Mengenang Peristiwa Tsunami

 GEMA JUMAT, 21DESEMBER 2018

Oleh: Ust. Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Setiap tanggal 26 Desember tiba, kita pasti terkenang kembali peristiwa gempa dan Tsunami di Aceh tahun 2004. Gempa berkekuatan 8,9 skala richter dan disusul dengan gelombang Tsunami ini merupakan peristiwa paling dahsyat yang terjadi dalam sepanjang abad ini di Indonesia, bahkan di dunia. Tsunami telah meluluh lantakkan kota Banda Aceh, Calang, Meulaboh dan puluhan kampung di Aceh Besar. Selain menghancurkan rumah, toko, perkantoran dan lainnya, Tsunami juga telah memakan korban melebihi 200 ribu orang.

Seorang muslim selalu melihat bencana alam dari sudut pandang agama. Dia meyakini bahwa tsunami merupakan teguran, azab dan ujian dari Allah Swt. Dia selalu mengaitkan peristiwa dan bencana alam dengan ketetapan dan kehendak Allah Swt. Bencana disikapi dengan keimanan terlebih dahulu. Setelah itu, dilihat dari aspek logika atau ilmu sains. Hal ini tidak berarti menafikan penyebab bencana menurut logika dan sain berupa peristiwa alam seperti pergeseran lempeng bumi sehingga menyebabkan gempa dan Tsunami. Proses alam itu sendiri hanya merupakan proses sebab akibat atau konsekuensi logis dari takdir Allah. Inilah yang membedakan cara berpikir seorang mukmin dengan orang kafir. Adapun orang kafir melihat suatu bencana alam dengan logika dan sains semata, tanpa mengaitkan dengan keyakinan agama.

Tidaklah Allah Swt menciptakan peristiwa atau kejadian sesuatu dengan sia-sia. Manusia diperintahkan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari berbagai macam peristiwa yang terjadi. Islam sangat mendorong umatnya untuk menggunakan potensi yang Allah Swt berikan kepadanya berupa penglihatan, pendengaran, hati dan panca indra yang lain agar difungsikan untuk mengambil ibrah (pelajaran) dan merenungkan hikmah dibalik peristiwa. Memang, dibalik suatu musibah atau bencana pasti ada pesan-pesan ilahi yang mesti dijadikan pelajaran. Agar kita bermuhasabah dan bertaubat kepada Allah Swt.

Allah Swt mengajak kita untuk merenungi dan berpikir dari kisah-kisah umat terdahulu agar tidak mengulangi dosa dan kesalahan yang dilakukan untuk mencapai kebaikan di masa akan datang. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini (kota Sodom) karena mereka berbuat fasik. Dan sungguh telah Kami tinggalkan daripadanya suatu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.” (Al-Ankabut: 35). Allah Swt juga berfirman, “Maka ambillah (kejadian) itu untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Al-Hasyr: 2).

Oleh karena itu, kita wajib mengambil pelajaran dari setiap musibah atau bencana alam dengan dilandasi keimanan dan berhusnu zhan kepada Allah Swt.  Di antara pelajaran penting yang dapat kita ambil dari peristiwa tsunami dan bencana lainnya yaitu:

Pertama; Bencana atau musibah merupakan ketentuan (qadha dan qadar) Allah Swt. Seorang muslim wajib meyakini bahwa setiap bencana atau musibah yang terjadi merupakan ketentuan  Allah Swt. Maka, dia harus menerimanya dengan kesabaran dan ridha. Allah Swt berfirman, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. (Al-Hadid: 22). Allah Swt juga berfirman, “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (At-Taubah: 51). Allah Swt juga berfirman, “Dan tidak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)”. (Al-Isra: 58).

Begitu pula, seorang muslim harus meyakini bahwa setiap bencana alam yang terjadi atas kehendak Allah Swt. Tidak ada sesuatu yang terjadi di bumi ini melainkan dengan izin Allah Swt, termasuk bencana gempa dan tsunami. Tidak seorangpun yang bisa menolak bencana tersebut, kecuali Allah swt. Allah Swt berfirman, “Tiada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah.” (At-Thaghabun: 11).  Allah Swt juga berfirman: Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Menguasai atas segala sesuatu. (Al-An’aam: 17).

Oleh karena itu, kita tidak boleh meyakini bahwa seseorang atau benda-benda yang dianggap keramat atau ritual tertentu yang tidak diajarkan Islam membawa keberkahan dan menolak bencana, karena keyakinan ini termasuk syirik yang bertentangan iman dan tauhid. Islam mengajarkan bahwa hanya Allah Swt yang mendatangkan keberkahan/kemaslahatan dan menolak bencana/kemudharatan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Kedua; Bencana merupakan ujian Allah Swt terhadap hamba-hamba-Nya. Allah Swt ingin menguji keimanan hamba-hamba-Nya, apakah mereka ridha dengan ketetapan dan kehendak Allah atau tidak, sabar atau tidak, dan tetap menjadi orang beriman atau tidak. Allah Swt berfirman, “Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan, di antaranya ada yang orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Al-‘Araf: 168).

Allah Swt juga berfirman, “Dan kami pasti menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah orang-orang yang mendapat ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157).

Maka, kita wajib ridha dan bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah agar mendapat ampunan dan rahmat Allah Swt. Kita tidak boleh marah dan memaki Allah Swt, berputus asa, bersu’u zhan kepada-Nya, dan menggadaikan iman kita gara-gara musibah yang menimpa kita. Bila kita ridha terhadap ketetapan dan ujian Allah tersebut , maka Allah swt akan ridha kepada kita. Bila tidak, maka Allah akan murka kepada kita. Rasullullah Saw bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Allah mengujinya. Maka barangsiapa ridha dengan ujian Allah, baginya ridha (dari Allah), sebaliknya siapa yang murka, maka baginya murka (dari Allah).” (HR. At-Tirmizi).

Ketiga; Bencana merupakan peringatan dan azab Allah terhadap maksiat, agar kita sadar dan bertaubat kepada Allah swt, mentaati segala perintah dan larangan-Nya, serta meninggalkan maksiat. Penyebab utama bencana adalah kemaksiatan. Allah Swt berfirman, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-‘Araf: 96). Allah Swt juga berfirman, “Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri kecuali penduduknya melakukan kezaliman.” (Al-Qashash: 59)

Allah Swt berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali negeri itu. Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah Kami binasakan. Dan cukuplah Rabbmu Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Isra’: 16-17. Allah Swt juga berfirman: “Dan tidak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)”. (Al-Isra: 58).

Di antara bentuk kemaksiatan yaitu meninggalkan kewajiban kepada Allah Swt. Kita disibukkan dengan berbagai kesenangan dan kenikmatan dunia dan berlomba-lomba mengejar harta, pangkat, jabatan. Namun kita melupakan kewajiban kita kepada Allah Swt seperti shalat, puasa, membaca al-Quran, berdoa/berzikir, membayar zakat, syukur nikmat dan sebagainya. Selain itu, kemaksiatan berupa syirik, khurafat, tahayul dan ajaran sesat yang bertentangan dengan tauhid dan aqidah Islam merajalela. Begitu pula perbuatan bid’ah dalam ibadah yang yang menyelisihi sunnah Nabi saw menjadi tradisi dalam ibadah sehari-hari. Kemaksiatan lainnya seperti kezhaliman pemimpin, korupsi, pembunuhan, penganiaan, perzinaan, pencurian, minum-minuman keras dan sebagainya merajela. Demikian pula kemaksiatan krisis akhlak seperti  menipu, manipulasi, ghibah, memaki, menghina, menfitnah dan sebagainya. Berbagai maksiat tersebut terjadi tanpa ada upaya dari kita untuk mencegah dan melarangnya. Inilah penyebab yang mengundang berbagai bencana alam di tanah air kita, termasuk tsunami.

Agar tidak ditimpa suatu musibah atau azab, maka kita wajib meninggalkan maksiat dan menjalankan syari’at Allah. Allah Swt berfirman, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian kami binasakan sama sekali (negeri itu).” (Al-Isra’: 16). Allah Swt berfirman, “Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia.” (Yunus: 107).

Keempat; Musibah atau bencana alam yang terjadi mendorong kita untuk memperbanyak melakukan istighfar (memohon ampun) atas segala kesalahan dan dosa yang selama ini kita lakukan. Istighfar ini sekaligus sebagai tolak bala (menghindari dari musibah berikutnya). Allah Swt berfirman, “Dan sekali-kali Allah tidak akan mengazab mereka sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka sedang mereka meminta ampun.” (Al-Anfal: 33)

Selain menolak bala, amal shalih dan istighfar yang kita kerjakan akan mendatangkan rahmat dan berkah. Untuk menjaga agar kehidupan kita, keluarga kita, masyarakat dan negara kita tetap aman, makmur dan serba bercukupan, maka setiap diri kita hendaknya bertakwa kepada Allah dengan menjalankan syariat-Nya dan menjauhi kemaksiatan. Allah Swt berfirman, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-‘Araf: 96). Allah Swt berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12)

Kelima; Musibah yang terjadi ini mendorong kita untuk menyiapkan bekal berupa amal shalih dan taqwa sebelum ajal menjemput kita dan keluarga kita. Allah Swt berfirman, “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenganan yang memperdaya.” (Ali ‘Imran: 186).

Orang yang pandai dan cerdas adalah orang yang selalu menyiapkan bekal untuk melakukan perjalanan ke akhirat dengan bekal taqkwa. Allah Swt juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah Swt dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)..”. (al-Hasyr: 18). Allah Swt juga berfirman, “Dan berbekallah kamu. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Al-Baqarah: 197).

Rasulullah saw bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menahan hawa nafsunya dan beramal untuk sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. At-Tirmizi), dan beliau berkata: “Hadits ini hasan shahih”)

 Keenam; Musibah atau bencana alam yang terjadi di muka bumi ini tidak lain karena perbuatan manusia sendiri. Maka jangan sampai menyalahkan Allah Swt dan menyalahkan alam. Alam ini akan bersikap ramah kepada kita, manakala kita bersikap ramah kepadanya. Jika kita merusak alam ini, maka alampun marah dan terjadilah bencana dengan kehendak Allah Swt. Ini semua terjadi agar manusia kembali kepada jalan yang benar dan kembali kepada jalan Allah Swt. Allah Swt berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41) Allah Swt juga berfirman, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahanmu).” (Asyura: 30).

Selama ini begitu banyak musibah yang terjadi di negara kita ini. Silih berganti bagaikan malam dan siang. Mulai dari bencana banjir, longsor, gunung meletus, gempa bahkan sampai Tsunami. Ini semua karena ulah tangan manusia, terutama maksiat. Allah Swt menimpakan berbagai bencana tersebut agar kita sadar terhadap tujuan hidup kita. Menegur kita agar kita tidak serakah dalam mengambil kekayaan alam. Mengingatkan kita untuk bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Memberi teguran dan peringatan atas maksiat yang kita lakukan.

Akhirnya, mari kita ambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa Tsunami di Aceh dan bencana lainnya dengan selalu bertaubat dan beristighfar serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. Berbagai bencana yang selama ini menimpa bangsa kita mesti dipahami sebagai peringatan dan azab dari Allah Swt, agar kita meninggalkan maksiat dan senantiasa melaksanakan syariat Allah Swt. Kita mesti takut dan waspada terhadap azab Allah Swt yang datang secara tiba-tiba akibat maksiat yang kita lakukan yang bisa menimpa semua orang. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa Tsunami dan bencana lainnya.

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!