Memetik Hikmah dari Kehidupan Rasulullah Saw

GEMA JUMAT, 23 NOVEMBER 2018

Oleh Dr. Tgk. H. Fauzi Saleh, MA (Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Dalam meniti jalan di atas dunia ini perlu rasaya kita melihat kembali napak tilas kehidupan Nabi saw. yang hakikatnya pelajaran yang amat berharga bagi kehidupan manusia baik secara individu atau sebagai anggota masyarakat.. Sirah Nabi saw merupakan bagian yang tak terpisahkan sebagai bimbingan Ilahiyah untuk menjadi qudwah (teladan) bagi setiap insan dalam mengarungi perjalanannya di atas muka bumi ini. Allah swt berfirman:

Sesunggunya pada diri Rasululah saw itu merupakan teladan yang baik bagi yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta menyebut (nama) Allah sebanyak-banyaknya.

Mengikuti sirah Nabi saw merupakan usaha untuk meneladani akhlak dan budi pekerti beliau dalam kehidupan ini. Kecintaan Allah dan ampunan dosa akan dianugerahkan kepada siapapun yang konsisten mengikuti jejak Rasul saw dalam hidupnya sebagai firman Allah swt. Dalam Al-Quran

Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[Al Imran :31]

Rasulullah saw sebagai hamba pilihan dan dipersiapkan oleh Sang Khaliq untuk menjadi rahmatan lil ‘Alamin (Rahmat bagi seru sekalian alam). Kehadiran beliau memang dinantikan bagi hanya oleh manusia, tetapi binatang, tetumbuhan dan alam jagat raya ini. Rasul saw. dilahirkan dari suku yang sangat mulia dan nasab yang sangat disegani serta memperoleh kedudukan yang tinggi. Hal tersebut sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abbas ra,Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya Allah swt menciptakan makhluk (Nya), lalu ia menciptakanku dari kelompok yang paling baik, yang terbaik dari dua kelompok, kemudian ia memilih kabilah, ia memilihkan bagiku kabilah yang terbaik, lalu memilih rumah yang terbaik. Aku berkepribadian yang terbaik dan rumah yang terbaik di antara mereka (HR. Turmuzi dengan sanad shahih)

Rasulullah saw dibesarkan di kota Mekkah dengan beragam dinamikanya. Sejak kecil beliau disusui oleh Halimatus Sa’diyah lalu dikembalikan kepada ibundanya Aminah. Dua tahun lamanya menetap di Mekkah, wabah penyakit menyebar, ibunda Aminah atas keadaan ini lalu ia mengirimkan kembali putranya untuk tinggal bersama Halimah saat itu beranjak lima tahun. Saatnya, beliau bersama ibunda bermaksud ziarah ke kuburan ayahanda. Tatkala beliau dilahirkan, ayahanda terlebih dahulu meninggalkan dunia yang fana ini. Dalam perjalanan kembali ke Mekkah, ibundanya pun wafat. Beliau sekarang menjadi sang anak yatim piatu. Beliau hidup bersama kakeknya hingga usia delapan tahun. Tidak lama kemudian, kakeknya menghadap Yang Kuasa hingga berpindah pengasuhannya kepada Abu Thalib, sang paman yang sangat beliau cintai.

Bagian kisah ini memberikan kita isyarat bahwa kehidupan Rasul saw diuji oleh Allah saw. dan ujian ini sebenarya mengajarkan beliau akan makna kehidupan. Hal ini juga bermakna pembekalan diri Nabi saw dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang yang penuh dengan rintangan dan cobaan. Sering sekali dipahami bahwa kehadiran seorang anakn manusia sebagai yatim seolah-olah telah menghilangkan masa depan. Rasul saw justeru membuktikan sebaliknya. Keyatimannya telah memperteguh azam dan kemauan keras untuk menggapai hidup yang lebih baik. Di kemudian hari, Rasul saw terus berjuang tidak pernah berpangku tangah mulai dari mengembala kambing, mengikuti paman untuk berdagang dan seterusnya.

Kerikil perjalanan, onak dan duri kehidupan, angin dan badai kehidupan telah dilewati Rasulullah saw dengan dengan hasil yang sangat baik di bawah bimbingan Ilahiyyah untuk kemudian menjadi ‘ibrah bagi manusia sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran Surah al-Dhuha:

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan? [Adh Dhuhaa : 6-8]

Sejak usia muda, Rasul saw sudah mengembala kambing penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath. Ini di antara sisi penting dalam kehidupan beliau. Dari usia yang belia ini, beliau sudah mencari kehidupan dan tidak menumpukan kebutuhannya kepada orang lain. Kemandirian ini pula menjadi pilar keberhasilan di masa yang akan datang.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw bersabda:

Tidaklah seorang nabi melainkan ia pernah mengembala kambang. Mereka bertanya: dan engkau ya Rasulullah? “ya saya juga” dalam riwayat yang lain; “tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan ia pernah mengembali kambing”. Sahabat bertanya: dan engkau Ya Rasulullah? Beliau menjawab: dan saya mengembalanya milik penduduk dengan beberapa qirath (Upahnya).

Mencari kehidupan, tidak berpangku tangan dan tidak mengharapkan belas kasihan orang lain tergambar dalam perjuangan hidup Rasulullah saw. Bahkan ketika berusia dua puluh lima tahun beliau berdagang barang milik Khadijah ra dan beliau mendapatkan imbalan upah dari kerja tersebut.

Pengalaman hidup Nabi saw juga beliau ajarkan kepada umatnya. Dalam uraian kisah berikut ini menjelaskan bagaimana beliau mengajarkan kehidupan kepada seorang Anshar. Dari Anas ibn Malik: seorang Anshar bertemu Nabi saw dan meminta sesuatu.  Lalu Nabi menanyakan: apakah di rumahmu tidak ada sesuatu. Ia menjawab: yaitu pakaian kasar yang dapat mengalas punggung unta. Sehelai kami gunakan dan ada yang sehelai kami hamparkan. Dan juga bekas minum.. Nabi bersabda: bawa kepada saya. Ia pun membawanya. Lalu Nabi pun mengambilnnya, beliau bertanya: siapa yang mau membelinya? Seseorang berkata: saya mau membelinya satu dirham. Nabi saw bertanya: siapa yang (ingin membeli) lebih dari satu dirham? Dua atau tiga dirham.

Seseorang berkata: saya (mau) membelinya dua dirham. Lalu barang tersebut diberikan kepada (si pembeli) dan uang dirham itu diberikan kepada orang Anshar tadi. Nabi saw bersabda kepadanya; belilah makanan satu dirham dan berikan kepada keluargamu. Satu dirham lagi belilah (mata) kapak dan datanglah (kemudian) kepada saya. Ia pun setelah itu datang menemui Nabi saw. Rasulullah saw lalu memasang mata kapak itu pada kayu lalu berkata: pergilah engkau mencari kayu dan juallah (kayu tersebut). Saya tidak melihatmu selama 15 hari. Orang tersebut pergi mencari kayu dan menjualnya. Lalu ia pulang dan memperoleh uang sebanyak lima belas dirham. Sebagian digunakan untuk membeli pakaian, sebagian yang lain ia beli makanan. Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya ini adalah lebih baik dari pada kamu datang meminta-minta karena perbuatan meminta-minta itu akan merusak wajah kamu pada hari kiamat.

Islam melarang untuk meminta kecuali kondisi tertentu sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw:

 “Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang: Pertama, orang yang menanggung kerugian dalam mendamaikan (dua kabilah yang berperang), maka boleh bagianya meminta-minta hingga ia mendapatkan kecukupan untuk membeyar semuanya. Kedua, seseorang yang bangkrut, maka ia boleh meminta-minta hingga ia mendapatkan sesuatu yang mencukupi hidupnya. Ketiga, orang yang sangat fakir, dan disaksikan oleh tiga orang yang adil di kaumnya tersebut bahwa ia benar-benar orang fakir, maka ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan kecukupan

Rasulullah saw menjalani hidup dengan baik, bersahaja dan penuh dengan kejujuran. Gelar al-Amin beliau peroleh sejak masih muda beliau. kehadiran sosok yang jujur dan amanah itu menyebabkan orang-orang Mekah percaya dan menyimpan harta mereka. Fungsi penyimpanan  (wada’ah) itu mereka yakin bahwa Nabi saw sosok sangat dipercaya dalam kehidupannya. Karena itulah, Nabi saw membimbing umatnya untuk bersifat jujur sebagaimana disebutkan dalam hadits beliau:

 Nabi saw bersabda: hendaklah kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu akan menghantarkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menghantarkan kepada syurta. Seseorang senantiasa berlaku jujur  dan selalu bersifat jujur sehingga ditulis dihadapan Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah dari sifat bohong, karena bohong itu menghantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan itu menghantarkan kepada nereka. Seseorang senantiasa berdusta dan bersifat dust hingga dicatat disisi Allah sebagai pembohong.

Karakter Rasulullah saw lainnya adalah sebagai sosok yang bukan pemarah dan tidak pendendama dalam menghadapi persoalan kehidupan termasuk sikap umatnya yang menolak dakwahnya, bahkan ada yang melemparnya dengan kotoran unta dan seterusnya.

Dari Abu Hurairah ra, seseorang mendatangi Nabi saw seraya berkata: berikan nasehat kepada saya, Rasulullah saw bersabda: jangan marah, beliau mengulang-ulangnya: jangan marah.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa Nabi saw mengajarkan sesuatu apa yang telah beliau praktekkan dalam hidupnya. Karena itu, seruan dan ajakan beliau diterima karena ucapan dan perbuatannya sangat serasi.

 

.

 

 

 

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!