Menjaga Amanah Umat

GEMA JUMAT, 10 MEI 2019

Oleh Dr. Tgk. Bukhari Daud, M,Ed

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang amanah, baik amanah sebagai seorang Muslim yang harus menjalankan kewajiban-kewajiban kita kepada Allah, maupun amanah-amanah lain sesuai kapasitas dan kedudukan kita dalam masyarakat, seperti sebagai kepala keluarga, sebagai anak, sebagai karyawan, maupun amanah sebagai pemimpin. Inilah yang dapat kita pahami dari firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58).

Amanah menurut istilah artinya perilaku yang terpancar dari jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya, tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain; dan menunaikan kewajibannya kepada orang lain, walaupun terdapat kesempatan untuk tidak menunaikannya tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain.

Amanah merupakan salah satu akhlak dasar para utusan Allah, yaitu shiddiq, amanah, fatanah, dan tabligh. Sifat mulia ini juga harus dimiliki oleh kaum Muslimin, baik tua-muda, laki-laki-perempuan, pemimpin, maupun orang biasa.

Allah subhanahu wataala memberikan balasan kepada orang-orang yang menunaikan amanah. Sebagaimana firmanNya:

Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. Yaitu orang-orang yang mewarisi surga firdaus, mereka kekal di dalamnya”(Q.S. Al-Mukminun: 8-11)

Demikianlah, keutamaan amanah bagi orang-orang yang berusaha menunaikannya dan sekaligus ancaman bagi mereka yang mengabaikannya. Maka marilah kita berupaya sekuat tenaga untuk dapat menunaikan setiap amanah sekecil apapun yang telah dipercayakan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah subhanahu wataala menguatkan kita untuk mengemban amana-amanah dengan sebaik-baiknya

Para ulama memberikan makna Amanah sebagai bentuk kewajiban berupa:

Pertama, amanah sebagai semua bentuk Syari’at yg diwajibkan oleh Allah untuk melaksanakannya seperti shalat, puasa, zakat dan haji dll.

Kedua, menurut ibnu Abbas, Amanah adalah:

Kepatuhan (ketaatan) yg pertama ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung namun mereka tak mampu mengembannya. Lalu Allah berkata kepada Adam “Wahai Adam Aku telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung tapi mereka tak sanggup mengembannya. Apakah kamu sanggup menerima dan melaksanakannya?” Lalu Adam menjawab, “Ya Rabbi, sebelumnya Aku ingin tahu Apakah amanah itu??”

Allah menjawab: (In Ahsanta Juzziyat wain Asa’ta ‘uqibat)

Artinya:

Jika Kamu Sanggup Melakukan yg baik sebagaimana sesuatu itu semestinya maka Allah Akan membalasnya dengan yang terbaik pula dan jika kamu melakukan kejahatan maka Allah akan membalasnya dengan azab yang setimpal dgn kejahatan tersebut (sumber Tafsir ibnu katsir, tafsir Qurthubi, tafsir ibnu Sa’di).

Dari penjelasan ibnu Abbas dapat kita katakan bahwa amanah itu sama dgn makna wajib, yaitu suatu pekerjaan bila dikerjakan berpahala dan bila ditinggalkan berdosa dan akan disiksa.

Oleh karena itu, mari kita sadari betapa besar ancaman Allah bagi orang-orang yang menyelewangkan amanah. Setiap kita adalah pemimpin yang dititipkan amanah oleh Allah SWT, mulai dari pimpinan rumah tangga hingga pimpinan negara. Sebuah rumah tangga akan hancur berantakan manakala ayah, ibu, atau anak tidak memenuhi amanah yang telah menjadi kewajiban mereka masing-masing. Masyarakat dan negara juga akan hancur, apabila para pemimpin, mulai dari ketua RT, kepala desa, camat, bupati/walikota, gubernur, presiden, atau juga para wakil rakyat, tidak menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya. Tentu hal ini akan semakin runyam ketika rakyatnya pun tidak amanah dalam menjalankan fungsinya untuk mengingatkan pimpinannya dengan cara amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Itulah sebabnya Nabi Muhammad mengingatkan kita tentang beratnya mengemban amanah ini. Diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu, ia berkata:

“Wahai Rasulullah jadikanlah saya sebagai pemimpin, maka Rasulullah menepuk pundaknya sambil berkata: Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah dan kepemimpinan itu adalah amanah, dia di hari kiamat nanti merupakan penyesalan dan kesedihan, kecuali yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan semua kewajiban di dalamnya.” (HR. Muslim).

Tanggung jawab yang diemban oleh seorang pemimpin itu berat, maka dibutuhkan personalitas yang kuat untuk memikulnya. Maka Sungguh sangat sulit untuk menjalankan amanah ini sebagaimana mestinya kecuali mereka para pemimpin yang bijaksana (memiliki hikmah).

Kata amanah tidak bisa dipisahkan dengan kata Hikmah. Kata hikmah berulangkali disebutkan oleh Allah dalam Al Quran. Ini memberikan isyarat kepada kita bahwa Hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ketika seorang pemimpin tau meletakkan sesuatu pada tempatnya maka ia telah melaksanakan amanah.

Sekali lagi, amanah itu tidak ringan. Itulah sebabnya, langit dan bumi pun menolak ketika akan diberi amanah oleh Allah. Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh” (QS. Al-Ahzab: 72).

Kepemimpinan yang diberikan oleh Allah kepada manusia ini melalui dua bentuk:

Pertama, kelebihan/ kedudukan yang diberikan oleh Allah tidak melalui proses atau sebab.

Seseorang menjadi pemimpin langsung dipilih oleh Allah tanpa campur tangan manusia seperti Nabi dan Rasul.

Kedua, kelebihan/kedudukan seseorang menjadi pemimpin karena ada sebab, yaitu dipilih oleh rakyat dibarengi dengan usahanya yang maksimal, menyampaikan program program terbaik dalam kepemimpinannya serta menjanjikan sesuatu yang dapat menarik perhatian rakyat sehingga rakyat memilihnya.

Sebagaimana firman Allah swt:

Sebahagian dari mereka (munafiq) berjanji kepada Allah seandainya kami diberi oleh Allah kelebihan (harta, Jabatan dll yg serupa) kami benar benar akan bersedaqah (memperhatikan dhuafa, memperbaiki ekonomi rakyat menegah kebawah dll) dan kami benar benar akan menjadi org yg baik. ( at taubah: 75)

Inilah janji janji seorang pemimpin sebelum ia mengemban amanah. Akan tetapi sesudah amanah tersebut berada dalam genggamannya, ia lupa kepada janji janjinya dan tidak melaksanakan amanah sebagaimana mestinya.

Kelompok inilah yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang yang memiliki tanda-tanda kemunafikan, karena mereka suka berkhianat atas amanah yang diberikan kepadanya. Abu Hurairah radhiyallahu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 “Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”(Muttafaq Alaihi).

Dalam hadis yang lain Rasulullah memperkuat bahwa amanah adalah tanda keimanan seorang Muslim. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda:

Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji.”(HR. Ahmad).

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda:

“Empat hal, barang siapa dalam dirinya ada empat hal tersebut, dia munafik murni, dan barang siapa yang ada sebagian dari sifat itu, dia memiliki sebagian sifat nifak hingga dia meninggalkannya. Yaitu: Jika dipercaya khianat, jika berbicara bohong, jika berjanji ingkar dan jika bermusuhan (berseteru) dia berlaku curang”.(H.R. Bukhari dan Muslim).

Dari beberapa hadits diatas dapat kita simpulkan bahwa penyelewengan amanah identik dengan NIFAK. Barang siapa yang tdk menunaikan amanah sebagaimana mestinya maka orang tersebut telah disediakan oleh Allah azab yang kekal di dasar neraka jahannam.

Firman Allah swt:

Orang orang Munafik tempat mereka di neraka yg paling bawah dan mereka tidak akan mendapat pertolongan” (An Nisa: 145)

Dari ayat-ayat di atas, dapat dipahami bahwa pemimpin yang melaksanakan amanah sesuai dengan hikmah dia akan dihormati, disegani dan merasa nyaman bebas dari berbagai macam fitnah dan ketakutan. Wallahu a’lam.

Khatib Bupati Aceh Besar periode 2007-2012  dan Tenaga Pengajar Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh.   

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!