MENJAGA KEUTUHAN BANGSA

GEMA JUMAT, 10 AGUSTUS 2018

Oleh : Kolonel Caj Dr Ahmad Husein, MA (Khatib Staf Ahli Pangdam IM Bidang Hukum dan Humaniter.)

Saat ini kita berada di bulan Agustus tepatnya tanggal 10 Agustus 2018 M, bulan yang khusus bagi bangsa Indonesia, sebagai bulan yang menandai turunnya baraqah Allah atas bangsa Indonesia, dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, atau 73 tahun yang lalu. Disaat memperingati lahirnya suatu bangsa adalah saat yang tepat bagi segenap warga Negara untuk merefleksi kembali perjuangan para pahlawan kesuma bangsa yang telah mewariskan kemerdekaan bangsa bagi anak cucunya. Refleksi dimaksud adalah untuk mengokohkan semangat kebangsaan agar tidak tergerus oleh derasnya arus modernisasi dan tenggelam ditelan waktu yang tak bisa dihentikan.

Sebagai bahan renungan dalam merefleksikan rasa syukur kita atas kemerdekaan bangsa Indonesia, khatib mengajak jama’ah dan hadirin untuk mendalami salah satu ajakan Allah agar kita tetap bersatu dan bersinergi dalam ridha dan rahmat dari Allah swt. Allah mengingatkan ini melalui Surah Ali Imran Ayat 103  :

Artinya:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S.Ali Imran:103).

Menyimak ayat di atas tentu tidak dipahami secara harfiyah semata dalam teks etimologis saja, melainkan kita memahaminya secara kontekstual terminologis, sehingga ayat yang teksnya ditujukan ke masa lampau di era Jahiliyah dapat kita pahami dalam konteks kekinian, yang dapat dijelaskan bahwa Allah mengingatkan tentang kondisi masa lalu. Bukankah masa lalu Indonesia yang disebut nusantara itu penuh dengan dinamika ketercerai beraian kehidupan umat ? masyarakat nusantara ketika itu, hidup dalam kotak-kotak pemerintahan yang dibatasi oleh teritori kerajaan-kerajaan nusantara. Ada kerajaan Lamuri di Aceh, kerajaan Sriwijaya di Palembang, Hayamwuruk memimpin di Jawa, kerajaan Hindu Kutai Kartanegara di Kalimantan, hingga ke belahan Timur di Papua. Semuanya hidup menurut versi masing-masing.

Keadaan seperti ini laksana kehidupan yang bercerai berai, kehidupan yang lemah dan mudah ditaklukkan musuh. Faktanya, bangsa Eropa yang ingin menjajah dengan mudah masuk ke nusantara dan menajamkan perbedaan yang ada diantara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya, satu wilayah dengan wilayah lainnya. Seakan kehidupan masyarakat nusantara ketika itu penuh dengan permusuhan, yang di dalam ayat di atas disebut seperti hidup dipinggir jurang neraka. Betapa tidak, masyarakat yang sesungguhnya serumpun “astronesia” atau melayu diadudomba sehingga terjadi perumusuhan, dendam dan peperangan. Sementara kaum penjajah bertepuk tangan dan memanfaatkannya untuk menambang hasil bumi nusantara untuk dibawa ke negerinya. Itulah sekelumit masa lalu yang buram dari perjalanan kehidupan nusantara di masa lampau.

Kemudian Allah mengingatkan bahwa ada nikmat besar yang diberikan Allah kepada ummat manusia, wabil khusus bagi bangsa Indonesia, yaitu ajaran Islam yang merangkak pasti menyusup ke relung-relung hati generasi bangsa ini. Agama yang mengajarkan bahwa kehidupan sebagai sebuah bangsa adalah bentuk kehidupan umat manusia dengan segala keragamannya harus hidup berdampingan. Sebagaimana disebut dalam ayat Ali Imran di atas, Islam adalah agama yang tidak mentolerir permusuhan yang dapat mencerai beraikan kehidupan ummat. Islam memandu kita untuk membangun kehidupan yang rukun dalam perbedaan, saling menghormati dalam keragaman serta membangun ketakwaan dalam menjalankan kehidupan kebangsaan. Allah SWT berfirman:

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S.al-Hujuraat:13)

Ayat ini menggambarkan bahwa kebhinnekaan dan keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, apakah itu budaya, bahasa, tradisi, watak, sifat dan sebagainya, tidak serta merta harus dipandang dari sudut negatifnya. Ciptaan Allah di muka bumi penuh dengan keaneka ragaman yang melahirkan nilai keseimbangan. Allah mengingatkan bahwa ciptaan-Nya adalah sebuah system “berpasang-pasangan”, ada laki-laki pasangannya perempuan, ada gelap malam ada terang benderang di siang hari dan seterusnya. Indonesia yang diciptakan Allah sebagai sebuah bangsa besar, yang sangat luas, penuh keanekaragaman, hidup dalam dinamika perbedaan, namun juga tetap dalam koridor kebersamaan. Sebab keaneka ragaman itu adalah “sunnatullah” yang harus diikuti oleh alam semesta.

Memahami ayat al-Hujuraat 13 akan sangat dekat dengan kondisi bangsa Indonsia yang terdiri dari 500 lebih suku bangsa, 700 lebih bahasa yang hidup di atas 17.000 lebih pulau-pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Alamnya yang kaya didukung dengan musim tropis yang mewarnai musimnya, menambah lengkap kekayaan alam yang dianugerahkan Allah kepada bangsa Indonesia.

Berdasarkan sejarah perjalanan kehidupan masyarakat nusantara, dapat dilihat betapa besarnya tiupan ruh Islam dalam kehidupan masyarakat dalam segala aspeknya. Misalnya; bersatunya suku bangsa dalam ikatan ke-Indonesia-an adalah tiupan ajaran Islam yang mengajarkan agar semua bersatu padu dalam ikatan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah nasabiyah dan ukhuwah insaniyah.  Khusus, ukhuwah wathaniyah kita sering diingatkan dengan kata: “Cinta tanah air adalah sebahagian dari tanda orang beriman. Contoh lain; dalam bidang bahasa, dari 700 lebih bahasa di nusantara, kita disatukan dalam bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia.

Lebih jauh melihat ke dalam kosa kata bahasa Indonesia, akan terlihat bahwa bahasa Indonesia sebahagiannya berasal dari bahasa Arab, bahasanya para dai dan pengembang Islam di nusantara. Lihat saja kata “Dewan Perwakilan Rakyat” berasal dari kata “Diwan, wakila dan ra’iya” ketiganya adalah bahasa Arab. “hukum, hakim, manusia, insan, lahir, batin, abu, ummi, perlu dari kata pardhu, fakir, miskin, khilaf dan sebagainya. Cukuplah ini menjadi bukti bahwa ruh Islam telah menjalar tajam dalam dinamika kehidupan nusantara hingga bangsa ini diproklamasikan sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dan diakui oleh para pendirinya sebagai sebuah anugerah dari Allah swt.

Kewajiban kita sekarang adalah menjaga dan memelihara semua nikmat yang diberikan Allah kepada kita bangsa Indonesia, terutama nikmat persatuan dan kesatuan, yang telah memadukan setiap perbedaan menjadi dinamika kehidupan sebagai bangsa yang prular dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Bila kita lengah dalam memelihara, menjaga dan memanfaatkan kondisi ini, boleh jadi pihak-pihak yang ingin menguasai dan menikmati kekayaan Indonesia, akan datang dari sisi perbedaan ini. Mereka akan memecah kekuatan persatuan dan kasatuan umat Islam khususnya serta akan membenturkan antar kekuatan yang ada dalam masyarakat, lalu memecah belah bangsa hingga menjadi kekuatan yang kecil dan mudah ditaklukkan. Oleh karena keutuhan bangsa dan Negara, sudah sesuai dengan tuntutan al-Qur’an dan contoh yang ditampilkan Nabi Muhammad saw dalam Piagam Madinah yakni menyatukan perbedaan dalam ikatan kesatuan pemerintahan bangsa dan Negara, maka menjaga keutuhan bangsa dan Negara menjadi tanggungjawab setiap warga Negara Indonesia.

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!