MENJAGA AMANAH ALLAH SWT

GEMA JUMAT, 12 JANUARI 2018 

Dr. Tgk. H.Agustin Hanafi, MA

Diantara keunggulan manusia terhadap makhluk lainnya karena manusia dikarunia oleh Allah akal fikiran. akal yang sehat dan jiwa raga yang sehat Insyallah mampu mengendalikan hawa nafsu agar tidak terjerumus kepada keserakahan, ketamakan, dan lain sebagainya.

setiap manusia juga diciptakan untuk menjadi seorang pemimpin, tentu seorang pemimpin harus bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.

Maka yang perlu kita sadari adalah  bahwa semua apa yang kita lakukan, kelak di Yaumil Mahsyar akan dipertanggung jawabkan di depan Allah apakah yang kita lakukan sesuai dengan apa yang diamanahkan oleh Allah  atau sebaliknya. semuanya akan dimintai pertanggung jawaban tentang umur dan masa mudanya untuk apa dihabiskan, tentang hartanya dari mana dia memperolehnya & untuk apa dibelanjakan, tentang ilmunya apa yg diperbuat dengannya

untuk itu,  seorang ayah akan bertanggung jawab terhadap anak dan keluarganya, guru bertanggung jawab kepada muridnya, seorang raja bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya, begitu juga jika seseorang  diamanahkan untuk mewakili aspirasi rakyat tentu akan bertanggung jawab terhadap amanah yang diembannya, yaitu membuat peraturan, keputusan berdasarkan kepentingan dan maslahat rakyat secara keseluruhan. bukan untuk kepentingan pribadi, kelompok dan golongan tertentu. jika ini yang kita abaikan, berarti kita telah berkhianat, dan itu merupakan ciri-ciri orang munafik.

kita juga Aceh, secara umum memiliki anggaran yang cukup besar, semoga itu semua dapat mensejahterakan rakyat Aceh, membebaskan kita dari kemiskinan, gizi buruk, dan lain-lain. maka semua pihak diminta untuk bersungguh-sungguh berjuang membuat program yang pro rakyat, kepentingan rakyat, dan keperluan jangka panjang, bukan program  untuk kepentingan sesaat yang sifatnya terburu-buru, bukan juga asal jadi sekadar penyerapan anggaran. intinya semua yang dirancang harus berdasarkan kemaslahatan rakyat, bukan yang lain. untuk itu semuanya harus mengawal dan peduli terhadap penyusunan anggaran  agar dalam penetapannya dapat mengakomodir kemaslahatan umum.

agar sesuai dengan maslahat maka semuanya harus berdasarkan perencanaan yang matang, dengan turun ke lapangan melihat kondisi yang benar-benar dibutuhkan sehingga apa yang dianggarkan tepat sasaran. kemudian yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah program yang akan dilaksanakan jauh dari unsur mubazir dan pemborosan, seperti jalan yang  baru satu tahun dibangun tiba-tiba rusak, tidak layak pakai, kemudian juga yang dibangun harus berdasarkan kebutuhan yang sifatnya prioritas, kemudian bukan hanya terfokus kepada pembangunan fisik semata namun juga bagaimana memikirkan sumber daya manusia seutuhnya, karena ini jauh lebih urgens dan lebih berat.

untuk itu, dalam penetapan anggaran yang dikedepankan adalah maslahat umat secara umum tidak boleh punya ambisi pribadi, lalu memberikan fee kepada pihak terkait untuk memuluskan hasratnya dan tujuan-tujuan tertentu, karena itu bentuk korupsi, bahkan  Saat itu Rasulullah SAW menugaskan Ibnu Luthbiyah, salah seorang dari suku Azdiuntuk menghimpun zakat. Ketika menghadap Rasulullah ia menyerahkan sebagian harta itu, dan sebagian yang lain tidak diserahkan. Ia berkata: “(Harta) ini untuk engkau (zakat), dan yang ini dihadiahkan buatku.” Lalu Rasulullah SAW bersabda:

 Mengapa kamu tidak duduk di rumah ayahmu atau ibumu saja, lalu menunggu kamudiberi hadiah atau tidak. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang darimu mengambil sedikitpun dari hadiah) itu, kecuali akan dia pikul nanti pada hari kiamat di lehernya, jika (hadiah) itu unta, maka dia (memikul unta) yang bersuara, jika (hadiah)itu sapi, maka (dia memikul sapi) yang bersuara, jika(hadiah) itu kambing, maka dia (memikul kambing) yang mengembik.

jadi tidak dibenarkan untuk mengambil fee. hal-hal seperti ini saja dilarang apalagi bentuk yang lain” karenan itu bertentangan dengan ajaran Islam.

pejabat menandatangani kontrak dengan pihak lain lalu mendapatkan komisi, itu bagian dari  korupsi  sebagaimana dalam QS Ali ‘Imran 161.

و  Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS Ai ‘Imran: 161).

“Ghulul (pengkhianatan/ korupsi) yang paling besar di sisi Allah adalah sehasta tanah, kalian temukan dua lelaki bertetangga dalam hal tanah atau rumah, lalu salah seorang dari keduanya mengambil sehasta tanah dari bagian pemiliknya. Jika ia mengambilnya maka akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi pada hari Qiyamat.

Korupsi adalah tindakan kejahatan, kriminal di mata hukum, undang” negara. Korupsi merugikan keluarga, diri sendiri, orang sekitar kita, rakyat, bangsa, negara. Harta hasil korupsi tidak berkah. Uang haram mempengaruhi karakteristik kita menjadi jahat. Setan masuk bersama uang yg kita makan hasil korupsi. Setan masuk bersama makanan yg kita makan hasil korupsi. Setan masuk bersama pakaian yg kita pakai hasil korupsi. Di dunia koruptor dijebloskan ke KPK bahkan ke penjara. Di akhirat koruptor dijebloskan ke neraka

Semuanya harus dilaksanakan secara transparans, dan jujur, tidak dibenarkan juga memark up data karena itu merupakan korupsi yang dilarang agama dan bentuk kezaliman yang merugikan orang banyak.  sedangkan  Allah SWT telah mengingatkan dalam surah An Nisa’ #29: “Wahai orang” yang beriman, jangan kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu. & jangan kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah SWT Maha Penyayang kepadamu” kemudian Sabda Baginda Rasulullah SAW: “Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram, maka api neraka yang layak baginya

keharaman perbuatan korupsi dapat ditinjau dari pelbagai segi, antara lain :

Pertama, Perbuatan korupsi merupakan perbuatan curang dan penipuan yang berpotensi merugikan keuangan negara dan kepentingan publik ( masyarakat ). Sebagaimana firman Allah SWT, “Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. ( Q.S Ali Imron : 161 )

Kedua, Perbuatan korupsi untuk memperkaya diri dan orang lain dari harta negara adalah perbuatan zalim, karena kekayaan negara adalah harta publik  yang berasal dari jerih payah masyarakat termasuk kaum miskin dan rakyat kecil, perbuatan zalim ini patut mendapatkan azab yang pedih. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim Yakni siksaan hari yang pedih (kiamat). ( Az-Zukhruf : 65

Khatib Dosen Universitas Islam Negeri  Ar-Raniry Banda Aceh.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!