Mensyukuri al-Wahid

Muhasabah 24 Muharam 1440

Saudaraku, menurut iman dalam Islam, Allah adalah zat Yang Maha Pertama, zat Yang Maha Nomor Satu; zat Yang Maha Esa, maka etikanya kita harus benar-benar menomorsatukan Allah dalam hidup dan kehidupan ini. Apa maknanya?

Di antaranya, orientasi dan tujuan hidup kita sebagai seorang muslim yang mukmin menjadi sangat jelas, yaitu (menggapai keridhaan) Allah swt Bahkan dalam konsep sufisme Islam, dikatakan bahwa yang benar-benar Ada itu ya hanya Satu yaitu Allah saja. Adapun keberdaannya selainNya karena diadakan atau diciptakan oleh Allah Yang Maha Satu. Makanya ada ajaran kesatuan wujud, wahdatul wujud atau wujudiyah. Segala yang ada ini nisbi, kecuali Allah swt.

Untuk meneguhkan bahwa Allah nomor wahid, urutan pertama, maka tema muhasabah hari ini kita akan mengulangkaji tentang keberkahan mensyukuri salah satu asmaul husnaNya Allah yang relevan dengan Allah yang maha satu, yaitu Al-Wahid.

Al-Wahid dipahami bahwa Allah maha pertama, esa, Allah itu Satu maka harus dinomorsatukan, dan menjadi tidak etis bila dikudiankan neskipun dengan alasan apapun juga.

Allah berfirman dalam Al-Quran yang artinya Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ”Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Allah yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antaranya mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Qs. Al-Maa’idah 73)

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertaruhkan) Al-masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Allah yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Qs. Al-Taubat 31)

Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Allah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (Qs. Al-Hajj 34)

Oleh karena itu, kita harus mengembangkan sikap mensyukuri al-Wahid, baik dengan hati, lisan maupun dengan perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri al-Wahid di hati dengan meyakini bahwa Allah maha esa, yang harus diesakan. Allah maha satu yang harus dinomorsatukan. Allah maha tunggal yang tidak boleh diduakan.

Kedua, mensyukuri al-Wahid secara lisan dengan mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin dan memuji dengan asmaNya.

Ketiga, mensyukuri al-Wahid dengan perbuatan nyata, seperti menempatkan harta, tahta dan wanita/keluarga pada posisinya dengan tetap menomorsatukan Allah. Jadi Allah tetap menjadi yang pertama dan utama, sehingga harus dinomorsatukan dan diutamakan.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!