MERAWAT PERSATUAN

GEMA JUMAT, 14 DESEMBER 2018

Khatib: Dr. H. Badrul Munir, LC, MA (D.E.S.A.)

Diantara keistimewaan ajaran Islam adalah adanya seruan kepada penganutnya untuk menjaga serta merawat persaudaraan dan persatuan antara saudara sesama manusia, sesama seakidah dan sebangsa. Allah Swt. berfirman dalam Al Quran; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat: 13)

Ayat diatas menjelaskan bahwa kehidupan manusia yang berbeda-beda bangsa, suku dan ras adalah atas kehendak Allah Swt. dengan salah satu tujuannya agar manusia dengan berbagai latar belakang bangsa, suku, dan ras dapat saling mengenal satu sama lain yang kemudian saling memahami, tolong-menolong dan saling menebar kebaikan serta saling memberikan mamfaat. Dengan demikian tercapailah salah satu tujuan Allah Swt. menciptakan manusia sebagai khalifah agar tercipta kehidupan yang makmur dan damai di muka bumi.

Lebih khusus bagi umat Islam, Allah Swt. dengan tegas mengingatkan dalam Al Quran bahwa persatuan dan persaudaraan adalah salah satu karunia terbesar dari Allah Swt. kepada orang orang beriman yang harus dijaga dan dirawat secara bersama. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Al Quran: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran:103)

Ayat diatas menjelaskan bahwa persatuan adalah salah satu karunia terbesar yang Allah Swt.  berikan kepada orang-orang beriman. Betapa tidak, persatuan menjadi kunci atas tercapainya berbagai kebaikan besar lainnya bagi kehidupan manusia. Dengan adanya persatuan dan persaudaraan yang kuat maka hadirlah rasa aman ditengah-tengah manusia, ketika keamanan tercipta maka ekonomi pun akan tumbuh subur, berikutnya kemakmuran suatu masyarakat pun dengan mudah dapat tercapai. Sebaliknya, bila pertikaian dan konflik terjadi dan terus berlanjut, maka semua kebaikan akan terhenti. Tidak adanya keamanan yang membuat kehidupan suatu masyarat terasa mencekam, pertumbuhan ekonomi meredup, berikutnya kemakmuran hanya ada dalam angan-angan tanpa pernah bisa terwujud.

Oleh karena itu prilaku prilaku yang berpotensi menimbulkan pertikaian dan perpecahan diantara sesama ummat dilarang dan sangat dicela oleh Islam. Karena hal tersebut akan sangat membahayakan dan melemahkan ummat.  Hal ini sebagaimana tersebut dalam Al Quran: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(Al Anfal:46)

Dari beberapa ayat diatas dengan jelas terlihat Islam memandang bahwa persatuan sangat penting bahkan menjadikannya sebagai salah satu tujuan utama daripada syariat islam (maqashid syariah). Hal ini karena tanpa adanya persatuan dan persaudaraan yang kuat akan sulit terwujud sebuah ummat yang besar nan kokoh serta berperadaban tinggi.

Keutamaan Menjaga Persatuan dan Kedamaian

Menjaga persatuan dan kedamaian adalah kewajiban

Bagi seorang muslim merawat persatuan dan menghadirkan kedamaian adalah sebuah kewajiban. Islam menuntut agar setiap muslim menjadi agen persatuan dan kedamaian dimanapun dia berada. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al Quran: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (Al Hujurat: 10)

Ayat ini mengandung perintah bagi setiap muslim untuk mendamaikan saudara-saudaranya bila terjadi perselisihan dan pertikaian diantara mereka. Sebaliknya tidak dibolehkan membiarkan potensi pertikaian dan perpecahan timbul ditengah ummat tanpa ada usaha bagi seorang muslim untuk menyelesaikannya. Ini juga bermakna, bahwa seorang mukmin yang baik harus bersifat netral dan tidak boleh fanatik terhadap suatu paham dan kelompok. Tanpa sifat netral tentunya ia akan sulit menyelesaikan menyelesaikan pertikaian yang terjadi antara saudara-saudaranya.

Menjaga  kedamaian dan persatuan adalah tugas mulia para rasul

Diantara tujuan utama Allah Swt. mengutuskan para Rasul-Nya adalah untuk memperbaiki, mendamaikan dan mempersatukan setiap umat yang mereka pimpin. Dalam Al Quran banyak kita dapatkan kisah-kisah bagaimana para Rasul seperti Nabi Daud dan Sulaiman misalnya begitu teliti dan piawai dalam menyelesaikan pertikaian dan perselisihan yang terjadi antara personal maupun antar kelompok dalam kaumnya. Allah Swt. menyebutkan dalam Al Quran pernyataan Nabi Syu’ib tentang tujuannya berdakwah bagi kamunya.

“Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan (ishlah)selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Hud: 88)

Banyak terdapat kata-kata islah dalam Al Quran, hampir semua kata-kata itu digunakan untuk menunjukkan makna memperbaiki, melerai, menyelesaikan pertikaian dan perselisihan. Adapun keberhasilan rasulullah saw. dalam mempersatukan sahabat-sahabatnya sangat jelas dan terbukti. Rasulullah saw. berhasil mempersatukan antara kaum Muhajirin dan Anshar dan mempersaudarakan antara mereka melebihi saudara kandung. Sebagaimana Rasulullah juga berhasil mempersatukan penduduk Madinah dengan penduduk Makkah dalam Fathu Makkah menjadi satu pasukan yang sangat solid dan kuat dengan pasukan ini kemudian Rasulullah saw. berhasil memperoleh kemenangan dalam perang Hunain.

Merawat kedamaian dan persatuan adalah amalan paling utama dalam Islam

Begitu besarnya perhatian Islam terhadap persatuan hingga Islam menjadikan usaha seorang muslim untuk mendamaikan antara saudaranya yang bertikai sebagai sebuah amalan yang nilaiya lebih tinggi daripada shalat, puasa dan sedekah. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah saw.:“Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu amalan yang lebih utama dari derajat mereka yang berpuasa, shalat, dan bersedekah?”Sontak para sahabat pun langsung menjawab “Tentu wahai Rasulullah.” Rasul pun segera melanjutkan perkataannya “(ialah) mendamaikan dua pihak yang berselisih. Karena sesungguhnya kerusakan dari perselisihan dapat memotong (menghancurkan) segala-galanya. Bukan memotong rambut, tetapi memotong (mengahancurkan) agama. (HR. Tirmizi).”

Tentunya kita tahu betapa besar pahala ibadah, puasa dan sedekah, bahkan shalat dan puasa adalah dua daripada rukun Islam lainnya. Namun disini Rasulullah saw. menegaskan ada amalan lain yang lebih besar pahalanya yaitu usaha mendamaikan orang-orang yang berselisih dan menciptakan persatuan..

Perbedaan itu alami, mausiawi dan modal bagi kemajuan manusia

Salah satu bentuk sunnatulah di alamnya adalah Allah ciptakan makhluknya berpasang-pasang, dalam bentuk yang berbeda-beda dan beragam. Tak terkecuali manusia, begitu banyak perbedaan terjadi diantara sesama manusia yang tidak bisa dihindari karena memang demikian tujuan Allah menciptakan mereka. Allah berfirman: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”(Hud:118)

Ayat diatas menjelaskan bahwa sudah menjadi watak dan tabiat manusia untuk suka berbeda dengan sesamanya. Banyaknya perbedaan yang terjadi ini timbul dari bedanya pola dan cara berfikir manusia itu sendiri yang disebabkan oleh karunia besar yang Allah Swt. berikan kepada mereka yang tidak Allah berikan kepada mahkluk lainnya yaitu akal. Dengan akal lah kemudian manusia berfikir.

Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan bahwa perbedaan yang terjadi antara manusia ssebagaimana tersebut dalam ayat diatas adalah perbedaan agama. Namun dalam kitab tafsir Al Tahrir Wa Al Tanwir Ibnu Asyur memberikan penjelasan menarik tentang ayat diatas. Ia menjelaskan bahwa perbedaan yang dimaksudkan oleh ayat diatas adalah perbedaan cara berifikir manusia yang lahir dari akal mereka (uqul basyariah).

Ibu Asyur juga menjelaskan bahwa perbedaan cara berfikir inilah pada hakikatnya membuat manusia mengugguli makhluk Allah Swt. yang lain. Seandainya Allah membuat manusia semua sama cara berfikir dan gaya hidupnya, maka manusia akan sama tingkat kehidupannya dengan makhluk yang lain seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kibas yang hidup pada masa nabi Adam masih sama dengan kibas yang hidup hari ini. Onta yang hidup pada masa nabi Shaleh masih sama dengan onta yang hidup saat ini. Demikian juga pohon kurma yang tumbuh pada masa Siti Maryam masih sama dengan pohon kurma yang tumbuh saat ini.

Hal ini tentunya jauh berbeda dengan kehidupan manusia. Cara hidup manusia pada masa nabi Adam dengan manusia hari ini tidak sama lagi, tapi sangat jauh sekali berbeda. Apalagi untuk saat ini, hanya beselang satu tahun saja kehidupan manusia bisa mengalami perubahan yang sangat drastis. Kondisi ini tidak lain dan tidak bukan adalah disebabkan oleh cara, gaya dan tingkat berfikir manusia yang berbeda-beda yang lahir dari akal yang Allah Swt. berikan kepada mereka. Dari sinilah perubahaan itu terjadi dan dari sinilah pondasi peradaban manusia itu dibangun. Maka perberdaan itu adalah hal yang sangat alami, manusiawi dan modal peradaban manusia.

Namun disisi yang lain tidak jarang pula perbedaan yang terjadi diantara manusia menimbulkan masalah besar bagi manusia itu sendiri. Sejarah di berbagai belahan dunia mengajarkan kepada kita betapa mengerikan perbedaan yang tidak terkendali dan terkontrol dengan baik antara sesama manusia.  Konflik, pertikaian, dan peperangan antar agama, suku dan etnis bahkan sesama umat Islam itu sendiri yang berakhir dengan pertumpahan darah kerap terjadi disebabkan oleh egoisme perbedaan. Hal ini justru menjadi senjata makan tuan bagi manusia, menghambat kemajuan dan memporak-porandakan peradaban yang sudah terbangun dengan baik.

Cara Rasulullah Menyikapi Perbedaan

Rasulullah saw. adalah contoh terbaik dalam menciptakan persatuan. Ia berhasil membangun persaudaraan yang sangat solid diantara sahabat-sahabatnya. Padahal sebagaimana kita ketahui sebelum kehadiran Rasulullah saw. kehidupan mereka orang orang Arab sangat kental dengan fanatisme terhadap suku atau ras, bahkan peperangan antara mereka telah menjadi hal biasa dalam kehidupan sehari hari demi mempertahankan ego antar suku dan ras. Pembunuhan dan pertumpahan darah pun tak terelakkan.

Begitu Rasulullah saw. hadir di tengah tengah mereka, Rasulullah saw. berhasil menghilangkan sekat sekat suku dan ras dan mereka dipersatukan dibawah panji Islam. Perstuan yang sudah terbentuk itu kemudian terus Rasulullah saw. jaga hingga beliau wafat.Tentu hal ini tidak mudah bagi Rasulullah saw., banyak usaha dan upaya yang telah Rasulullah saw. lakukan sehingga tercapai kebehasilan besar ini. Berikut beberapa cara Rasulullah saw. menyikapi perbedaan sehingga persatuan tetap terawat dengan baik.

  1. Insting yang tajam terhadap potensi perpecahan

Rasulullah memiliki insting yang cukup kuat terhadap potensi-potensi yang bisa saja mengakibatkan perpecahan besar di kalangan sahabat-sahabatnya.Tidak hanya disisi perilaku, tetapi sampai pada istilah bahkan setiap kata yang digunakan oleh sahabat-sahabatnya sangat diperhatikan oleh Rasulullah saw.. Bila berpotensi memberi ruang perpecahan maka Rasulullah saw, tidak segan-segan secara langsung menegur dan meluruskannya.

Hal ini sebagaimana pernah terjadi, suatu ketika terjadi perbedaan pandangan antara sahabat Muhajirin dan Anshar, dimana masing-masing saling berbangga dengan kelebihannya hingga menyulut ego antara beberapa orang dari kedua belah pihak, hingga terengar ungakapan provokatif dari beberapa orang dari pihak Anshar “Wahai kaum Anshar mari kita bersatu, mari kita bergerak ke Harrah (medan perang).” Dari beberapa orang di pihak Muhajirin juga keluar kata-kata yang sama. Suasanapun menjadi mencekam. Dalam waktu seketika Rasulullah saw. bangun dan menegaskan, “Apakah kaliah masih suka menggunakan cara-cara jahiliah, sedangkan aku masih berada dihadapan kalian?”. Kemudian Rasulullah saw. menasehati dan menyadarkan mereka hingga air mata penyesalan pun tak tertahankan dari para sahabat Rasulullah maupun Anshar.

  1. Bergerak cepat meleraikan perpecahan

Salah satu konsep yang membuat Rasulullah saw. berhasil dalam menjaga persatuan di kalangan sahabat-sahabatnya adalah merespon dengan cepat setiap kegaduhan yang terjadi di kalangan sahabat-sahabatnya. Rasulullah saw. tidak pernah membiarkan potensi perpecahan berlarut-larut tanpa adanya penyelesaian cepat, karena hal ini dapat mengancam keutuhan ummat yang lebih besar. Hal ini sebagaimana terjadi dalam proses pembagian ghanimah setelah perang Hunain. Dimana ketika ghanimah perang Hunain dibagikan semuanya kepada para Muallaf daripada ummat Islam di Makkah, sahabat-sahabat Anshar yang juga ikut berperang bersama Rasulullah saw. tidak mendapatkan ghanimah.

Ketika itu timbullah rasa ketidak adilan di beberapa orang kalangan sahabat Anshar, ungkapan-ungkapan kekecewaan pun mulai timbul. Begitu Rasullah saw. mendapat laporan terhadap apa yang terjadi, Rasulullah saw. langsung bergerak cepat mengumpulkan sahabat Anshar dan menyelesaikan persoalan tersebut, hingga kemudian masalah itupun selesai dengan sangat baik dan bijaksana. Dimana kemudian para sahabat Anshar memahami betul alasan Rasulullah saw. memberikan ghanimah seluruhnya kepada kaum muslimin muallaf di Makkah.

Berkomunikasi secara langsung dengan pihak yang bertikai

Konsep lain dari keberhasilan Rasulullah saw. dalam merawat persatuan adalah cara berkomunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai atau pihak yang merasa tidak mendapatakn keadilan. Dari kisah diatas tentang masalah pembagian ghanimah setelah perang Hunain, dapat kita lihat Rasulullah saw. langsung bergerak mengumpulkan sahabat-sahabat Anshar kemudian Raslulullah datang berhadapan langsung dengan mereka berbicara dari hati ke hati. Isi pembicaraan ini diriwayat oleh Imam Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri ra..

Ketika Rasulullah saw. mulai membagi-bagikan ghanimah kepada beberapa tokoh Quraisy dan kabilah ‘Arab; sama sekali tidak ada dari mereka satu pun yang dari Anshar. Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang mengatakan: “Rasulullah saw. sudah bertemu dengan kaumnya kembali.”

Kemudian masuklah Sa’d bin ‘Ubadah menemui Rasulullah saw., katanya: “Wahai Rasulullah. Orang-orang Anshar ini merasa tidak enak terhadap anda melihat apa yang anda lakukan dengan harta rampasan yang anda peroleh dan anda bagikan kepada kaummu. Engkau bagikan kepada kabilah ‘Arab dan tidak ada satu pun Anshar yang menerima bagian.”

Rasulullah saw. bertanya: “Engkau sendiri di barisan mana, wahai Sa’d?”

Katanya: “Saya hanyalah bagian dari mereka.”

Kata Rasulullah: “Kumpulkan kaummu di tembok ini.”

Lalu datang beberapa orang Muhajirin tapi beliau biarkan mereka, dan mereka pun masuk. Datang pula yang lain, tapi beliau menolak mereka. Setelah mereka berkumpul, Sa’d pun datang, katanya: “Orang-orang Anshar sudah berkumpul untuk anda.”

Rasulullah saw. pun menemui mereka, lalu beliau memuji Allah Swt. dan menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau bersabda: “Wahai sekalian orang Anshar, apa pembicaraanmu yang sampai kepadaku? Apa perasaan tidak enak yang kalian rasakan dalam hati kalian? Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi hidayah kepada kamu melalui aku? Bukankah kamu miskin lalu Allah kayakan kamu denganku? Bukankah kamu dahulu bermusuhan lalu Allah satukan hati kamu?”

Kata mereka: “Bahkan Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi kebaikan dan keutamaan.”

Rasulullah saw. menukas: “Mengapa kamu tidak membantahku, wahai kaum Anshar?”

“Dengan apa kami membantahmu, wahai Rasulullah? Padahal kepunyaan Allah dan Rasul-Nya semua kebaikan serta keutamaan,” jawab orang-orang Anshar.

Kata Rasulullah   saw.: “Demi Allah, kalau kamu mau, kamu dapat mengatakan dan pasti kamu benar dan dibenarkan: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami yang membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan terhina, kamilah yang membelamu. Engkau datang dalam keadaan terusir, kamilah yang memberimu tempat. Engkau datang dalam keadaan miskin, kamilah yang mencukupimu. Apakah kalian dapati dalam hati kamu, hai kaum Anshar keinginan terhadap sampah dunia, yang dengan itu aku melunakkan hati suatu kaum agar mereka menerima Islam, dan aku serahkan kamu kepada keislaman kamu. Tidakkah kamu ridha, hai orang-orang Anshar, manusia pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke kampung halamanmu membawa Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan orang-orang Anshar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati lembah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar.”

Mendengar ini, menangislah orang-orang Anshar hingga membasahi janggut-janggut mereka, sambil berkata: “Kami ridha bagian kami adalah Rasulullah saw.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!