat al-Thalaq 2-3:

Maka dengan kisah al-Hatim ini, kiranya kita dapat mengambil Ibrah tentang bagaimana semestinya kita didalam menjalani kehidupan dunia yang hanya sementara ini, tentunya dengan memperbanyakkan amal shaleh dan menjauhkan diri kita daripada segala bentuk kemungkaran dan maksiat.

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!