Mensyukuri Gurauan

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 11 Zulkaidah 1439

Saudara, kita tidak bisa membayangkan dalam mengarungi hidup dan kehidupan bila tidak ada yang namanya lelucon atau humor atau kejenakaan atau sendau gurau. Hal-hal yang mengundang gelak tawa merupakan salah satu sarana memperoleh kesenangaan dan pelipur lara. Bahkan dalam dunia dakwah dan pendidikan, kejenakaan diperlukan sebagai salah satu teknik dalam penyampaian pesan atau materi ajar sehingga mudah dipahami dan tidak membosankan.

Karena ada dan sangat penting maka Islam mengaturnya. Keberadaan dan pentingnya persendagurauan seperti keberadaan dunia ini atas akhirat. Ia sementara, tidak selama-lamanya, dan lebih merupakan sarana bukan tujuan. Allah berfirman Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?(Qs. Al-An’am 32)

Para ulama juga sering menyampaikan bahwa Rasulullah saw juga memiliki rasa humor yang tinggi. Cerita yang lazim disampaikan saat seorang nenek mengadu tentang nasibnya di akhirat dengan bertanya tentang peruntukan surga untuk kaum laki-laki saja. Dan Rasulullah menjawab bahwa nenek-nenek tidak ada di surga nanti. Rupanya jawaban itu membuat sedih, tetapi kemudian dijelaskan dengan membaca al-Qur’an, Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung. Lalu Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Yang penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqi’ah 35-37).

Bahkan saat sakit jelang wafatnyapun, Rasulullah masih sempat bercanda dengan Aisyah isteri yang memangkunya dengan menyampaikan “sepertinya adinda duluan yang akan meninggal, karena saya yang sakit tetapi adinda yang mengaduh”.

Oleh karena itu sudah seharusnya kita mensyukuri persendagurauan.

Pertama, meyakini bahwa persendagurauan ada batas, saat dan tempatnya. Oleh karena itu kehati-hatian dan kearifan sangat penting agar tidak kebablasan saat bercanda.

Kedua, mensyukurinya dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillah, Allah menyediakan segala yang dihajadkan demi kebahagiaan manusia, termasuk mengaruniai rasa suka akan kejenakaan.

Ketiga, mensyukuri persendagurauan dengan perbuatan nyata. Dalam hal ini Listya Istiningtyas memberikan rambu-rambu sebagai berikut: Pertama, tidak menjadikan simbol-simbol Islam (tauhid, risalah, wahyu dan dien) sebagai bahan gurauan. Firman Allah: “Dan jika kamu tanyakan mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS. al-Taubah 65)

Kedua, tidak melakukan kebohongan dan mengada-ada sebagai alat untuk menjadikan orang lain senang atau tertawa. Sabda Rasulullah saw: “Celakalah bagi orang yang berkata dengan berdusta untuk menjadikan orang lain tertawa. Celaka dia, celaka dia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Hakim).

Ketiga, candatawanya tidak mengandung penghinaan, meremehkan dan merendahkan orang lain.Firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. al-Hujurat:11).

Keempat, candatawanya tidak menimbulkan kesedihan dan ketakutan orang lain. Sabda Nabi Muhammad saw: “Tidak halal bagi seseorang menakut-nakuti sesama muslim lainnya.” (HR. al-Thabrani.) “Janganlah salah seorang di
antara kamu mengambil barang saudaranya, baik dengan maksud bermain-main maupun bersungguh-sungguh.” (H R. Tirmidzi)

Kelima, tidak bergurau dalam urusan yang serius dan tertawa dalam urusan yang
sedih.Tiap-tiap sesuatu ada tempatnya, tiap-tiap kondisi ada (cara dan macam) perkataannya sendiri. Allah mencela orang-orang musyrik yang tertawa ketika mendengarkan Al-Qur’an padahal seharusnya mereka menangis, lalu firman-Nya :”Maka apakah kamu merasa heran terhadap
pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkannya.” (QS. al-Najm:59- 61).

Keenam, tidak berlebihan dan keterlaluan dslam berndaugurau. Dalam hal ini Rasulullah memberikan batasan dalam sabdanya; Janganlah kamu banyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” (H R. Tirmidzi). Dan berilah humor dalam perkataan dengan ukuran seperti Anda memberi garam dalam makanan.”(Ali ra.).

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!