MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN AMAL KEBAJIKAN

GEMA JUMAT, 17 AGUSTUS 2018

Oleh: Prof. Dr. Rusjdi Ali Muhammad, SH

Tepat pada hari ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya, sekarang hari kemerdekaan yang ke 73. Ternyata sudah 73 tahun Bangsa Indonesia ini menyatakan kemerdekaannya dengan sebuah Proklamasi yang telah menjadi legenda. Pada hari ini dan masa2 mendatang, yang paling penting kita bicarakan adalah bagaimana mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah kita peroleh dan bagaimana mengisi kemerdekaan itu dengan amalan2 kebajikan yang sebesar2nya.  Sebab pada kenyataannya kemerdekaan Indonesia itu, walaupun sudah 73 tahun kita menjalaninya, ternyata masih begitu banyak kendala dan hambatan di depan mata.

Dalam memaknai kemerdekaan ini, marilah kita menempatkan diri sebagai hamba Allah yang taat dan mensyukuri kemerdekaan ini sebagai nikmat dari Allah swt.  Bahkan The Founding Fathers, para peletak dasar kemerdekaan Indonesia  menyebutkannya dengan jelas dalam mukaddimah UUD 1945, bahwa kemerdekaan ini diraih atas berkat rahmat Allah swt. Artinya dalam mengisi kemerdekaan ini hendaknya kita tidak boleh melupakan Tuhan yang telah memberi kita nikmat kemerdekaan ini.

Jadi kemerdekaan itu adalah  adalah rahmat dan nikmat dari Allah. Setiap nikmat itu dapat menjadi pembuka atau penutup pintu nikmat lainnya. Kita selalu berharap kepada nikmat, padahal rahasia untuk mengundang nikmat adalah syukur atas nikmat yang ada. Syukur adalah gairah yang akan mengundang nikmat yang lebih besar.

Firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 147:

Artinya: Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.

Dalam surat Saba’ ayat 13 Allah berfirman:

Artinya: Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin berkata: Ketahuilah bahwa hal yang dicari oleh setiap orang adalah nikmat. Akan tetapi nikmat yang hakiki adalah as sa’adah al ukhrawiyyah (kebahagiaan di akhirat kelak) dan segala nikmat selainnya akan lenyap.

Bahwa semua perkara yang disandarkan kepada kita ada empat macam:

Pertama: Segala yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, misalnya ilmu dan akhlak yang baik. Inilah nikmat yang hakiki. Kedua: Segala yang memudaratkan di dunia dan di akhirat. Ini merupakan bala’ (kerugian) yang hakiki. Ketiga: Hal-hal yang bermanfaat di dunia akan tetapi membawa mudarat di akhirat, misalnya berlezat-lezat mengikuti hawa nafsu. Hal ini sesungguhnya adalah bala bagi orang yang berakal sekalipun orang jahil menganggapnya nikmat. Misalnya seseorang yang sedang lapar lalu menemukan madu yang bercampur racun. Bila tidak tahu, dia akan mengira itu nikmat, tapi jika ia tahu, tentu ia paham minuman itu adalah racun yang akan membawa malapetaka.
Keempat: Membawa mudarat di dunia namun akan bermanfaat di akhirat sebagai nikmat bagi orang yang berakal. Misalnya obat, yang awalnya terasa pahit tapi akhirnya akan menyembuhkan.

Cara Syukur Nikmat

Cara bersyukur terhadap nikmat yang didapatkan bisa dilakukan dengan berbeda-beda.
Ada sebuah kisah tentang tiga orang yang berburu ke dalam hutan dengan menunggangi kuda yang lengkap dengan bekalnya. Ketika mereka terlelap tidur, kuda mereka kabur. Hal itu diketahui oleh seorang raja yang bijaksana yang juga sedang berburu di hutan yang sama. Lalu sang raja memerintahkan untuk mengirim tiga ekor kuda pengganti yang lebih baik dari sebelumnya. Ketika para pemburu tadi tahu kuda mereka hilang dan telah ada gantinya, ternyata respon mereka berbeda. Orang pertama senang sekali dengan kuda baru dihadapannya yang lebih indah dibandingkan kuda sebelumnya. Tapi ia lupa bertanya kuda itu siapa pemiliknya dan untuk siapa? Orang kedua juga merasa senang karena kudanya bagus, tapi ia bertanya siapa pemilik kuda ini dan untuk siapa? Ketika ia tahu kuda tersebut milik raja yang diberikan kepadanya, ia merasa senang dan berterima kasih kepada sang raja. Lain lagi dengan orang ke tiga, ia tahan perasaan senangnya karena tahu kuda itu bukan miliknya. Ia pun bertanya-tanya tentang hal ihwal kuda tersebut. Akhirnya dia tahu kuda itu benar-benar diberikan kepadanya ia berusaha bertemu dengan raja untuk berterima kasih. Dia senang karena memiliki sarana yang bisa membuatnya dekat dengan sang raja. Kisah di atas menjelaskan tahapan yang baik dalam bersyukur:
1. Bersyukur dalam hati,  yakni dengan mengetahui nikmat dan mengetahui pemberi nikmat.
2. Bersyukur secara lisan dengan mengungkapkan perasaan bahagia kepada pemberi nikmat.
3. Bersyukur dengan melahirkan amal perbuatan yaitu syukur dengan seluruh anggota badan.

Missi Kemerdekaan Islam

Sejatinya, ajaran Islam sendiri lahir membawa misi kemerdekaan dan kebebasan serta ingin mengantarkan segenap manusia kepada fitrah mereka yang suci. Misi kemerdekaan dan kebebasan yang diperjuangkan oleh Islam adalah membebaskan manusia dari penghambaan, ketergantungan kepada sesama manusia, menuju penghambaan dan pengabdian kepada Allah swt semata-mata. Hal ini tersirat misalnya dalam surat Ibrahim ayat 1-2:

Artinya : Alif, laam raa.( Ini adalah ) kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (Yaitu) menuju jalan Tuhan yang maha perkasa lagi maha terpuji. Allah yang memiliki segala apa yang dilangit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang2 kafir karena siksaan yang sangat pedih.

Pembebasan dan kebebasan yang diharapkan bukan hanya terbatas pada kebebasan dari belenggu fisik semata, tapi juga kebebasan dari ketergantungan kepada selain Allah swt dalam berbagai bentuknya. Diantaranya;

Pertama, bebas dari belenggu hawa nafsu yang sering kali menjerumuskan seseorang kedalam sifat hayawaniah bahkan sifat syaithaniah.Kedua, bebas dari prilaku dan akhlak yang tercela yang akan merusak penerus generasi masa depan bangsa. Ketiga, pembebasan bangsa dari budaya dan pandangan hidup yang merusak, sebaliknya segala bentuk amar ma’ruf dan nahi munkar justru dianggap hama yang harus segera dibasmi. Keempat, pembebasan diri dan umat dari praktek syirik dalam segala bentuknya. Mereka yang bertauhid dan meninggalkan syirik akan beroleh petunjuk dan mendapatkan rasa aman. Rasa aman dan petunjuk adalah nikmat yang sangat besar.

Merdeka dari Kebodohan dan Kemiskinan

Apakah makna sejati dari kemerdekaan? Apa hakikat dasar kemerdekaan? Setiap masa ada tantangan dan dinamikanya. Dulu merdeka itu bermakna sederhana  yakni merdeka dari penjajahan.  Sekarang tantangan dan masalahnya jauh lebih besar. Apakah saat ini seluruh rakyat sudah menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya? Penjajahan fisik memang sudah lama menghilang, 73 tahun lamanya. Tetapi kini masih ada musuh lain yang harus dilawan oleh generasi saat ini, yakni kemiskinan dan kebodohan.  Tidak  bisa dibantah, kemiskinan dan kebodohan masih menjadi masalah besar di negeri kita ini. Inilah yang menunggu tangan-tangan cerdas dari pembesar-pembesar negeri ini, bahkan juga menjadi tugas amal kebajikan semua elemen bangsa di sini. Tidak ada jalan lain bagi pemimpin kita selain selain memberi perhatian sebesar-besarnya kepada pendidikan anak bangsa.

Dari perjalanan sejarah di mana-mana mudah kita saksikan betapa seseorang bisa meloncat dari strata sosial yang lebih rendah. Setidaknya melalui tiga jalur; jalur dagang, jalur politik atau melalui jalur pendidikan.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!