MENGAKHIRATKAN DUNIA

GEMA JUMAT, 27 APRIL2018

Khatib: Tgk. Fahmi Sofyan, Dosen Tetap Bahasa dan Sastra Arab fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry

Dunia dan akhirat adalah dua alam yang berbeda sehingga tidak mungkin disatukan, ibarat  dua sisi mata uang yang tidak pernah bertemu satu sama lainnya atau seperti barat dan timur yang tidak pernah bertemu, sehingga Imam al-ghazali mengatakan tidak mungkin berkumpulnya dua cinta; cinta kepada dunia dan cinta kepada akhirat, ini maknanya kalau seseorang sudah cinta kepada dunia tidak mungkin ia cinta akhirat dan sebaliknya. Bohong kalau ada yang mengatakan saya sangat cinta kepada dunia dan saya sangat mencintai akhirat.

Didalam surah al-isra’ Allah memberikan opsi kepada manusia untuk memilih diantara dua pilihan; memilih dunia dengan berbagai konsekuensinya atau lebih memilih akhirat dengan berbagai balasannya.

Opsi Pertama:

Allah berfirman:

“Barang siapa yang menginginkan sesuatu yang instant/ cepat (kehidupan Duniawi), maka Kami permudah baginya untuk mendapatkannya bagi orang yang Kami kehendaki, (tapi ingat).. setelah itu Kami persiapkan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan terus dicaci maki dan jauh dari rahmat Allah”(al-isra’:18).

Pada ayat ini Allah mengumpamakan kehidupan dunia dengan sesuatu hal yang instant/ cepat, maknanya apapun yang kita lakukan didunia ini kita bisa melihat langsung hasilnya, berbeda dengan akhirat yang hasilnya tidak bisa langsung kita rasakan, ini berarti Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menikmati dunia dengan berbagai fasilitasnya bahkan dipermudah lagi oleh Allah bagi untuk golongan orang-orang mukmin, orang kafir, musyrik maupun munafiq sekalipun (tidak dibedakan oleh Allah sedikitpun) akan mendapat jatah dengan porsi yang sama dari rezeki Allah SWT:

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan” (Hud:15).

ada yang ingin korupsi ya silahkan, ada yang ingin menipu orang lain demi mendapatkan laba yang lebih banyak ya silahkan, ada juga orang yang ingin menguasai dunia dengan cara menzalimi orang lain ya silahkan.

Pilihan pertama ini diberikan kepada saja dari makhluk Allah yang ingin mengejar dunia, tetapi ingat.. semua bisa mereka peroleh dengan berbagai konsekuensinya yaitu: dipersiapkan neraka untuk mereka, nereka ini diperuntukkan bagi mereka yang terus mengejar dunia. Bahkan didalam surah al-a’raf jelas sekali kalau neraka itu ada 7 pintu dan salah satunya adalah jahannam, inilah neraka-neraka yang dipersiapkan oleh Allah untuk orang-orang yang terus mengejar dunia, bahkan tidak hanya masuk neraka tetapi ia terus dicaci maki oleh malaikat, manusia dan neraka itu sendiri dengan kata “waihak” yang artinya “celaka kamu”. Sedangkan konsekuensi kedua yang akan mereka dapat adalah jauh dari rahmat Allah, Rasulullah pernah mengatakan kalau seseorang masuk kedalam surga berkat rahmat Allah, Coba kita bayangkan kalau kita sudah jauh dari rahmat Allah.

opsi Kedua;

Allah berfirman :

Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan terus berusaha dengan sungguh-sungguh dan ia adalah seorang mukmin, maka usaha mereka itu akan dibalas oleh Allah”. (al-isra: 19)

Bagaimana cara menyikapi ayat ini ? Apakah yang dikatakan amal akhirat hanya amal-amal yang bersifat ukhrawi saja? Bisa enggak kita mengakhiratkan dunia?. Ibn Katsir didalam tafsirnya menyikapi tentang makna ayat ini (cinta akhirat). Menurut beliau cinta akhirat adalah menjadikan dunia sebagai kapal untuk menuju akhirat, inilah namanya mengakhiratkan dunia, artinya kita menjadikan seluruh aktifitas dunia sebagai ajang ibadah, seperti: jualan, kerja kantor, pergi kesawah, dan aktifitas lainnya yang dilakukan didunia, makanya kalau seorang pedagang ketika mau berdagang hendaklah berniat untuk tidak menipu orang lain, tidak mengurangi timbangan, bersifat jujur, maka aktifitas jualannya bernilai ibadah. Begitu pula seorang pekerja kantor, sebelum ia berangkat untuk bekerja ia sudah berniat ketika sampai dikantor tidak akan mempersulit orang lain, tidak makan harta yang bukan haknya, tidak menzalimi orang lain, dan akan selalu jujur dalam bekerja, maka seluruh aktifitas kerjanya mengandung nilai ibadah. Inilah namanya mengakhiratkan dunia, seluruh aktifitas kita didunia kita jadikan sebagai fasilitas untuk menuju akhirat, maka supaya seluruh aktifitas kita diterima dan diberi nilai oleh allah maka kita harus memenuhi dua syarat yang diberikan oleh Allah.

Yang pertama, yang melakukan aktifitas itu adalah orang yang beriman kepada Allah maka orang yang tidak menyakini Allah jangan pernah mengharap pahala/ balasan dari Allah, karena apa apa yang dilakukannya itu tidak ada gunanya sama sekali.

Yang Kedua,  Keikhlasan dalam beribadah sangat di prioritaskan karena kalau ibadah itu riya’ (beribadah bukan karena Allah SWT), ibadah yang dikerjakan akan sia sia saja tidak ada manfaatnya.

Kalau ibadah yang kita lakukan berdasarkan kepada 2 hal diatas (keimanan dan keikhlasan kepada Allah SWT), maka Allah akan memberikan nilai yang luar biasa pada ibadah kita. Lafaz masykura dan Syaakirun ditafsirkan oleh Ibn Katsir “yutsibu bilqalil ‘ala al katsir” yaitu ibadah yang sedikit tetapi dibalas dengan balasan yang berlipat ganda.

* Dosen Tetap pada Prodi Bahasa dan Sastra Arab fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh ( Khutbah Jum’at yang disampaikan di Mesjid Raya 27 April 2018)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!