MEWUJUDKAN MASYARAKAT MADANI

Gema Jum’at, 5 Agustus 2016

Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA, (Rektor UIN Ar Raniry Banda Aceh)

Syukur al-hamdulillah Aceh sebagai bumi serambi mekkah ini mendapat kesempatan untuk melaksanakan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) sebagaimana Firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q. S. Al-Baqarah: 208)

Anugerah ini juga berdasarkan Undang-Undang (UU) No.44/1999 tentang Keistimewaan Aceh, UU No.18/2001 tentang Otonomi Khusus dan UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Undang-undang no. 44 tahun 1999 itu dikeluarkan setelah pertimbangan yang matang. malah pengeluarannya itu berdasarkan pasal 5 ayat (1), pasal 18, pasal 21 ayat (1) dan pasal 29 UUD 1945; juga undang-undang no. 25 tahun 1999. Bahkan UU-44 ini merupakan penjabaran lebih jelas tentang keistimewaan Aceh dari pasal 122 UU-22, dan sekaligus berfungsi sebagai mukhashish UU tersebut, sehingga masalah agama untuk Aceh sudah termasuk ke dalam masalah yang dapat di atur daerah, bukan lagi urusan pusat.

Masyarakat madani masyarakat kota;  masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yg ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yg berperadaban. Hal ini dapat kita cerdasi bersama¸ bagaimana Rasulullah Saw Membangun Masyarakat yang beriman dan bertaqwa yang menghasilkan barakah dan kesejahteraan dari langit dan bumi menuju ummah yang sempurna?”, sebagaimana firman Allah dalam QS. AL-Ahzab ; 21:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut dan mengingat Allah

Bangunan masyarakat yang beriman dan bertaqwa oleh Rasulullah diawali dengan hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun ke-11 kenabian atau tahun ke-1 hijriyah. Masyarakat negeri yang beliau wujudkan adalah masyarakat yang berbudaya dan berperadaban (bertamadun). Yatsrib yang artinya Kota Penyakit adalah nama tempat hijrah Nabi, tetapi setelah Nabi hijrah dan tinggal di tempat itu, nama Yatsrib oleh Rasulullah S.A.W diganti dengan nama Madinah. Artinya, Kota yang berbudaya, bertamaddun.

Untuk mewujudkan masyarakat madani yakni masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Allah, Rasulullah Saw, melakukan beberapa lanngkah strategis, yaitu di antaranya adalah:

Pertama, Memperkuat Ukhuwah Islamiyah. Persatuan umat adalah salah satu syarat taqwa yang sebenarnya (حَقَّ تُقَاتِهِ) disamping berpegang teguh kepada al-Quran (حَبْلِ اللهِ). Hal ini sebagaimana tercantum dalam Q.S. Ali Imran : 102 – 103.

 

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah sekal-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (102) dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan maka Allah menjinakan antara hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Ayat 103 ini memberikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan “sebenar-benarnya takwa (haqqa tuqatih) Serta ayat 102 yang menerangkan tentang larangan mati sebelum dalam keadaan Islam. Yaitu

berpegang teguh kepada tali Allah (al-Quran) dan tidak bercerai-berai. Yang dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai modal utama pembangunan masyarakat.

Yang kedua, Nabi Muhammad SAW membangun masjid di Madinah yang sekarang disebut sebagai Masjid Nabawy. Dari masjid itulah Nabi membina masyarakat dalam segala aspek kehidupan, keimanan dan ketaqwaan. Bahkan dari masjid itu pula nabi mengendalikan Negara Madinah. Nabi beristana di sana, angkatan perang juga dikonsentrasikan di sana, sekaligus sebagai Markas Besar Tentara Islam.

Yang ketiga, Mengganti nama Kota Yatsrib menjadi Madinah. Nama Madinah dipakai sebagai motivasi untuk masyarakat agar  menjadi masyarakat yang madani, yang maju, sejahtera, berbudaya dan berperadaban.

Yang keempat yang dilakukan oleh Nabi adalah Nabi menyadari bahwa masyarakat Madinah adalah masyarakat yang majemuk (bhineka), maka Nabi Saw membuat Piagam Madinah yang sangat terkenal sebagai undang-undang dasar pengaturan masyarakat yang majemuk tersebut. Majemuk dalam hal agama, budaya dan suku bangsa. Dalam masyarakat yang majemuk inilah diatur dan dikembangkan semangat kebersamaan dan toleransi (tasammuh) sebagai kunci keberhasilan pembangunan masyarakat madani.

Empat hal tersebut yang dapat kita ambil contoh/ uswah yang baik,  yang hasanah kalau kita ingin membangun masyarakat yang beriman dan bertaqwa yang memperoleh barakah dan kesejahteraan dari langit dan bumi, sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Q.S. al-A’araaf : 96 sebagai berikut:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Berbagai musibah yang menimpa bangsa dan masyarakat kita akhir-akhir ini kalau kita kembalikan kepada ayat tersebut adalah (mungkin) dikarenakan masyarakatnya kurang beriman dan bertaqwa, mungkin itu. Kemaksiatan dan kemungkaran banyak terjadi. Korupsi, perselingkuhan, porno-grafi, porno-aksi, narkoba, perjudian dan sebagainya.

Musibah yang merupakan siksaan dari Allah itu memang tidak hanya menimpa kepada orang yang bermaksiat saja, tetapi dapat tertimpa pula kepada seluruh masyarakat yang tinggal dalam lingkungan masyarakat yang penuh dengan kemaksiatan. Oleh karena itulah Islam mengajarkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Kalau terjadi kemaksiatan dan kemunkaran menjadi tanggungjawab bersama kita semua untuk mencegahnya dan memperbaikinya menjadi amal yang makruf, yang baik yang sesuai dengan tuntunan agama.

Allah S.W.T berfirman dalam Q.S. Ali Imron : 104

 “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah golongan orang-orang yang beruntung”.

Dakwah amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan secara aktif dengan mendatangi jama’ah. Ini mungkin sedikit kekeliruan kita yang harus dievaluasi. Dakwah kita selama ini menunggu jama’ah. Yang mau datang ke masjid, merekalah yang mendapat dakwah. Tapi yang tidak pernah datang ke masjid atau ikut pengajian tidak pernah dapat. Maka sesungguhnya dakwah yang strategis, yang tepat sesuai tuntunan al-Quran adalah kita datangi mereka.

Dalam Q.S. Ali Imran: 110 Allah S.W.T berfirman:

 “Kamu sekalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyaan mereka adalah orang-orang yang fasiq”.

Dalam ayat ini Allah SWT memberikan predikat kepada Umat Islam sebagai umat terbaik yang siap dikirim untuk keluar, untuk berdakwah menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar serta beriman kepada Allah. Jadi kesimpulan dari ayat ini saya kira bahwasanya kita harus merubah metode dakwah kita. Dari yang biasanya menunggu menjadi aktif mendatangi masyarakat dan mendakwahkan Islam.

Merujuk program pemerintah (Presiden Jokowi) saat ini dengan “revolusi mental” merupakan momentum sangat penting untuk melakukan perubahan menuju bangsa yang berperadaban dan berakhlak mulia. Pada zaman Presiden SBY ada program pendidikan karakter, Soeharto dengan program “Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4)” dan pada masa Rasulullah dengan revolusi akhlak.

Jadi, kata kunci terbentuknya masyarakat Madanî yang beradab dan maju adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya. Indonesia sejak tahun 1998 memasuki era transisi dengan tumbuhnya proses demokrasi. Demokrasi juga telah memasuki dunia pendidikan nasional antara lain dengan lahirnya Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana bidang pendidikan bukan lagi domain tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi diserahkan kepada tanggung jawab pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Undang–Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, yang lalu hanya beberapa fungsi saja yang tetap berada di tangan pemerintah pusat. Perubahan dari sistem yang sentralisasi ke desentralisasi akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang jauh di dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.

Selain perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi yang membawa banyak perubahan, juga di era demokrasi ini dituntut bagaimana untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan bebas abad ke-21. Kebutuhan ini ditampung dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, serta pentingnya tenaga guru dan dosen sebagai ujung tombak dari reformasi pendidikan nasional.

Sistem Pendidikan Nasional Era Reformasi yang diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 diuraikan dalam indikator-indikator akan keberhasilan atau kegagalannya, maka lahirlah Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang kemudian dijelaskan dalam Permendiknas RI.

Di dalam masyarakat Indonesia dewasa ini muncul banyak kritikan baik dari praktisi pendidikan maupun dari kalangan pengamat pendidikan mengenai pendidikan nasional yang tidak mempunyai arah yang jelas. Dunia pendidikan sekarang ini bukan merupakan pemersatu bangsa, tetapi merupakan suatu ajang pertikaian dan persemaian manusia-manusia yang berdiri sendiri dalam arti yang sempit, mementingkan diri dan kelompok. Hal tersebut disebabkan adanya dua kekuatan besar, terutama kekuatan ekonomi, dimana neoliberalisme pendidikan membawa dampak positif dan negatif. Positifnya, pendidikan berorientasi kualitas dan persaingan bebas. Negatifnya, tujuan pendidikan lantas didasarkan atas pertimbangan efisiensi, produksi, dan keuntungan komersial alias profit oriented, yaitu mencari keuntungan sebesar-besarnya terhadap investasi yang dilaksanakan dalam bidang pendidikan. Akhirnya terjadilah komersialisasi pendidikan. Hanya orang-orang berpunya saja yang bisa mengakses pendidikan. Padahal Rasulullah mengatakan:

Dari Anas bin Mâlik berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mencari ilmu itu kewajiban atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Mâjah)

Pesan Rasulullah di atas menegaskan ihwal tanggung jawaban pendidikan yang bersifat individu, atau dalam bahasa fiqih sebagai fardl ‘Ain, yang itu berarti bahwa setiap Muslim memikul tanggung jawab tersebut dan pada gilirannya menjadikan tanggung jawab bersama, dalam kaitan ini Negara. Dalam konteks inilah sejarah Islam telah membuktikan bagaimana penguasa-penguasa Muslim menjadikan pendidikan sebagai domain tanggung jawabnya, sehingga mereka berhasil mencetak peradaban madanî yang memberikan kontribusi luar biasa pada kesejahteraan ummat manusia.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!